32 Tahun Disimpan, Barang Pribadi Marsinah Kini Dipajang, Keluarga Terharu
Museum Marsinah di Nganjuk resmi rampung, menampilkan benda pribadi yang disimpan keluarga hingga 32 tahun. Keluarga mengaku terharu.
Penulis: Danendra Kusumawardana | Editor: Cak Sur
Ringkasan Berita:
- Museum Marsinah di Nganjuk Jawa Timur (Jatim) resmi rampung, menampilkan benda pribadi yang disimpan keluarga hingga 32 tahun.
- Keluarga mengaku terharu, terutama saat melihat blazer krem yang mengingatkan momen di Gresik.
- Kehadiran museum jadi pengingat perjuangan Marsinah sekaligus ruang edukasi bagi warga Jawa Timur.
SURYA.CO.ID, NGANJUK - Pembangunan Rumah Singgah dan Museum Marsinah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur (Jatim), kini telah resmi tuntas sepenuhnya.
Proyek yang menjadi simbol penghormatan bagi pahlawan buruh nasional tersebut, tidak hanya berdiri sebagai bangunan fisik, namun juga menjadi ruang penyimpanan memori kolektif atas perjuangan hak-hak pekerja di Indonesia.
Di dalam museum berbagai koleksi pribadi yang merekam jejak perjalanan hidup Marsinah dipajang secara apik, membawa kembali ingatan publik pada peristiwa sejarah tahun 1993 yang mengguncang Tanah Air.
Keluarga besar Marsinah, khususnya sang kakak Marsini dan sang adik Wijiati, tampak tak kuasa menahan haru saat melihat benda-benda peninggalan tersebut kini memiliki 'rumah' yang layak. Bagi mereka, setiap keping koleksi tersebut menyimpan ikatan batin yang sangat kuat dan kisah yang tetap melekat meski puluhan tahun telah berlalu.
Baca juga: Pembangunan Museum Marsinah di Nganjuk Tuntas, Akan Diresmikan Presiden Prabowo Mei 2026
Memori Blazer Krem dari Resepsi Pernikahan 1993
Adik Marsinah, Wijiati, menceritakan pengalamannya saat meninjau langsung bangunan dan isi museum beberapa waktu lalu. Kunjungannya dilakukan usai meresmikan Monumen Marsinah di area makam keluarga. Dari sekian banyak koleksi yang dipamerkan, perhatian Wijiati tertuju pada satu benda ikonik, sebuah pakaian blazer berwarna krem.
Blazer tersebut bukan sekadar pakaian formal biasa. Wijiati mengenang bahwa atasan itu merupakan pakaian favorit Marsinah yang kerap dikenakan dalam acara-acara penting.
Salah satu momen paling berkesan, adalah ketika Marsinah menghadiri resepsi pernikahan Wijiati di Driyorejo, Kabupaten Gresik pada tahun 1993, tahun yang sama sebelum sang pahlawan ditemukan tewas.
"Setiap kali melihat pakaian itu, saya langsung teringat momen Mbak Marsinah hadir di resepsi saya. Rasanya seperti beliau masih ada di antara kami," ujar Wijiati kepada SURYA.co.id, Selasa (5/5/2026).
Baca juga: Momen Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo Ziarah Makam Marsinah di Nganjuk
Perjuangan 32 Tahun Merawat Peninggalan Sejarah
Keberadaan koleksi di museum ini tak lepas dari peran luar biasa Marsini, kakak kandung Marsinah. Selama lebih dari 32 tahun, Marsini menjadi garda terdepan dalam menjaga dan merawat barang-barang pribadi sang adik. Ia membawa barang-barang tersebut berpindah-pindah rumah, agar tetap aman dan tidak rusak dimakan usia.
Berdasarkan pantauan di lapangan, berikut adalah daftar koleksi utama yang kini bisa dilihat oleh masyarakat umum di Museum Marsinah:
- Pakaian & Aksesoris: Blazer krem, tas jinjing, dan berbagai pakaian kerja.
- Peralatan Rumah Tangga: Rantang yang digunakan Marsinah untuk membawa bekal (bontotan) makanan ke pabrik, serta tikar serat.
- Dokumen Pendidikan: Ijazah asli dan berbagai piagam penghargaan.
- Kendaraan Bersejarah: Sebuah sepeda onthel yang menjadi alat transportasi utama keluarga secara turun-temurun.
Marsini menjelaskan, bahwa tas yang dipajang memiliki cerita unik. Tas tersebut adalah produk yang pernah dijual Marsinah saat masih aktif bekerja di sebuah pabrik di kawasan Porong, Sidoarjo, dekat dengan pusat kerajinan Tanggulangin.
Baca juga: Kapolri Letakkan Batu Pertama Museum Marsinah di Nganjuk, Jadi Simbol Perjuangan Buruh Indonesia
Simbol Perjuangan Buruh Nasional
Wijiati juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea, yang berperan besar dalam merealisasikan pembangunan rumah singgah dan museum ini. Fasilitas ini diharapkan tidak hanya menjadi destinasi wisata sejarah di Nganjuk, tetapi juga menjadi pusat edukasi mengenai hak-hak buruh dan keberanian seorang perempuan dalam melawan ketidakadilan.
Marsinah dikenal sebagai aktivis buruh di PT Catur Putra Surya (CPS) yang hilang, dan ditemukan meninggal secara tragis setelah memimpin aksi mogok kerja.
Keberadaan Museum Marsinah ini, mempertegas statusnya sebagai tokoh yang tak akan terlupakan dalam sejarah ketenagakerjaan Indonesia.
Bagi masyarakat yang ingin berkunjung, Museum Marsinah berlokasi di Desa Nglundo, Nganjuk, dan terbuka untuk umum sebagai pengingat bahwa perjuangan demi keadilan tidak akan pernah padam.
Nganjuk
Museum Marsinah
Rumah Singgah dan Museum Marsinah
loleksi Marsinah
berita Nganjuk terbaru
berita Jatim terkini
Meaningful
Multiangle
| Pantai Karanggongso Surga Tersembunyi Di Trenggalek, Bikin Betah Pengunjung |
|
|---|
| Sosok Pejabat Pajak Bursok Anthony Marlon, Resmi Dicopot Buntut Desak Presiden Prabowo Mundur |
|
|---|
| Pelatih Madura United Beberkan Kunci Bisa Tumbangkan Bali United 2-0 |
|
|---|
| MG Perkenalkan Mobil SUV Listrik MGS5 EV di Surabaya dengan Harga OTR Mulai Rp 343 Jutaan |
|
|---|
| Banyuwangi Resmi Atur Jam Operasional Toko Modern Mulai Besok |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/salah-satu-koleksi-yang-terpajang-di-Museum-Marsinah.jpg)