Jumat, 8 Mei 2026

Ritus Longkangan ke-177 di Munjungan, Larung Kepala Kerbau Warisan Budaya Tak Benda 

Masyarakat Munjungan gelar Longkangan ke-177, syukuran dan pelestarian alam tetap hidup.

Tayang:
Editor: Wiwit Purwanto
istimewa
KIRAB ADAT - Kirab Pahargyan Adat Longkangan ke-177 di Kecamatan Munjungan mulai di Kantor Kecamatan Munjungan dan dilarung di Pantai Blado, Selasa (28/4/2026).(foto Madchan Jazuli) 

Ringkasan Berita:
  • Kirab dua gunungan berarak dari kantor ke Pantai Blado, warga ramai menyaksikan.
  • Kepala kerbau dilarung, tumpeng dikelilingi sayur, simbol syukur dan jaga alam.
  • Tradisi diakui WBTB, pemerintah dorong pelestarian sekaligus kesejahteraan warga.

 

Ritus Adat Longkangan ke-177 Bentuk Rasa Syukur Masyarakat Munjungan Trenggalek Tetap Lestari

 

SURYA.CO.ID  TRENGGALEK -  Ritual Pahargyan Adat Longkangan ke-117 berjalan khidmat di Kecamatan Munjungan Kabupaten Trenggalek.

Ritual ini rutin dihelat pada Bulan Selo penganggalan Jawa sebagai bentuk rasa syukur dan menyiratkan pesan untuk tetap menjaga alam.

Ada dua gunungan yang diarak dari Kantor Kecamatan Munjungan menuju Pantai Blado. Yaitu Gunungan tumpeng besar berupa nasi kuning dan kepala kerbau yang sudah disembelih sebelumnya.

Ketua Panitia Pahargyan Adat Longkangan, Agus Setiawan menerangkan Adat Longkangan tahun ini memasuki yang ke-177 tahun.

Bentuk Syukur Masyarakat Munjungan, Trenggalek

Sebagai kearifan lokal, masyarakat Munjungan sebagai bentuk rasa syukur pada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Baca juga: Tradisi Sakral Cethik Geni, PG Ngadiredjo Siap Giling 2026 

"Bagaimana masyarakat Munjungan baik nelayan, petani, dan juga seluruh elemen masyarakat mewujudkannya tasyakuran dengan menyembelih kerbau. Kepala kerbaunya dilarung ke laut," ujar Agus Setiawan, Selasa (28/4/2026).

Agus menambahkan untuk filosofi Longkangan sendiri sebagaimana seperti adat orang Jawa adalah bagaimana masyarakat itu harus menjaga alam.

"Makanya ada dari Patirtan seperti sumber ireng. Dimana kita merawat sumber-sumber mata air, kelestarian alam khususnya di lautan," imbuhnya.

Untuk yang di larung sendiri selain kepala kerbau, menurut Agus ada sesajen seperti biasa dan juga tumpeng nasi kuning dikelilingi sayur mayur. Lalu, untuk malamnya berlanjut rangkaian puncak onang-onang bedil muni.

"Jadi di situ ada perjamuan. Karena kita itu, filosofi longkangan harus saling menjaga. Saling menghormati dengan sesama makhluk ciptaan Tuhan," katanya.

Baca juga: Tradisi Ngideri Cermee Bondowoso Bertahan 5 Abad, 11 Pria Keliling Desa Tanpa Alas Kaki 

Pria yang juga sebagai Kepala Desa Munjungan ini mengaku Pahargyan Adat Longkangan mengaku diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat. 

Tradisi Menjaga Alam

Melalui tradisi ini, ia berharap bagaimana kearifan lokal ini bisa terus dilestarikan. Lalu, menumbuhkan kesadaran kepada generasi muda bahwa alam memang harus dijaga.

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved