Menu Keringan MBG Disoal Wali Murid, 'Bukan Generasi Emas, Tapi Generasi Besi Tua'
Kondisi buah yang asam dan nyaris layu Laporan tersebut dan meneruskannya ke Badan Gizi Nasional (BGN).
Penulis: Sinca Ari Pangistu | Editor: Wiwit Purwanto
Ringkasan Berita:
- Kondisi buah yang asam dan nyaris layu
- Tidak adanya susu, hingga pengemasan yang dinilai tidak layak karena hanya dibungkus plastik kresek
- Isinya jeruk hijau kecil yang kecut, selembar keju, sepotong roti tawar, dan kacang hijau di plastik klip
- Laporan tersebut dan meneruskannya ke Badan Gizi Nasional (BGN).
SURYA.co.id BONDOWOSO - Menu paket makanan kering dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadan di sejumlah sekolah di Bondowoso menuai keluhan dari wali murid.
Keluhan tersebut beragam, mulai dari kondisi buah yang asam dan nyaris layu, tidak adanya susu, hingga pengemasan yang dinilai tidak layak karena hanya dibungkus plastik kresek tanpa wadah mika.
Kondisi ini membuat sejumlah orang tua merasa program unggulan Presiden RI tersebut justru terkesan buruk dalam pelaksanaannya.
Kondisi Buah dan Pengemasan
Seorang wali murid di SDN Dabasah 3 Bondowoso berinisial AI menjelaskan bahwa menu kering yang diterima anaknya pada 23 Februari lalu hanya berisi dua buah pisang kecil yang hampir layu, tiga butir kurma, sekitar 10 biji kacang kedelai dalam plastik klip, dan satu buah roti.
"Kami sebagai orang tua merasa miris melihatnya," ujarnya saat dikonfirmasi pada Rabu (25/2/2026).
Baca juga: Dewan Pendidikan Lamongan Minta MBG Dihentikan Selama Ramadan, Perlu Evaluasi Pasca Banyak Pengaduan
AI menilai niat pemerintah sangat baik, namun kontrol dari dinas terkait distribusi dan mutu makanan sangat kurang. Ia menyebut banyak wali murid lain yang mengeluh namun enggan bersuara karena khawatir adanya intimidasi terhadap sekolah atau siswa.
"Jika tujuannya menciptakan Generasi Emas, tapi mutunya begini, yang lahir bukan emas, perak, atau perunggu, bisa jadi malah generasi besi tua," cetusnya kecewa.
Keluhan serupa datang dari VG, wali murid SMKN 1 Bondowoso. Ia menyayangkan menu anaknya hanya dibungkus plastik kresek putih.
"Isinya jeruk hijau kecil yang kecut, selembar keju, sepotong roti tawar, dan kacang hijau di plastik klip. Seperti mau ke pasar saja pakai kresek begini," ungkapnya.
Sementara itu, MR, wali murid di Kecamatan Wringin, mengaku kesal namun tidak setuju jika dapur Satuan Pelayanan Perangkat Gizi (SPPG) ditutup karena menyangkut hajat hidup pekerja di sana.
Baca juga: Viral Emak Emak Wali Murid di Lamongan Kembalikan Menu MBG , Kecewa Komposisi Menu
"Kualitas MBG-nya saja yang harus diperbaiki," tegasnya.
Menanggapi hal tersebut, Koordinator SPPG Kabupaten Bondowoso, Mila Afriana Agustina, menyatakan telah menerima laporan tersebut dan meneruskannya ke Badan Gizi Nasional (BGN).
"SPPG ini sudah kami laporkan ke BGN pusat sebagai laporan khusus apabila ada hal-hal yang kurang baik," jelas Mila.
Terkait rincian anggaran, Mila menjelaskan bahwa harga per porsi untuk balita hingga kelas 3 SD adalah Rp8.000 (porsi kecil), sementara untuk kelas 4 SD ke atas, ibu hamil, dan menyusui adalah Rp10.000 (porsi besar). Perbedaan ini didasarkan pada perhitungan gramasi oleh ahli gizi.
Progam MBG di Jawa Timur
MBG saat Ramadan
MBG di Bondowoso
surabaya.tribunnews.com
SURYA.co.id
Meaningful
| Daftar 12 Pejabat dan Staf Pemkab Tulungagung yang Dibawa KPK Imbas OTT Bupati Gatut Sunu, 4 Lolos |
|
|---|
| Bogasari Dampingi Siswa SMK Produksi 3.000 Toples Kue Kering |
|
|---|
| Persija vs Persebaya Surabaya, Krisis Pemain Tak Halangi Ambisi Menang di GBK |
|
|---|
| Kronologi Kasus ASN Palsu di Gresik Terungkap, Korban Bertambah 14 Orang |
|
|---|
| Ini 15 Pejabat Pemkab Tulungagung yang Diperiksa KPK di Polres Tulungagung |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/menu-mbg-bondowoso-disoal.jpg)