Minggu, 10 Mei 2026

Ramadan 2025

Merawat Kemabruran Puasa 19, dari Syukur ke Syakur

Seseorang baru disebut bersyukur manakala memberikan hak-hak orang lain dari harta yang Allah berikan kepada kita.

Tayang:
Editor: irwan sy
Istimewa
HIKMAH RAMADAN - Menteri Agama, Prof Dr KH Nasaruddin Umar MA. Seseorang baru disebut bersyukur manakala memberikan hak-hak orang lain dari harta yang Allah berikan kepada kita. 

Oleh: Menteri Agama, Prof Dr KH Nasaruddin Umar MA

SURYA.co.id - Ada tiga tingkatan syukur yang sering difahami secara rancu.

Pertama tahmid, yaitu mengucapkan lafaz alhamdulillah, saat kita memperoleh keberuntungan.

Kedua, syukur, yaitu menyandarkan segala nikmat itu kepada Sang Pemberi Nikmat, yaitu Allah SWT dengan sikap rendah diri.

Seseorang baru disebut bersyukur manakala memberikan hak-hak orang lain dari harta yang Allah berikan kepada kita.

Misalnya gaji dan pendapatan lain yang kita peroleh sebulan dikeluarkan minimum 2,5 persen kepada para mustahiq sebagai bagian dari zakat dan shadaqah kita.

Inilah yang disebutkan di dalam Alquran: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" (Q.S. Ibrahim/14:7).

Ketiga, syakur, yaitu orang-orang yang tidak hanya mensyukuri kenikmatan, kebahagiaan, dan keberuntungan, tetapi juga mensyukuri segala bentuk musibah, penderitaan, malapetaka, dan kekecewaan yang melanda dirinya.

Segala bentuk penderitaan dan kemalangan dianggapnya sebagai 'surat cinta' Tuhan.

Sekian lama ia dipanggil Tuhan dengan kenikmatan dan kebahagiaan tetapi tidak menyadarinya, bahkanterkadang mabuk dengan kemewahan dan kenikmatan hidup.

Nama Tuhan yang disebut ketika dalam keadaan bahagia dan senang tidak seakrab dan sedalam ketika di dalam suasana kepedihan dan penderitaan.

Tahmid dan syukur banyak dilakukan orang, lebih banyak lagi yang tidak bertahmid dan tidak bersyukur.

Syakur amat terbatas orang yang bisa sampai ke sana. Allah SWT juga menyatakan: “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba Ku yang berterima kasih". (Q.S. Saba’/34:13).

Syakur sebagai tingkat kesyukiran paling tinggi, dambaan semua orang.

Betapa tidak, orang yang sudah sampai di tingkatan ini dadanya akan lapang, selapang dengan samudra, sehingga betapapun banyak kotoran mengalir dari sungai tidak akan pernah bisa mengubah warna air samudra.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved