Berita Viral

Alasan Mulia Wiga Jadi Guru Honorer Meski Dibayar Rp 200 Ribu dan Sisihkan Gaji untuk Bantu Siswa

Di balik kisah Bu Wiga, guru honorer di Banyuwangi, Jawa Timur, terkuak fakta tak terduga. 

Penulis: Arum Puspita | Editor: Musahadah
Kompas.com
Bu Wiga, guru honorer di Banyuwangi bersama murid-muridnya 

SURYA.CO.ID - Di balik kisah Bu Wiga, guru honorer di Banyuwangi, Jawa Timur, terkuak fakta tak terduga. 

Seperti diketahui, sosok Bu Wiga kali pertama viral setelah mengunggah video ketika dirinya membuka amplop berisi gaji sebagai guru honorer.

Bukan berisi uang jutaan, amplop itu hanya berisi dua lembar uang Rp 100 ribu. 

Meski hanya menerima Rp 200 ribu, Wiga tetap bersyukur dengan mengucap, "Alhamdulillah, semoga semua yang sudah kita kerjakan menjadi ladang barokah dan pahala untuk kita semua."

Saat ditemui awak media, Bu Wiga mengaku ikhlas mengabdikan diri sebagai pendidik. 

Sejak awal, guru honorer di sekolah menengah pertama (SMP) swasta di Kecamatan Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim) ini sudah mengetahui konsekuensi mengajar di tempatnya bekerja. 

"Saya tahu sejak awal gajinya Rp 200.000. Enggak kaget karena memang jumlah siswanya minim," kata Wiga dikutip dari Kompas.com.

Lantaran, ia menyadari kondisi sekolah tersebut yang memprihatinkan.

Awalnya sekolah tersebut, kata Wiga, hanya memiliki 40 siswa, 4 guru, dan kepala sekolah.

"Sekolah tempat saya mengajar antara ada dan tiada. Padahal sekolahnya sudah lama, bahkan kakek saya dulu mengajar di sini. Papa saya dan keluarganya juga sekolah di sini." 

Baca juga: Kisah Bu Wiga Guru Honorer Rela Sisihkan Gaji untuk Bantu Siswa, Padahal Sebulan Dapat Rp 200 Ribu

Awal Jadi Guru

Wiga lantas menceritakan awal mula dirinya menjadi guru honorer.

Setelah menyelesaikan pendidikan SMA di Banyuwangi, Wiga merantau ke Kota Malang.

Ia pun menikah di sana. 

Pada 2021, ia dan keluarga kecilnya kembali ke Banyuwangi.

Baca juga: Perjuangan Rendi Arif Pemuda Disabilitas yang Lolos Bintara Polri, Sempat Minder karena Dibully

Suami Wiga mengajar sebagai guru honor di SMA di Kabupaten Banyuwangi.

Wiga awalnya memilih menjadi ibu rumah tangga yang mengurus dua anak.

Namun, seorang kerabat menawarkan pekerjaan sebagai pengajar di SMP swasta di dekat rumahnya.

Menurut Wiga, di sekolah tersebut statusnya adalah guru honorer dan datanya tidak masuk dalam data pokok pendidikan (dapodik).

"Syaratnya memang dua tahun mengajar untuk masuk dapodik. Sempat ditawari."

"Tapi saya memilih untuk tidak, karena saya masih punya mimpi yang belum terwujud. Jika disebut relawan mengajar, ya bisa juga," kata ibu dua anak tersebut.

Saat pertama mengajar, Wiga mengaku kondisi sekolahnya sangat memperihatinkan karena sarana dan prasarana yang jauh dari kata layak.

Wiga, guru honorer di Banyuwangi, bersama murid-muridnya
Wiga, guru honorer di Banyuwangi, bersama murid-muridnya (Kolase Kompas.com)

"Kelas yang bisa digunakan hanya satu, jadi bergantian. Termasuk kursi-kursinya juga banyak yang rusak. Kalau hari pendek, ada yang belajar di kelas, di ruang guru dan perpustakaan," ujarnya.

Menurut Wiga, sebelum Penerimaan Peserta Didik Baru, biasanya SMP akan memperkenalkan sekolahnya di SD-SD sekitar.

Namun tidak untuk sekolah tempat Wiga mengajar.

Saat PPDB berlangsung, dia akan mencari anak yang putus sekolah agar bisa melanjutkan pendidikan di tempatnya mengajar.

"Pertama kali mengajar, saya ajak anak tetangga. Saya datangi satu per satu agar mereka mau sekolah."

"Saya bilang enggak usah bayar seragam, enggak usah bayar apa-apa."

"Untuk SPP bisa bayar semampunya. Mau Rp 10.000, mau Rp 5.000 tidak masalah. Yang penting anak-anak mau sekolah," kata Wiga.

"Saya jemput, saya ajak sekolah karena sebelumnya memang berhenti setelah lulus SD. Ada juga murid saya yang jadi pengamen di jalan," kata Wiga sambil tersenyum.

Tak hanya itu, selama ini mereka juga tak menggelar upacara karena tak memiliki pengeras suara.

"Murid saya tanya bu kapan upacara. Saya jawab nanti ya kalau ada pengeras suara karena memang pengeras suara yang lama sudah rusak," kata dia.

Selain itu, ia juga mengajarkan murid-muridnya menabung setiap hari Rp 1.000 agar bisa digunakan untuk membayar biaya ijazah jika lulus SMP.

"Kenapa mewajibkan menabung Rp 1.000 ya untuk kebutuhan mereka nanti saat lulus karena sekarang banyak ijazah yang tidak diambil karena kendala ekonomi," kata dia.

Selama menjadi guru di SMP tersebut, Wiga mendapatkan banyak pengalaman salah satunya adalah pendidikan yang tidak menjadi prioritas orang tua.

Selain itu banyak muridnya yang berasal dari keluarga yang kekurangan, baik kekurangan ekonomi dan kasih sayang. Alasan itu yang menjadi dasar ia tetap mengajar, walau menerima gaji Rp 200.000 per bulan.

"Saya ibu dengan dua anak dan menyadari bahwa pendidikan ini penting buat mereka. Dan mengajar adalah kebahagian buat saya," kata dia.

Tak hanya itu, setelah pandemi Covid-19, ia sempat terkejut saat tahu banyak siswa SMP yang ia ajar tak lancar membawa dan menulis.

"Sekolah ini kan memfasilitasi murid untuk belajar, di rumah nanti harus diulangi lagi dan ada peran orang tua. Tapi di sini peran orang tua sangat minim," kata dia

Selain itu Wiga juga bercerita, gaji Rp 200.000 yang didapatkan tak seluruhnya ia gunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi sebagian untuk siswanya.

"Kadang saya tanya butuh apa? Buku, tas atau sepatu atau jajan. Saya enggak bilang semua gaji untuk murid-murid saya, tapi sebagian memang untuk mereka," kata Wiga.

Menurutnya kebutuhan keluarga dipenuhi oleh penghasilan sang suami yang bekerja sebagai guru honorer di salah satu SMA.

"Saya selalu berdoa agar suami diberikan rezeki yang cukup dan juga bisa lolos P3K. Doanya yaa," kata dia.

===

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam Whatsapp Channel Harian Surya. Melalui Channel Whatsapp ini, Harian Surya akan mengirimkan rekomendasi bacaan menarik Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Persebaya dari seluruh daerah di Jawa Timur.  

Klik di sini untuk untuk bergabung 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved