Kasus DBD di Surabaya Melonjak, Wakil Dekan FK Unair Ingatkan Cara Pencegahannya

Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Surabaya, mengalami lonjakan sejak akhir 2024 dan menyerang berbagai kelompok usia.

Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Cak Sur
Istimewa/Dokumen Pribadi
CEGAH DBD - Wakil Dekan III Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Dr Sulistiawati dr., M.Kes., memaparkan penerapan program 3M Plus untuk mencegah emam Berdarah Dengue (DBD). 

SURYA.CO.ID, SURABAYA – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Surabaya, mengalami lonjakan sejak akhir 2024 dan menyerang berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga dewasa. 

Hal ini juga ditindaklanjuti Pemerintah Kota Surabaya dengan menerbitkan Surat Edaran Nomor 400.7.9.2/2713/436.7.2/2005 untuk mengantisipasi peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) selama musim hujan.

Faktor lingkungan dan kondisi iklim yang mendukung perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, disebut sebagai penyebab utama peningkatan kasus.

“Nyamuk ini lebih suka bertelur di air bersih, bukan air kotor. Oleh karena itu, kita harus waspada pada kondisi-kondisi iklim yang mendukung perkembangbiakannya. Jika tempat berkembang biak nyamuk semakin mendukung, maka penyebaran virus akan lebih cepat,” ujar Dr Sulistiawati dr., M.Kes., Wakil Dekan III Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair), Kamis (13/2/2025).

Untuk menekan angka kasus DBD di Surabaya, Sulistiawati menekankan pentingnya penerapan program 3M Plus.

Yaitu menguras, menutup dan mendaur ulang tempat penampungan air, serta menambah langkah tambahan seperti menanam tanaman pengusir nyamuk dan menggunakan kelambu.

"Jika program 3M Plus dilakukan secara rutin dan kompak oleh seluruh masyarakat, maka kasus DBD dapat ditekan. Namun, jika hanya sebagian yang menjalankan, efektivitasnya berkurang," jelasnya.

Selain pencegahan, Sulistiawati juga menekankan pentingnya mengenali gejala awal DBD, agar segera mendapatkan penanganan medis.

“Ada yang hanya merasa lemas, ada yang demam tinggi dan ada yang mengalami perdarahan hingga syok,” katanya. 

Sulistiawati juga menyarankan, agar penderita DBD menjaga cairan tubuh dengan rutin mengonsumsi air putih guna mencegah dehidrasi.

Terkait konsumsi jus jambu yang kerap dikaitkan dengan peningkatan trombosit, Sulistiawati menjelaskan, bahwa minuman tersebut kaya vitamin dan mineral, tetapi tidak serta-merta dapat menggantikan perawatan medis. 

Jika ada komplikasi lain seperti gangguan pencernaan, ia menyarankan untuk berkonsultasi dengan dokter.

Sulistiawati menegaskan, bahwa pencegahan DBD membutuhkan upaya kolektif dan konsistensi dalam pengendalian nyamuk. 

"Jika kita semua kompak dan menjalankan langkah-langkah pencegahan dengan baik, kasus DBD dapat diminimalkan," tutupnya.

Sumber: Surya
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved