Berita Surabaya

PT Sinergi Gula Nusantara Dorong Penguatan Petani Buat Amankan Pasokan Tebu untuk Swasembada Gula

Target pengembangan lahan SGN Tahun 2024 seluas 2536 hektare yang akan didapat melalui Agroforestri, sewa lahan tebu serta kerja sama dengan perhutani

Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: irwan sy
sri handi lestari/surya.co.id
Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) anak perusahaan PTPN III (Persero) Holding Perkebunan, Mahmudi (dua dari kanan), bersama Jaka Widada, Dekan FP UGM (paling kanan) saat FGD bertema Tata Kelola Tebu Rakyat Sebagai Penguatan Supply Bahan Baku Menuju Swasembada Gula Nasional 2028. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Setiap upaya dalam pencapaian swasembada gula nasional, harus melibatkan petani tebu, bahkan harus berefek pada peningkatan kesejahteraan mereka.

Karena lebih dari 80 persen pasokan bahan baku tebu pabrik gula SGN merupakan tebu petani, sehingga SGN memandang perlunya strategi untuk menguatkan posisi petani tebu diantaranya peningkatan produktivitas tebu hingga penguatan pola sistem bagi hasil (SBH) yang telah menjadi spirit kemitraan pabrik gula dengan petani sedari dulu.

"BBT sebagian besar dari petani, untuk itu posisinya harus kita kuatkan, di antaranya meningkatkan produktivitas tebu yang akan berefek pada pendapatan petani. Kemitraan SBH juga menguntungkan petani, ini kita kuatkan juga sehingga tidak terjebak pada pola transaksional dengan meninggalkan kualitas BBT", kata Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) anak perusahaan PTPN III (Persero) Holding Perkebunan, Mahmudi, saat hadir dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di Fakultas Pertanian Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta Selasa (2/7/2024).

Target pengembangan lahan SGN Tahun 2024 seluas 2.536 hektare yang akan didapat melalui Agroforestri, sewa lahan tebu serta kerja sama dengan perhutani.

"Selain intensifikasi kami juga melakukan ekstensifikasi dengan KSO pengelolaan lahan dengan Supporting co, kerja sama dengan perhutani dan sewa lahan tebu. Ini bagian dari roadmap pencapaian swasembada gula nasional", ungkap Mahmudi.

Peta jalan (roadmap) tersebut mengacu peraturan pemerintah nomor 40 tahun 2023 tentang Percepatan Swasembada Gula dan Bioetanol, untuk mencapai sasaran tahun 2030 ada lima poin utama.

Kelima poin itu yaitu peningkatan produktivitas tebu sebesar 93 ton per hektare melalui perbaikan praktik agrikultur berupa pembibitan, penanaman, pemeliharaan tanaman dan tebang muat angkut; penambahan areal lahan baru perkebunan tebu seluas 700.000 hektare yang bersumber dari lahan perkebunan, lahan tebu rakyat dan lahan kawasan hutan; peningkatan efisiensi, utilisasi, dan kapasitas pabrik gula untuk mencapai rendemen sebesar 11,2 persen; peningkatan kesejahteraan petani tebu; dan peningkatan produksi bioetanol yang berasal dari tanaman tebu paling sedikit 1.200.000 kL.

Jaka Widada, Dekan Fakultas Pertanian UGM, dalam kesempatan yang sama menyatakan, pencapaian swasembada gula nasional memerlukan dukungan semua pemegang kepentingan salah satunya akademisi.

"Untuk itu kami membuka Learning Cane Center di UGM, sebagai dukungan untuk meningkatkan kompetensi para praktisi industri," tambah Jaka.

Hadir dalam kesempatan tersebut, hadir Direktur Jenderal (Dirjen) Perkebunan Kementerian Pertanian, Andi Nur Alamsyah, yang mengatakan, perbaikan tata kelola tebu rakyat saat ini sangatlah perlu terobosan.

"Terutama menyikapi kondisi tanaman tebu petani yang mayoritas kondisi tanamannya merupakan tanaman keprasan yang lebih dari 4 tahun dengan totalĀ  hampir lebih dari 90 persen tebu rakyat merupakan tanaman keprasan," kata Andi.

Menyikapi kondisi itu, perlu upaya-upaya perbaikan tata Kelola tebu rakyat dari mulai hulu sampai hilir, baik itu dalam pengelolaan benih, pupuk, pengairan, pemeliharaan, mekanisasi, pengendalian OPT sampai dengan pengelolaan panen dan pasca panen.

"Upaya lainnya dalam memperbaiki tata kelola tebu rakyat yang tidak kalah penting adalah dalam penyediaan permodalan, diperlukanĀ  model permodalan yang paling tepat sehingga kemudahan dan keamanan pemodal untuk usaha tani tebu diperlukan penyesuaian," jelas Andi.

Model Kredit Permodalan yang menjadikan Pabrik Gula (PG), sebagai avalis merupakan salah satu model penyediaan modal yang dahulu cukup efektif.

Selain itu penguatan kelembagaan petani agar petani lebih berdaya saing dan memiliki kekuatan tawar kepada Pabrik Gula maupun pedagang gula.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved