Upaya Pemkot Temukan 14 Ribu Pasien TBC di Surabaya : Lakukan Deteksi Kontak Erat
Penanggulangan penyakit TBC masih menjadi atensi Pemerintah Kota Surabaya. Sebab, penemuan kasus TBC masih di bawah sasaran.
Penulis: Bobby Constantine Koloway | Editor: Cak Sur
SURYA.CO.ID, SURABAYA - Penanggulangan penyakit Tuberkulosis (TBC) di Kota Surabaya masih menjadi atensi Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Sebab, penemuan kasus TBC masih di bawah sasaran.
Mengutip data Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Timur, penemuan kasus TBC di Kota Surabaya pada 2024 baru mencapai 12.096 kasus, atau 75 persen dari estimasi 16.127 kasus.
Karenanya, pada 2025, estimasi kasus yang harus ditemukan pada 2025 masih mencapai 16.098 kasus.
Hingga Maret 2025, penemuan kasus TBC di Surabaya baru sebanyak 1.917 (11 persen).
"Kami menargetkan, Investigasi Kontak (IK) di tahun 2025 sebesar 100 persen,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya, Nanik Sukristina saat dikonfirmasi di Surabaya, Rabu (9/4/2025).
Dinkes Surabaya juga akan meningkatkan kolaborasi dengan berbagai sektor, dan melakukan kegiatan pencegahan peningkatan TBC. Di antaranya, melakukan investigasi kepada minimal 8 orang serumah atau kontak erat melalui gerakan Cak dan Ning.
Selain itu, Dinkes Surabaya akan menggelar kegiatan skrining kesehatan terintegrasi TBC-PTM dan TBC-anak. Serta, menggandeng Universitas Airlangga (UNAIR) dalam melakukan tatalaksana penanggulangan TBC anak.
Dengan memperluas jaringan layanan TBC, Dinkes juga melakukan MoU atau kerja sama dengan rumah sakit (RS) hingga klinik.
Upaya skrining TBC pada kelompok risiko tinggi (risti) seperti pasien HIV, DM (diabetes melitus), anak khususnya gizi kurang dan buruk, ISPA atau pneumonia, Covid-19 dan calon jemaah haji (CJH) juga digiatkan.
Dinkes Surabaya juga melakukan penguatan jejaring internal TBC dengan melibatkan peran lintas poli atau ruangan.
Seperti poli paru, poli anak, poli penyakit dalam, poli bedah, IGD, rawat inap dan sebagainya.
Sehingga, terduga TBC dan penemuan kasus TBC di RS.
"Selain itu, kami mengoptimalkan kolaborasi TBC-HIV, yang mewajibkan semua pasien TBC mengetahui status HIV-nya dan pasien HIV wajib melakukan screening TBC,” ujar Nanik.
Selain penguatan, Pemkot Surabaya juga melakukan pelacakan kasus pasien yang belum memulai pengobatan, LTFU (lost to follow-up) dan mangkir hingga pendampingan pasien TBC oleh tim ahli klinis (TAK) dan KOPI TBC.
Pemberian pelayanan pengobatan untuk pasien TBC bisa dilakukan di puskesmas satelit TBC Resisten Obat (RO), atau di RS rujukan TBC RO.
pasien TBC di Surabaya
Pemkot Surabaya
Dinkes Surabaya
kasus TBC di Kota Surabaya
Nanik Sukristina
Surabaya
surabaya.tribunnews.com
Doa Sholat Tahajud Arab, Latin dan Terjemahan yang Dicontohkan Rasulullah |
![]() |
---|
Harga Mobil Listrik VinFast Ada Dua Opsi, Curi Perhatian Pengunjung GIIAS Surabaya, |
![]() |
---|
Lirik Hal Laka Sirrun Indallah Arab, Latin dan Terjemahan |
![]() |
---|
GAC Indonesia Bawa GAC AION UT di GIIAS Surabaya 2025, Usung Teknologi AI Tercanggih |
![]() |
---|
Adakah Peluang Damai Dengan Lisa Mariana ? Pihak Ridwan Kamil: Biar Perkara Ini Berlanjut |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.