Sabtu, 25 April 2026

Lewat Teatrikal Puisi di Jombang, 5 Mantan Penghuni Lapas Ekspresikan Pergulatan Hadapi Residivisme

Mereka pernah menjalani pembinaan di berbagai lembaga, seperti LPKA Blitar, Rutan Nganjuk, dan Lapas Jombang.

Penulis: Anggit Puji Widodo | Editor: Deddy Humana
Tribunnews.com/Anggit Puji Widodo
KEBEBASAN BEREKSPRESI - Mantan Penghuni lapas di Jombang dilatih berbaur dengan masyarakat lewat ekspresi seni dan teater membawa puisi di MWCNU Mojowarno, Jumat (19/12/2025). Inisiatif ini digerakkan Shelter Rumah Hati Jombang sebagai bagian dari program pemulihan psikologis. 

Selama masa pendampingan sekitar delapan bulan, anak-anak dibiasakan dengan rutinitas harian seperti bangun pagi, beribadah, memasak, dan membersihkan lingkungan. Pola ini dianggap sebagai pondasi untuk melatih kemandirian dan tanggung jawab.

Selain pendampingan psikologis, mereka juga dilatih ketrampilan praktis seperti sablon dan pembuatan furniture sederhana. Pendekatan ini dipilih karena kecenderungan mereka yang lebih mudah menyerap pembelajaran berbasis kinestetik.

"Tidak setiap anak cocok dengan jalur akademis formal. Namun setiap anak dapat diajarkan untuk hidup teratur dan bertanggung jawab," ungkap Yusti.

Sejak berdiri, lembaga ini telah mendampingi sekitar 80-90 anak. Saat ini, jumlah anak binaan sengaja dibatasi lima orang agar pendampingan dapat lebih fokus dan mendalam.

Ahmad Fikri, Wakil Koordinator Pendamping menambahkan bahwa seni memiliki peran krusial dalam memulihkan kepercayaan diri.

"Puisi dan musik menjadi saluran jujur untuk mengungkapkan perasaan. Luka batin bisa terekspresikan tanpa harus dipaksa bercerita secara verbal," kata Fikri.

Ia menegaskan, pementasan ini bukan titik akhir, melainkan sebuah tahapan dalam perjalanan panjang mereka mencari identitas baru pasca-lapas.

"Harapan kami, mereka mampu menjalani hidup dengan lebih percaya diri. Panggung ini adalah bukti bahwa cahaya itu masih ada," bebernya.

Fikri juga mengajak masyarakat untuk memberikan dukungan dan kesempatan kedua. Stigma dan penolakan, menurutnya, justru beresiko menggagalkan proses pemulihan dan mendorong mereka kembali ke lingkungan lama.

"Yang dibutuhkan adalah penerimaan. Dukungan sosial jauh lebih bermakna daripada prasangka," pungkasnya. ****

 

Sumber: Surya
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved