Senin, 11 Mei 2026

Kambing Jerabang Dikonteskan, Diusulkan Menjadi Galur Tulungagung Agar Tidak Diklaim Negara Lain

Kontes ini menjadi ajang para peternak untuk menancapkan bendera, karena pemenang kontes akan melambungkan harga jualnya. 

Tayang:
Penulis: David Yohanes | Editor: Deddy Humana
surya/david yohanes
DIIKUTKAN KONTES - Kambing jenis jerabang yang diikutkan kontes di Desa Karangtalun, Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tulungagung, Minggu (19/10/2025). Kontes ini bagian upaya pengusulan kambing jerabang sebagai galur Tulungagung. 

SURYA.CO.ID, TULUNGAGUNG - Ratusan kambing jerabang mengikuti kontes regional Jawa Timur di Lapangan Desa Karangtalun, Kecamatan Kalidawir, Minggu (19/10/2025).

Kambing jerabang adalah kambing hasil persilangan yang dikembangkan oleh para peternak di Kabupaten Tulungagung

Kontes ini sekaligus bagian upaya penetapan galur (garis keturunan tertentu dan tetap) Jerabang Tulungagung. Kelas yang dilombakan dari yang terkecil kelas E, D, C, B sampai terbesar kelas A jantan dan betina.

Menurut Wakil Ketua Umum Indonesia Goat Breeder (IGB), Nur MH, kambing jerabang ini mulai dikonteskan sejak 2018. 

“Pengembang awalnya memang dari Tulungagung. Kemudian semakin berkembang dan diternakkan di berbagai daerah,” jelas Nuh MH.

Kambing jerabang adalah hasil persilangan kambing Jawa randu dengan kambing hitam putih, seperti persilangan peranakan etawa (PE) dan kambing kacang.

Kambing ini dinilai unggul, karena fisiknya sangat besar sehingga lebih menguntungkan jika diternakkan.

Jerabang berasal dari kata abang atau merah dalam bahasa Jawa, menunjukkan ciri khas kambing ini selalu ada warna merahnya. 

Karena itu para peternak didukung Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnak Keswan) Tulungagung proses mengajukan galur kambing jerabang Tulungagung.

 “Jika nanti galurnya sudah diakui dari Tulungagung, maka daerah lain tidak bisa mengklaim,” sambung Nur MH.

Pengakuan galur jerabang ini menjadi tahap awal untuk mendapatkan pengakuan SNI (standar nasional Indonesia). Jika sudah mendapatkan SNI, maka levelnya internasional, kambing ini tidak bisa diklaim dari negara lain. 

Kontes ini menjadi ajang para peternak untuk menancapkan bendera, karena pemenang kontes akan melambungkan harga jualnya. 

“Ada pemenang kontes yang ditawar Rp 500 juta pun tidak dikasih. Karena kalau memang kontes, anaknya nanti juga punya harga jual tinggi,” ungkap Nur. 

Masih menurut Nur, kambing jerabang juara kontes punya nilai tambah sebagai pejantan. Misalnya pemilik kambing betina yang ingin dibuahi dengan juara kontes, tarifnya minimal Rp 1,5 juta untuk sekali kawin.

Sementara anak-anak keturunan juara kontes ini bisa tembus Rp 15 juta sampai Rp 25 juta.

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved