Sabtu, 25 April 2026

Lewat Teatrikal Puisi di Jombang, 5 Mantan Penghuni Lapas Ekspresikan Pergulatan Hadapi Residivisme

Mereka pernah menjalani pembinaan di berbagai lembaga, seperti LPKA Blitar, Rutan Nganjuk, dan Lapas Jombang.

Penulis: Anggit Puji Widodo | Editor: Deddy Humana
Tribunnews.com/Anggit Puji Widodo
KEBEBASAN BEREKSPRESI - Mantan Penghuni lapas di Jombang dilatih berbaur dengan masyarakat lewat ekspresi seni dan teater membawa puisi di MWCNU Mojowarno, Jumat (19/12/2025). Inisiatif ini digerakkan Shelter Rumah Hati Jombang sebagai bagian dari program pemulihan psikologis. 

Ringkasan Berita:
  • Shelter Rumah Hati Jombang mengadakan pertunjukan teatrikal yang diikuti 5 anak mantan binaan lapas, di MWCNU Mojowarno.
  • Para penampil membawakan puisi yang menunjukkan perjuangan untuk berubah setelah pernah menghuni lapas.
  • Ahmad Fikri, Wakil Koordinator Pendamping menambahkan bahwa seni memiliki peran krusial dalam memulihkan kepercayaan diri.

 

SURYA.CO.ID, JOMBANG - Sebuah pagelaran unik yang memadukan puisi, musik, dan teater mengisi ruang di MWCNU Mojowarno, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, Jumat (19/12/2025).

Pertunjukan bertajuk 'Seberkas Cahaya' ini bukan sekadar tontonan, melainkan medium penyembuhan dan deklarasi bagi lima remaja yang pernah menjalani pembinaan di lembaga pemasyarakatan.

Inisiatif ini digerakkan oleh Shelter Rumah Hati Jombang sebagai bagian dari program pemulihan psikologis anak-anak yang berkonflik dengan hukum.

Melalui ekspresi seni, mereka diajak untuk merangkul kisah hidupnya sendiri dan memperkuat komitmen untuk membangun masa depan yang berbeda.

Kelima remaja tersebut, adalah Rama, Rafi (Jombang), Reval (Kediri), Ali (Surabaya), dan Fuad (Nganjuk), yang bergantian menampilkan monolog puisi, iringan musik, dan fragmen teater. 

Mereka pernah menjalani pembinaan di berbagai lembaga, seperti LPKA Blitar, Rutan Nganjuk, dan Lapas Jombang.

Sebuah simbolisasi kuat hadir melalui dua aktor bertopeng hitam-putih dan hitam-belang. Keduanya merepresentasikan pergulatan internal antara hasrat untuk berubah dengan bayangan kesalahan masa lalu yang terus mengganggu. 

Adegan penutup yang menampilkan kekalahan sosok bertopeng gelap menjadi metafora akan kemenangan harapan atas masa silam.

Mohammad Faisol Hidayat, Koordinator Pendamping Shelter Rumah Hati Jombang, menekankan bahwa konsep pertunjukan seluruhnya bersumber dari pengalaman personal anak binaan. Ide penggunaan topeng bahkan datang langsung dari mereka.

"Ini adalah narasi hidup mereka yang disampaikan secara lugas. Pertarungan dalam diri itu nyata, dan mereka ingin mengungkapkannya tanpa kedok," ucap Faisol saat dikonfirmasi SURYA.

Proses latihan selama kurang lebih sepuluh pekan pun tidak mudah. Tantangan terberat justru muncul saat mereka harus membawakan kisah sendiri di depan khalayak.

"Membawakan cerita orang lain bisa lancar. Namun mengungkap luka sendiri membutuhkan keberanian yang berbeda," imbuhnya.

Fokus Pembinaan ABH

Pendiri Shelter Rumah Hati Jombang, Prof Yusti Probowati menerangkan bahwa lembaganya telah fokus pada pendampingan anak berhadapan dengan hukum sejak 2011, baik yang melalui lapas maupun diversi.

"Mereka berasal dari berbagai daerah. Ada yang masih memiliki keluarga, ada pula yang sepenuhnya mandiri," ujar dosen psikologi Universitas Surabaya (Ubaya) itu.

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved