Jumat, 24 April 2026

Berita Surabaya

Seminar di UT Surabaya: Perilaku Santun dalam Bermedsos Perlu Terus Digaungkan

Budaya penggunaan media sosial yang baik dan santun perlu terus digaungkan di tengah perkembangan teknologi informasi yang kian pesat.

Penulis: Yusron Naufal Putra | Editor: Cak Sur
Istimewa
Narasumber saat menyampaikan materi dalam Seminar Akademik bertajuk Membangun Budaya Santun Dalam Bermedia Sosial untuk Menjaga Keutuhan Bangsa yang digelar oleh Universitas Terbuka Surabaya secara daring, Selasa (5/3/2024). 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Budaya penggunaan media sosial (Medsos) yang baik dan santun perlu terus digaungkan di tengah perkembangan teknologi informasi yang kian pesat.

Hal ini menjadi tanggung jawab bersama. Sebab, pembentukan kultur sehari-hari memiliki pengaruh besar terhadap perilaku di medsos.

Pembahasan ini mengemuka dalam Seminar Akademik bertajuk Membangun Budaya Santun Dalam Bermedia Sosial untuk Menjaga Keutuhan Bangsa yang digelar oleh Universitas Terbuka (UT) Surabaya, Selasa (5/3/2024).

Ada dua pembicara yang hadir dalam diskusi daring ini, yakni Menteri BUMN 2011-2014 Dahlan Iskan dan Guru Besar Pendidikan Matematika Prof Maximus Gorky Sembiring. Serta, dihadiri sekitar 1500 lebih peserta calon wisudawan UT Surabaya.

Dahlan Iskan dalam materinya memaparkan bagaimana pentingnya pembentukan kultur dalam kehidupan sehari-hari untuk perlahan menjadikan perilaku bermedsos yang baik. Di antara yang memiliki andil dalam pembentukan kultur adalah di sekolah melalui peran guru.

"Guru sekarang luar biasa pentingnya untuk menciptakan kultur ini. Karena, waktu anak yang terbanyak sekarang kan ada di sekolah," kata Dahlan yang mengikuti diskusi ini dari Riyadh Arab Saudi melalui sambungan zoom.

Dahlan percaya, hal ini bakal efektif membentuk kultur santun dalam bermedsos. Meski begitu, hal ini juga menjadi tantangan bagi guru untuk mulai beradaptasi baik dari metode dan cara penyampaian kepada murid. Peran guru dalam pembentukan kultur dalam setiap masa sangatlah penting.

Bullying belakangan banyak terjadi di media sosial. Dahlan mengaku ikut prihatin terhadap fenomena ini.

Disadari, bullying memang rentan terjadi di medsos lantaran komunikasi yang terbangun cenderung satu arah. Yakni, komunikasi yang tidak bisa melihat ekspresi lawan bicara.

Hal ini turut mempengaruhi, sehingga membully di medsos seolah tanpa beban. Kondisi ini berbeda jika komunikasi secara langsung dengan saling melihat ekspresi lawan bicara. Hal ini harus disadari bersama. Hal lain yang juga perlu dibangun adalah kultur mengucapkan pujian.

"Itu adalah cara yang terbaik untuk melawan bullying dan sikap tidak baik di medsos. Sehingga, menggalakkan pujian itu begitu pentingnya. Ini tentu harus digalakkan. Dengan demikian positivisme akan jadi lawan terbaik dari negativisme di medsos," ungkap salah satu tokoh pers tersebut.

Sementara itu, Prof Maximus Gorky Sembiring mengungkapkan, setiap individu punya peran untuk membangun perilaku baik di medsos dalam menjaga keutuhan bangsa.

"Kita harus membangun budaya sopan di medsos, untuk keutuhan bangsa dalam konteks Indonesia yang beragam," ujarnya.

Direktur UT Surabaya Dr Suparti mengungkapkan, pihaknya sengaja menggelar seminar dengan bahasan medsos seperti itu.

Sebab, UT Surabaya sadar sebagai perguruan tinggi harus memastikan lulusan yang dihasilkan harus sesuai dengan norma di masyarakat.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved