Kamis, 4 Juni 2026

8 Kali Lelang Tidak Ada Pembeli Gula Petani, DPRD Situbondo Menduga Akibat Sebaran Gula Rafinasi

Sesuai harga pokok penjualan (HPP), gula petani dihargai Rp 1.450 per KG namun para pedagang menawarnya di bawah HPP

Tayang:
Penulis: Izi Hartono | Editor: Deddy Humana
surya/izi hartono (izi hartono)
HEARING - Komisi II DPRD Situbondo melakukan hearing bersama APTR dan perwakilan pabrik gula serta perbankan di ruang rapat paripurna DPRD SItubondo. 

SURYA.CO.ID, SITUBONDO - Belum lakunya gula petani di Situbondo, menjadi perhatian serius komisi II DPRD Situbondo.

Untuk mengatasi keluhan para petani tebu tersebut, akhirnya wakil rakyat melakukan hearing bersama pengurus Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) dan pihak pabrik gula di kantor DPRD Situbondo, Selasa (19/08/2025).

Hearing yang berlangsung pukul 10.00 WIB berlangsung cukup alot dan tidak ada solusi yang menguntungkan para petani tebu tersebut.

Ketua APTR Asembagus, Anggi Hermansyah mengatakan, meski hasil pertemuan tidak memberi solusi namun tetap akan mencari jalan untuk penyerapan gula petani itu.

"Ya paling tidak ada pinjaman dari pemerintah yang direncanakan sebesar Rp 1,5 trilun itu," kata Anggi usai hearing.

Anggi menjelaskan, gula petani tidak laku dilelang bukan karena kualitas kurang bagus, tetapi akibat membanjirnya gula rafinasi impor di pasaran.

Sehingga para pedagang takut membeli gula petani, padahal lebih murah dari gula rafinasi tersebut. "Jika bicara kualitas ya jauh dan lebih baik gula petani," tegasnya.

Anggi mengungkapkan, gula petani tidak laku di pasaran atau lewat lelang sudah berlangsung cukup lama. "Ada satu bulan lebih, gula kita tidak laku," ucapnya.

Sesuai harga pokok penjualan (HPP), gula petani dihargai sebesar Rp 1.450 per KG namun para pedagang menawarnya di bawah HPP.

"Ada yang menawar sebesar Rp 1.200 sampai .1300 per KG. Tetapi kami akan tetap mempertahankan sesuai HPP," bebernya.

Sementata General Meneger PG Asembagus, Mulyono membantah gula petani tidak laku, melainkan pada saat dilelang tidak ada yang menawar.

"Apa serapan pasar atau pembelinya yang tidak ada, seperti yang disampaikan anggota dewan ada indikasi sebaran gula rafinasi. Sehiingga produksi gula petani tidak terserap," kata Mulyono.

Dikatakan, sejauh ini memang tidak ada yang membeli gula petan dan bahkan sering kali gagal saat diikutkan lelang. "Kita sudah mengikuti delapan kali lelang," ujarnya.

Untuk mengatasi kebutuhan para petani tebu, lanjutnya, pihaknya telah berusaha melakukan peminjaman untuk operasional petani ke bank. "Kita telah upayakan dengan mengajukan pinjaman untuk operasional para petani,"kata Mulyono.

Dikonfirmasi terpisah, Ketua Komisi II DPRD Situbondo, Jainur Ridho mengatakan, pertemuan bersama APTR dan PG serta pihak perbankan bukannya tidak ada hasil, tetapi memang ada kendala SOP dari perbankan. "Mereka itu hanya petugas dan tidak berani mengambil langkah atau kebijakan," kata Jainur.

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved