Selasa, 14 April 2026

Strategi Propnex Indonesia Hadapi Geopolitik: Fokus Pasar Sekunder dan Ekspansi

CEO Propnex Luckyanto ungkap pasar properti 2026 didominasi pasar sekunder hingga 80 persen di tengah tensi geopolitik global.

Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Cak Sur
Surya.co.id/Habibur Rohman
UPDATE PROPERTY MARKET - Dari kiri, COO PropNex Indonesia Erict Kurniawan, CMO PropNex Indonesia Lusiana, CEO PropNex Indonesia Luckyanto, CEO PropNex Singapore Kelvin Fong dan Senior Associate Branch District Director PropNex Singapore Nizam Gafoor (paling kanan) pada Annual Award dan Update Property Market 2026 di Ballroom Ciputra World Surabaya, Jawa Timur pada Rabu (8/4/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Propnex Indonesia memprediksi pasar properti 2026 akan stagnan hingga akhir tahun akibat pengaruh geopolitik global.
  • Pasar sekunder diperkirakan mendominasi hingga 80 persen market karena banyak pemilik high-end menjual aset di bawah harga pasar.
  • Propnex tetap ekspansi dengan target 5 kantor cabang baru di Jakarta dan peningkatan kualitas SDM berbasis teknologi digital.

 

SURABAYA, SURYA.CO.ID - Perusahaan agen properti Propnex Indonesia tetap melihat potensi pertumbuhan pasar properti nasional, meski dibayangi tekanan ekonomi domestik dan global.

CEO Propnex Indonesia, Luckyanto, mengungkapkan bahwa pasar properti sebenarnya berpeluang naik sejak awal tahun 2026.

"Namun karena ada geo-politik yang makin memanas sehingga kondisinya berubah. Pasar diperkirakan mengalami stagnasi hingga akhir tahun ini," kata Luckyanto di sela acara Propnex Annual Convention 2026 bertema The Blue Diamond Gala di Newlife Ballroom, Ciputra World Surabaya, Jawa Timur (Jatim) pada Rabu (8/4/2026).

Luckyanto menyebut banyak pengusaha yang saat ini memilih sikap wait and see. Bahkan, banyak pemilik properti terutama di segmen high-end yang melikuidkan asetnya dengan harga di bawah harga pasar.

"Mereka yang pegang duit, saat ini mulai mengincar properti yang dilepas dengan harga miring. Ini jadi opportunity bagi broker untuk memasarkan produknya terutama secondary. Tahun ini pasar secondary tetap akan mendominasi market 70 persen atau lebih," jelas Luckyanto.

Fokus pada Pasar Sekunder dan Ekspansi Kantor Cabang

Meskipun kondisi pasar properti sulit diprediksi, Propnex Indonesia tetap berkomitmen melakukan ekspansi pasar dengan membuka kantor cabang baru.

Tahun lalu, perusahaan telah membuka dua cabang di Bandung sebagai bagian dari rencana pertumbuhan.

Tahun ini, ditargetkan ada tambahan lima kantor cabang baru terutama di Jakarta karena wilayah tersebut merupakan pasar properti terbesar.

Di Surabaya sendiri saat ini sudah terdapat 7 kantor cabang, sementara secara nasional Propnex telah memiliki total 15 kantor cabang.

"Kami memang slowly dalam membuka kantor cabang baru. Sebab yang kami utamakan kualitasnya, bukan kuantity. Dan tahun ini konsepnya juga kami ubah, lebih banyak partnership, tidak sekedar franchise," ungkap Luckyanto.

Berikut adalah rincian performa dan strategi Propnex Indonesia tahun ini:

  • Mencatat penjualan sebesar Rp 2,5 triliun pada tahun 2025 atau tumbuh 10 persen dari tahun 2024.
  • Target tahun 2026 dipatok stagnan atau minimal sama dengan pencapaian tahun lalu akibat ketidakpastian geopolitik.
  • Melakukan peningkatan kualitas SDM agar lebih adaptif dengan sistem teknologi digital yang terintegrasi dalam aplikasi Propnex.
  • Komposisi pasar diperkirakan bergeser dari 70:30 menjadi 80 persen pasar sekunder dan 20 persen pasar primer.

Luckyanto menambahkan, bahwa saat ini banyak pengembang yang menahan ekspansi atau tidak menambah stok dalam jumlah besar.

"Pasalnya, selain banyak pemilik properti terutama di level high-end yang melepas propertinya dengan harga dibawah pasar, juga banyak developer yang bersikap wait and see. Mereka belum berani melakukan ekspansi atau menambah stok jumlah besar seperti sebelumnya," beber Luckyanto.

Dari sisi segmen, residensial berkontribusi sebesar 40 persen dan sektor industrial sebesar 30 persen. Sisanya berasal dari kategori lain dengan rentang harga yang paling dicari di bawah Rp 5 miliar.

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved