SURYA Kampus

Sosok Baiq Shareny Penghafal Al Quran yang Lulus Cumlaude Program Sarjana Kedokteran UNIZAR, IPK 4

Inilah sosok Baiq Shareny Aprina Putri, yang lulus program Sarjana Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar (UNIZAR), Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Penulis: Arum Puspita | Editor: Musahadah
UNIZAR
MAHASISWI BERPRESTASI - Baiq Shareny Aprina Putri menjadi mahasiswi yang mengikuti yudisium Program Studi Pendidikan Dokter, FK, UNIZAR, Selasa (11/02/25) 

SURYA.CO.ID - Baiq Shareny Aprina Putri lulus Sarjana Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar (UNIZAR), Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). 

Bukan sekadar lulus, ia juga meraih predikat Cumlaude karena mendapat Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna, yakni 4.00.

Gadis kelahiran 23 April 2003 ini memang dikenal sebagai sosok yang rajin dan berprestasi.

Selain dalam bidang akademik, anak dari pasangan Lalu Arjawi dan Baiq Subaedah ini juga dikenal sebagai penghafal Al Quran. 

Baiq sangat bangga atas pencapaiannya.  

“Saya merasa sangat bahagia, tetapi di balik IPK 4.00 ini ada tanggung jawab besar yang harus saya emban."

"Ekspektasi orang-orang terhadap saya tentu tinggi, dan ini menjadi tantangan untuk terus menjaga serta meningkatkan kualitas diri, terutama saat memasuki masa koas nanti,” ujarnya, dikutip SURYA.CO.ID dari laman Unizar.ac.id. 

Kendati begitu, Baiq Shareny menyadari hal ini masih awal bagi perjalanan kariernya menjadi dokter.

“Ini baru awal dari perjuangan saya untuk menjadi lebih baik."

"Saya harus terus berusaha agar bisa tetap mempertahankan kualitas akademik, serta menerapkan ilmu yang telah saya pelajari selama masa preklinik ke dalam praktik saat koas nanti,” tambahnya.

Baca juga: Kisah Pilu Lansia Lumpuh yang Sebatang Kara di Rumah Tak Layak Huni, Keluarga Ogah Mengurus

Ketika ditanya tentang strategi belajarnya, Baiq Shareny mengungkapkan bahwa kunci keberhasilannya terletak pada kualitas belajar, bukan sekadar kuantitas.

“Saya lebih memprioritaskan waktu belajar yang berkualitas dibandingkan dengan belajar dalam waktu yang lama."

"Bagi saya, waktu paling efektif untuk belajar adalah saat dini hari, setelah sholat tahajud atau subuh, karena pikiran sudah lebih segar dan siap menyerap ilmu,” jelasnya.

Ia juga menghindari metode belajar dengan sistem kebut semalam.

“Saya lebih suka belajar secara konsisten setiap hari, minimal satu jam. Konsistensi lebih penting dibandingkan belajar dalam waktu panjang tetapi tidak efektif,” ungkapnya.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved