Harga Plastik Terus Melonjak Naik, Pedagang dan PKL di Lamongan Kian Terjepit
Harga kantong plastik, plastik kemasan, gelas plastik, hingga mika makanan dilaporkan mengalami kenaikan hingga 100 persen
Penulis: Hanif Manshuri | Editor: Titis Jati Permata
Ringkasan Berita:
- Harga plastik di Lamongan naik hingga 100 persen sejak awal tahun, membebani pedagang kecil dari pasar tradisional hingga PKL.
- Pedagang harus menyiasati biaya dengan mengurangi kemasan tambahan, mencari alternatif seperti kertas atau daun pisang, meski pembeli masih lebih memilih plastik.
- Mereka berharap ada perhatian pemerintah daerah karena kenaikan plastik menambah beban setelah harga bahan pokok juga meningkat.
SURYA.co.id LAMONGAN – Kenaikan harga plastik dalam beberapa pekan terakhir mulai dirasakan para pedagang dan pelaku usaha kecil di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.
Mulai dari pedagang sayur di pasar tradisional, penjual gorengan, warung makan, hingga pedagang kaki lima (PKL) mengeluhkan biaya operasional yang semakin membengkak.
Baca juga: Harga Plastik Melambung, Wagub Jatim Minta Masyarakat Bawa Tas Belanja Sendiri
Harga kantong plastik, plastik kemasan, gelas plastik, hingga mika makanan dilaporkan mengalami kenaikan hingga 100 persen dibanding awal tahun.
Pedagang Putar Otak Agar Bisa Berjualan
Kondisi tersebut membuat para pedagang harus memutar otak agar tetap bisa berjualan tanpa harus menaikkan harga dagangan terlalu tinggi.
Salah satu pedagang gorengan di seputaran Pasar Tingkat Lamongan, Sa'adah (40), mengaku kenaikan harga plastik cukup memberatkan.
Sebab, setiap hari dirinya membutuhkan puluhan lembar plastik untuk membungkus dagangan pembeli.
“Biasanya satu pak plastik ukuran kecil saya beli Rp 18 ribu, sekarang sudah Rp 36 ribu. Kalau yang ukuran besar juga naik. Dalam sehari bisa habis satu sampai dua pak,” ujarnya.
Keuntungan Semakin Menipis
Menurutnya, kenaikan harga plastik membuat keuntungan yang diperoleh semakin menipis.
Sebab, harga gorengan yang dijualnya masih dipertahankan Rp 2.000 per biji agar pembeli tidak berkurang.
“Kalau harga gorengan dinaikkan, takut pembeli protes. Jadi ya terpaksa untungnya dikurangi,” katanya kepada SURYA.co.id, Sabtu (11/4/2026).
Biaya Produksi Bertambah
Keluhan serupa juga disampaikan penjual es dan minuman kemasan di kawasan Jalan Basuki Rahmat, Lamongan.
Harga gelas plastik dan sedotan disebut ikut naik sehingga biaya produksi bertambah.
Seorang penjual es teh jumbo, Ahmad Wafa, mengatakan sebelumnya satu slop gelas plastik ukuran 16 ons dibeli sekitar Rp 32 ribu. Kini harganya sudah mencapai Rp 64 ribu lebih.
“Bukan cuma gelasnya, tutup plastik dan sedotan juga naik. Kalau sehari jualan 100 sampai 150 gelas, tentu pengaruhnya besar,” ujarnya.
Kekhawatiran saat Naikkan Harga
| Pemuda Katolik Komda Jawa Timur dan Kanwil HAM Perkuat Sinergi Strategis untuk Pemajuan Hak Asasi |
|
|---|
| Daftar Pemain yang Tinggalkan Persebaya Surabaya, Bajol Ijo Bangun Skuad Baru |
|
|---|
| Sosok Pujiyono Suwadi Ketua Komjak yang Bocorkan Kasus di BGN Naik Penyidikan, Soal Jual Beli SPPG |
|
|---|
| Gubernur Khofifah Lantik 65 Kepala Sekolah, Minta Pertahankan Prestasi Jatim |
|
|---|
| Fakultas Kedokteran UTM Resmi Dibuka, Langsung Buka Jalur Mandiri dengan Kuota Terbatas |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/pedagang-dan-pelaku-usaha-kecil-di-Kabupaten-Lamongan-Jawa-Timur.jpg)