Senin, 18 Mei 2026

Melon Premium dari Pesisir Probolinggo Laris, 2 Ton Lebih Habis dalam 2 Hari

Melon premium dari kawasan pesisir Paiton Probolinggo Jatim viral dan laris. Panen 2,2 ton habis dalam 2 hari lewat wisata petik.

Tayang:
Penulis: Ahsan Faradisi | Editor: Cak Sur
Surya.co.id/Ahsan Faradisi
PETIK MELON - Pengunjung Greenhouse Tanjoeng Farm saat memetik melon hidroponik di Desa Karanganyar, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Senin (18/5/2026). Meski berada di kawasan pesisir, namun buah melon yang dihasilkan tetap memiliki rasa manis dan tekstur renyah. 

Ringkasan Berita:
  • Greenhouse Tanjoeng Farm di Paiton, Probolinggo, Jawa Timur (Jatim), sukses membudidayakan melon premium hidroponik di kawasan pesisir.
  • Panen perdana mencapai 2,2 ton dan habis terjual hanya dalam dua hari dengan harga Rp 30 ribu per kilogram.
  • Wisata petik melon yang viral di media sosial membuat pengunjung datang dari berbagai daerah untuk menikmati melon manis bertekstur renyah.

SURYA.CO.ID, PROBOLINGGO - Siapa sangka kawasan pesisir panas di Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur (Jatim), kini menjadi penghasil melon premium dengan kualitas unggulan.

Greenhouse Tanjoeng Farm yang berada di Dusun Tanjung Lor, Desa Karanganyar, bahkan sukses menarik perhatian pasar modern, setelah panen perdana melon premium mereka ludes terjual hanya dalam 2 hari.

Tak hanya menjadi tempat budidaya pertanian modern, lokasi tersebut juga berkembang menjadi destinasi wisata petik buah yang ramai dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah.

Berawal dari Mimpi Pertanian Modern

Pengelola Tanjoeng Farm sekaligus Ketua Poktan Tunas Harapan Desa Karanganyar, Nahrawi, mengatakan bahwa ide budidaya melon premium itu bermula dari diskusi sederhana pada 2021 lalu.

Saat itu, ia melihat banyak lahan di sekitar Pondok Pesantren Nurul Jadid (PPNJ) belum dimanfaatkan secara optimal.

“Awalnya hanya obrolan dengan teman-teman. Kami berpikir, masa teknologi dalam pertanian modern tidak bisa diterapkan di sini,” kata Nahrawi, Senin (18/5/2026).

Ide tersebut sempat diragukan, karena lokasi greenhouse berada di wilayah pesisir dengan suhu panas dan karakter tanah dataran rendah.

Namun, Nahrawi bersama tim kemudian belajar ke berbagai daerah seperti Bandung, Yogyakarta, Sidoarjo, Jombang hingga Pandaan Pasuruan untuk mencari sistem pertanian yang sesuai.

“Kami mencari teknologi yang sesuai untuk wilayah pesisir, dan alhamdulillah melon ini sangat cocok dengan suasana pesisir,” ujarnya.

Gunakan Bibit Impor dan Sistem Hidroponik

Tanjoeng Farm akhirnya menerapkan sistem hidroponik nutrient film technique (NFT), yakni metode pertanian modern dengan aliran air tipis yang membuat nutrisi tanaman lebih stabil.

Bibit melon premium yang digunakan didatangkan dari Belanda, Thailand dan Taiwan dengan varietas unggulan lavender dan intanon.

Nahrawi menjelaskan, melon yang dihasilkan memiliki tingkat kemanisan mencapai 14 brix.

Varietas lavender memiliki ukuran besar dengan warna oranye di bagian luar maupun dalam, rasa manis dan tekstur crunchy atau renyah.

Sedangkan varietas intanon memiliki tekstur lebih lembut dengan aroma khas.

Fakta Menarik Melon Premium Paiton

  • Berlokasi di Dusun Tanjung Lor, Desa Karanganyar, Paiton
  • Menggunakan sistem hidroponik NFT
  • Bibit berasal dari Belanda, Thailand, dan Taiwan
  • Tingkat kemanisan mencapai 14 brix
  • Panen perdana mencapai 2,2 ton
  • Harga jual Rp 30 ribu per kilogram

Viral Lewat TikTok dan YouTube

Greenhouse seluas 16 x 32 meter tersebut mampu menampung sekitar 1.400 tanaman melon,  dan dapat panen hingga 4 kali dalam setahun.

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved