Cerita Pedagang Sayur yang Ikut Rasakan Manfaat Ekonomi dari Program MBG
MBG menciptakan multiplier effect yang signifikan, terutama bagi perekonomian masyarakat di sektor pangan.
Penulis: Lilis Nur Mukhlisoh | Editor: Content Writer
SURYA.CO.ID - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan inisiatif yang digagas langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.
Program ini dirancang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pemenuhan gizi yang lebih baik bagi masyarakat.
Diluncurkan pada 6 Januari 2025, MBG menyasar berbagai kelompok penerima manfaat, mulai dari peserta didik PAUD hingga SMA, balita, ibu hamil, hingga ibu menyusui.
Tujuan utamanya adalah memastikan generasi muda Indonesia tumbuh sehat, kuat, cerdas, dan bebas stunting.
Namun seiring berjalan, program ini terbukti membawa dampak yang jauh lebih luas dari sekadar memperbaiki gizi. MBG menciptakan multiplier effect yang signifikan, terutama bagi perekonomian masyarakat di sektor pangan.
Di berbagai daerah, kemitraan yang terbangun melalui MBG membuka peluang usaha baru dan membantu pedagang lokal mendapatkan pendapatan yang lebih stabil.
Salah satunya dirasakan oleh Tri Susanto, pedagang sayur di Kecamatan Kalikajar, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Sebelum terlibat dalam program ini, ia hanya mengandalkan pembeli harian di pasar.
Kini, ia menjadi salah satu penyuplai utama bahan pangan harian untuk dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalikajar 1 Purbalingga.
Setiap pagi, Tri dan timnya sudah bersiap di lapak sayurannya. Berbagai bahan pangan segar seperti bayam, wortel, sawi, hingga selada dikirim langsung ke dapur MBG.
Baca juga: Rencana Presiden Prabowo Buka Peternakan Sapi untuk Kebutuhan MBG, Badan Gizi Nasional Mulai Siapkan
Ia pun menjalin kerja sama dengan para petani setempat demi memastikan pasokan tetap lancar dan kualitas sayur terjaga.
“Yang merasakan dampaknya tentu bukan hanya saya, tetapi juga petani lokal karena saya ambil bahan dari mereka. Dulu harga sayur sering jatuh. Sejak ada MBG, permintaan meningkat, harga lebih stabil. Bahkan, saya bisa pekerjakan ibu-ibu sekitar untuk bantu bersihkan sayur. Semua dapat manfaat ekonominya,” ujar Tri.
Sejak dapur MBG di Purbalingga mulai beroperasi pada Juli 2025, permintaan sayur meningkat hingga dua kali lipat. Untuk memenuhi kebutuhan ribuan porsi yang harus disiapkan setiap hari, Tri bahkan menambah armada pengiriman.
Dampak serupa dirasakan Novianti Puji, pedagang sayur di Purworejo, Jawa Tengah. Sebelum terlibat dalam program ini, ia hanya mengandalkan pembeli harian yang fluktuatif, dengan pendapatan yang sering tidak menentu. Ketika cuaca buruk atau harga sayur jatuh, pendapatannya makin tertekan.
Perubahan terjadi saat ia dipercaya menjadi pemasok tetap untuk Sentra Penyediaan Pangan Gizi (SPPG) di wilayahnya. Melalui mekanisme pemesanan yang terintegrasi dan berkelanjutan, Novianti kini mendapatkan pendapatan rutin setiap minggu.
Pesanan harian yang pasti membuat usahanya lebih terencana, baik dalam pengadaan barang, logistik, maupun pengelolaan stok.
| Prabowo Mau MBG Fokus ke Anak Kurang Gizi, Apa Saja Kriteria Penerimanya? Begini Usulan Pengamat |
|
|---|
| Wakil Bupati Sidoarjo Sidak Dapur SPPG di Dua Desa, Pastikan Semua Sesuai Prosedur |
|
|---|
| PBNU Targetkan Seribu Titik SPPG se-Indonesia, Peresmian 27 SPPG PBNU di Lirboyo Kediri |
|
|---|
| Diduga Kurang Fokus Mobil MBG Tabrak Motor di Tuban, Dua Pengendara Dilarikan ke RS |
|
|---|
| Aksi Relawan MBG Joget di Dapur SPPG Berbuntut Panjang, Sanksi Menanti |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/MBG-Gresik-belum-bantu-pedagang.jpg)