Selasa, 14 April 2026

Ramadan 2025

Jelang Ramadan 2026, Penjual Bunga Tabur Dadakan di Trenggalek Panen Cuan

Jelang Ramadan 2026, penjual bunga di Trenggalek raup Rp 700 ribu sehari. Meski harga naik, peziarah tetap antusias jalani tradisi.

Penulis: Sofyan Arif Candra Sakti | Editor: Cak Sur
Surya.co.id/Sofyan Arif Candra Sakti
TRADISI - Pedagang bunga tabur dadakan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Ngetal, Desa Ngetal, Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, Selasa (17/2/2026). Pedagang bBunga memanfaatkan momentum tradisi ziarah kubur menjelang Ramadan untuk mencari nafkah. 

Ringkasan Berita:
  • Penjual bunga tabur dadakan di Trenggalek Jawa Timur raup omzet hingga Rp 700 ribu per hari jelang Ramadan 2026.
  • Pedagang warung kopi beralih profesi sementara karena keuntungan jual bunga lebih menjanjikan dibanding kopi.
  • Peziarah mengeluhkan kenaikan harga bunga namun tetap membeli demi menjaga tradisi ziarah kubur.

 

SURYA.CO.ID, TRENGGALEK - Tradisi ziarah kubur menjelang bulan suci Ramadan 2026 membawa berkah tersendiri bagi warga Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur (Jatim). Fenomena pedagang bunga tabur dadakan bermunculan, meraup omzet yang jauh lebih besar dibanding hari biasa.

Pemandangan ini terlihat jelas di tepi Jalan Nasional Trenggalek - Tulungagung, tepatnya di depan Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Ngetal, Kecamatan Pogalan, Trenggalek, Selasa (17/2/2026).

Sejumlah penjual bunga tabur tampak sibuk menawarkan dagangannya kepada para peziarah yang silih berganti berdatangan.

Omzet Menggiurkan

Salah satu penjual bunga, Astuti, mengaku momen ini adalah kesempatan emas baginya. Sehari-hari, Astuti adalah penjual kopi di warung depan TPU Ngetal. Namun, setiap menjelang Ramadan dan Idul Fitri, ia banting setir menjadi penjual bunga.

"Sehari-hari jualan di warung kopi, sekarang jualan bunga. Kalau seperti saat ini warung kopinya ya tidak buka," ujar Astuti, Selasa (17/2/2026).

Keputusan Astuti beralih profesi sementara bukan tanpa alasan. Keuntungan menjual bunga tabur di momen megengan (jelang puasa) dinilai jauh lebih menggiurkan.

  • Omzet Harian: Astuti bisa mengantongi hingga Rp 700.000 dalam sehari. Angka ini jauh di atas pendapatannya saat berjualan kopi.
  • Harga Paket Bunga: Peziarah biasanya membeli paket bunga mulai dari Rp 15.000 hingga Rp 40.000, tergantung jumlah makam yang akan diziarahi.
  • Durasi Jualan: Ia mulai berjualan sekitar seminggu sebelum Ramadan dan akan berhenti satu atau dua hari sebelum puasa dimulai.

Demi memenuhi permintaan, Astuti tak hanya mengandalkan bunga dari pekarangannya sendiri. Ia juga membeli dari tetangga hingga mendatangkan stok dari tengkulak luar kota. Jenis bunga yang dijajakan pun beragam, mulai dari kenanga, bunga merah hingga pandan wangi.

Keluhan Peziarah

Di sisi lain, lonjakan harga bunga tabur tak terelakkan. Meifa, seorang peziarah di lokasi, mengakui adanya kenaikan harga yang signifikan dibanding hari biasa.

"Tadi beli bunga kenanga saja, Rp 5.000 dapat sedikit sekali. Kalau hari biasa bisa dapat dua kali lipat," ungkap Meifa.

Meski demikian, Meifa tetap membeli bunga tersebut. Baginya, ziarah kubur adalah tradisi turun-temurun yang wajib dilakukan setahun sekali untuk mendoakan leluhur.

"Setahun sekali, jadi harus disempatkan," pungkasnya.

Tradisi Nyadran dan Hukum Pasar

Lonjakan harga dan munculnya pedagang musiman ini berkaitan erat dengan tradisi Nyadran atau Megengan yang mengakar kuat di masyarakat Jawa Timur.  Tradisi ini dilakukan pada bulan Syaban (kalender Hijriah) atau Ruwah (kalender Jawa).

Inti dari tradisi ini adalah mendoakan leluhur dan membersihkan makam sebagai bentuk bakti serta penyucian diri menyambut bulan suci. 

Secara ekonomi, fenomena ini menciptakan lonjakan permintaan (high demand) yang masif dalam waktu singkat. 

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved