Selasa, 21 April 2026

Direksi Borong Saham, BBCA Dinilai Sedang Diskon dan Siap Rebound

Direksi BCA borong saham BBCA saat pasar fluktuatif. Pengamat menilai valuasi murah & potensi rebound kuat, target bisa tembus Rp 10.000.

Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Cak Sur
istimewa/Dokumen BCA
KESEMPATAN - Ilustrasi transaksi saham BBCA. Pengamat ekonomi Rendy Yafta menyebut, saham BBCA berpotensi meningkat setelah adanya para direksi yang membeli saham BBCA di sepanjang kuartal I tahun 2026. 

Ringkasan Berita:
  • Direksi PT Bank Central Asia Tbk memborong saham BBCA saat pasar bergejolak, dinilai sebagai sinyal kuat prospek jangka panjang.
  • Valuasi BBCA dinilai murah dengan PER sekitar 15 kali, jauh di bawah Bank Jago Tbk yang mencapai 64 kali.
  • Pengamat menyebut potensi rebound besar, bahkan harga saham berpeluang menembus Rp10.000 per lembar.

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Aksi pembelian saham oleh jajaran direksi PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) di tengah fluktuasi pasar, dinilai sebagai sinyal kuat potensi kenaikan harga saham ke depan.

Pengamat pasar modal, Rendy Yefta, menyebut langkah tersebut bukan sekadar transaksi biasa, melainkan bagian dari strategi investasi yang terukur.

"Ketika para nahkoda kapal memborong tiket, itu tandanya kapal siap berlayar cepat," kata Rendy, Senin (20/4/2026).

Direksi Borong Saham di Tengah Fluktuasi

Menurut Rendy, aksi tersebut mencerminkan strategi buy on weakness, yakni membeli aset premium saat harga sedang terkoreksi.

"Aksi borong ini, menjadi bukti kuat bahwa pihak yang paling memahami kondisi 'dapur' perusahaan memiliki keyakinan tinggi terhadap prospek jangka panjang BCA," jelasnya.

Pada kuartal I 2026, sejumlah direksi BBCA tercatat melakukan pembelian saham dalam jumlah besar.

Direktur Utama Hendra Lembong membeli saham senilai Rp 7,93 miliar, diikuti Wakil Presiden Direktur John Kosasih sebesar Rp 4,37 miliar.

Direktur Keuangan Vera Eve Lim juga menambah kepemilikan saham senilai Rp 3,84 miliar.

Selain itu, Direktur Santoso mencatat transaksi Rp 3,46 miliar, Frenkie Candra Kusuma Rp 2,87 miliar, serta Lianawaty Suwono membeli 300.000 saham senilai Rp 2,1 miliar.

Poin-Poin Penting

  • Direksi BBCA membeli saham miliaran rupiah di tengah pasar fluktuatif
  • Strategi dinilai sebagai buy on weakness oleh pengamat
  • PER BBCA sekitar 15 kali, jauh lebih rendah dibanding ARTO
  • Fundamental BCA dinilai kuat dengan laba konsisten
  • Potensi harga saham menembus Rp10.000 dinilai realistis

Valuasi Dinilai Masih Murah

Rendy menilai, harga saham BBCA saat ini tergolong murah, jika dilihat dari rasio PER (Price to Earnings Ratio) yang berada di kisaran 15 kali.

"Jika orang-orang nomor satu di bank paling profitable di Indonesia ini melihat harga saat ini sebagai peluang emas, mengapa investor ritel justru ragu," ungkap Rendy.

Ia menambahkan, PER menjadi indikator yang lebih relevan untuk menilai saham perbankan, karena mencerminkan waktu pengembalian investasi dari laba perusahaan. Sebagai perbandingan, saham Bank Jago Tbk (ARTO) diperdagangkan pada PER sekitar 64 kali.

"Investor harus membayar valuasi lebih dari empat kali lebih mahal dibanding BBCA untuk setiap Rp 1 laba yang dihasilkan," terangnya.

Fenomena “Salah Harga” di Pasar

Perbedaan valuasi tersebut dinilai tidak sejalan dengan fundamental kedua perusahaan. BCA dinilai memiliki kinerja laba yang konsisten, jaringan kuat, serta basis dana murah (CASA) yang dominan.

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved