Selasa, 19 Mei 2026

Proyek Pasar Ngadiluwih Molor, Disdagin Kediri Soroti Minimnya Pekerja dan Keterlambatan Material

Tutik menambahkan, keterlambatan proyek ini merupakan akumulasi dari berbagai faktor sejak awal pelaksanaan.

Tayang:
Penulis: Isya Anshori | Editor: Deddy Humana
Tribunnews.com/Isya Anshori
MOLOR - Kepala Disdagin Kabupaten Kediri, Tutik Purwaningsih bersama petugas PPK dan pengawas meninjau pembangunan Pasar Ngadiluwih, Rabu (14/1/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Disdagin Kediri menyoroti progress pembangunan Pasar Ngadiluwih yang menurut pengawas sudah mencapai 97 persen.
  • Pantauan di lapangan, pengerjaan pasar masih molor karena tidak ada kemajuan signifikan dan jumlah pekerja tidak ideal.
  • Kontraktor sudah mendapat tambahan waktu 30 hari dan pemda menargetkan rampung pada 29 Januari 2026, sesuai masa kesempatan yang diberikan. 

 

SURYA.CO.ID, KEDIRI - Pemkab Kediri terus mengintensifkan pengawasan pembangunan Pasar Ngadiluwih yang hingga pertengahan Januari 2026 belum juga rampung. 

Dalam monitoring dan evaluasi (monev) pekan ke-38 ini, Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kabupaten Kediri mencatat progress fisik proyek tersebut telah mencapai 97,7 persen.

Kepala Disdagin Kediri, Tutik Purwaningsih mengatakan, evaluasi dilakukan setiap Selasa melalui rapat mingguan (weekly meeting) dan dilanjutkan dengan peninjauan langsung ke lapangan. 

Dari hasil pemantauan terbaru, progress pekerjaan dinilai belum sesuai dengan rencana kerja atau time schedule yang telah disepakati sebelumnya.

Pantauan di lokasi, beberapa bagian yang saat ini telah digenjot pembangunannya adalah bagian pagar depan pasar. Selain itu juga penambahan fasilitas di los pasar dan juga beberapa finalisasi bangunan.

"Hari ini kami melakukan monitoring di lapangan. Dari laporan konsultan pengawas, progress sudah di angka 97,7 persen. Tetapi kalau dibandingkan action plan yang sudah dibuat sejak awal, itu masih kurang memenuhi," kata Tutik saat ditemui usai meninjau lokasi Pasar Ngadiluwih, Rabu (14/1/2026).

Jumlah Pekerja Kurang

Menurutnya, salah satu persoalan utama yang menghambat percepatan pekerjaan adalah minimnya jumlah tenaga kerja di lapangan. 

Dari 13 titik pekerjaan yang masih tersisa, jumlah personel yang terlibat dinilai belum ideal untuk mengejar target penyelesaian.

"Dari evaluasi hari ini, jumlah pekerja masih kurang. Totalnya hanya sekitar 51 orang yang tersebar di 13 titik pekerjaan. Ini jelas tidak cukup kalau mau mengejar percepatan. Idealnya 100 pekerja," ujarnya.

Selain tenaga kerja, ketersediaan material juga menjadi catatan penting. Tutik menyebut, beberapa material sebenarnya sudah siap sejak awal, namun belum terpasang hingga kini sehingga ikut memperlambat laju penyelesaian proyek.

"Material juga masih ada yang kurang dan ada yang sudah siap ettapi belum terpasang, seperti pintu masuk dan beberapa komponen lainnya. Ini semua mempengaruhi progress," jelasnya.

Tutik menambahkan, keterlambatan proyek ini merupakan akumulasi dari berbagai faktor sejak awal pelaksanaan.

Mulai persoalan perencanaan, kesiapan kontraktor, hingga kinerja konsultan pengawas yang belum optimal dalam mengawal mutu dan kecepatan pekerjaan.

"Ini bukan masalah satu pihak saja. Ada perencanaan, ada kontraktor, ada konsultan pengawas, dan kami selaku direksi. Perubahan di lapangan itu wajar, tetapi bagaimana menyikapinya yang menentukan cepat atau tidaknya pekerjaan," ungkap Tutik.

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved