Sabtu, 18 April 2026

Pembunuhan Mahasiswi di Pasuruan

Tabiat Faradila, Mahasiswi UMM yang Dibunuh Kakak Ipar di Pasuruan, Sopir: Pendiam Tapi Pemberani

Hasil otopsi mengungkap dugaan kekerasan pada Faradila Amalia Najwa. Sopir pribadi keluarga korban, mengungkap tabiat korban.

(Ho/Campus League)/IG @ratna_listy/Ahsan Faradisi
PEMBUNUHAN MAHASISWI: Situasi rumah duka Mahasiswi asal Kabupaten Probolinggo yang ditemukan tak bernyawa di Pasuruan. Pihak keluarga menduga motif pembunuhan karena ingin menguasai harta. 

Ringkasan Berita:
  • Hasil Otopsi Faradila Amalia Najwa menunjukkan bekas cekikan, pukulan, tekanan, dan cubitan pada tubuh korban
  • Bripka AS telah diamankan dan menjalani pemeriksaan di Polda Jatim
  • Samsul, sopir pribadi keluarga korban, mengungkap sosok Faradila di matanya.

 

SURYA.co.id - Kasus kematian Faradila Amalia Najwa (21), mahasiswi asal Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, terus menyita perhatian publik.

Perempuan muda tersebut diduga menjadi korban pembunuhan yang melibatkan Bripka AS, yang diketahui memiliki hubungan keluarga sebagai kakak ipar korban.

Dugaan ini menguat setelah hasil otopsi menunjukkan adanya sejumlah luka kekerasan di tubuh korban.

Jasad Faradila dipulangkan ke rumah duka di Dusun Krajan, Desa Ranuagung, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo, Selasa (16/12/2025) malam sekitar pukul 21.20 WIB.

Tak lama berselang, korban dimakamkan pada hari yang sama sekitar pukul 22.00 WIB.

Informasi mengenai kondisi jenazah disampaikan Samsul (40), sopir pribadi keluarga korban, usai menerima hasil otopsi dari Rumah Sakit Bhayangkara Watukosek, Sidoarjo.

Samsul mengungkapkan bahwa dari pemeriksaan medis ditemukan sejumlah tanda yang mengarah pada dugaan tindak kekerasan.

Baca juga: Gelagat Bripka SA Usai Membunuh Adik Iparnya, Mahasiswi UMM Faradila, Sempat Masuk Kamar Mayat

Menurutnya, hasil otopsi menunjukkan adanya bekas cekikan di leher korban, luka pukulan di bagian dahi, tekanan di area nadi, serta bekas cubitan di paha.

Fakta-fakta tersebut baru diketahui keluarga setelah laporan resmi otopsi diterima.

"Saya biasanya yang jemput dia (Korban) kalau mau pulang ke Probolinggo dan yang ngantarkan juga kalau mau balik. Jadi sama abah (Ayah korban) yang disuruh ke rumah sakit itu saya," kata Samsul, Rabu (17/12/2025).

Selain luka pada tubuh korban, Samsul juga menyoroti kejanggalan saat korban pertama kali ditemukan.

Berdasarkan keterangan kepolisian yang ia terima, kondisi helm yang dikenakan korban tidak selaras dengan situasi di lokasi kejadian.

"Kalau helm nya sendiri masih ada di kos nya sama sepeda motornya. Mungkin, dipakaikan biar dikira jadi korban begal, terlebih lagi HP dan tas nya juga hilang," ungkap Samsul.

Ia menjelaskan, ketika helm tersebut dibuka, rambut dan pipi korban ditemukan dalam kondisi berlumuran lumpur, sementara helm terlihat bersih seperti baru.

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved