Sabtu, 18 April 2026

PMK Melejit di Blitar Awal 2026: 72 Sapi Terjangkit, 15 Kecamatan Siaga

Kasus PMK di Kabupaten Blitar Jatim melonjak di awal 2026 dengan 72 temuan di 15 kecamatan. Kecamatan Nglegok dan Talun jadi yang terbanyak.

Penulis: Samsul Hadi | Editor: Cak Sur
istimewa/Dokumentasi Disnakkan Kabupaten Blitar
KASUS PMK - Disnakkan Kabupaten Blitar mengambil sampel air liur sapi yang terjangkit Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di wilayah Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur pada Januari 2026 ini. Tercatat sebanyak 72 kasus aktif yang tersebar di 15 kecamatan hingga Senin (19/1/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Tercatat 72 kasus PMK di 15 kecamatan di Kabupaten Blitar Jatim per 19 Januari 2026.
  • Kecamatan Nglegok, Talun dan Kesamben menjadi wilayah dengan temuan kasus terbanyak.
  • Belum ada laporan kematian sapi, Disnakkan tengah melakukan investigasi dan uji sampel.

 

SURYA.CO.ID, BLITAR - Lonjakan kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) kembali menghantui peternak di Kabupaten Blitar, Jawa Timur (Jatim) pada awal tahun 2026, di mana Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) mencatat sebanyak 72 kasus aktif yang tersebar di 15 kecamatan hingga Senin (19/1/2026).

Kejadian ini memicu kewaspadaan tinggi, mengingat penyebaran virus yang terdeteksi cukup luas di wilayah sentra peternakan tersebut.

Sebaran Wilayah Terdampak PMK di Blitar

Berdasarkan data terbaru dari Disnakkan Kabupaten Blitar, virus PMK telah merambah ke 15 kecamatan.

Dari jumlah tersebut, tiga wilayah mencatatkan angka kasus tertinggi yang menjadi perhatian serius petugas kesehatan hewan.

Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Disnakkan Kabupaten Blitar, Lusia Adityaningtyas, mengungkapkan bahwa Kecamatan Nglegok memimpin dengan 15 kasus, disusul Kecamatan Talun dengan 13 kasus dan Kecamatan Kesamben dengan 12 kasus.

Langkah Investigasi dan Kondisi Ternak

Meskipun angka kasus meningkat signifikan di pembukaan tahun, pihak berwenang menyebutkan bahwa situasi saat ini masih dalam kendali.

"Jumlah kasus PMK memang sempat naik di awal tahun 2026. Tapi, informasi di lapangan, saat ini, kasus mulai mereda," ungkap Lusia pada Senin (19/1/2026).

Ia memastikan, hingga saat ini belum ada laporan kematian sapi akibat virus tersebut. Mayoritas ternak yang terinfeksi kini berada dalam pemantauan ketat dan proses penyembuhan.

Pengambilan Sampel Laboratorium

Sebagai langkah responsif, tim medis veteriner telah diterjunkan ke titik-titik zona merah untuk melakukan mitigasi.

"Untuk temuan kasus PMK di Nglegok sudah dilakukan investigasi dan sudah diambil sampel untuk dilakukan pengujian," tegas Lusia.

Disnakkan mengimbau para peternak, untuk segera melaporkan jika menemukan gejala klinis pada hewan ternaknya guna mencegah penularan yang lebih masif.

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved