Pilpres 2024

Biodata Wiranto Mantan Panglima ABRI yang Video Lawasnya Viral Lagi, Bahas Pemecaran Prabowo

Inilah biodata Wiranto, mantan Panglima ABRI era Soeharto, yang video lawasnya soal pemecatan Prabowo Subinato viral lagi.

Editor: Akira Tandika
Kolase Surya.co.id
Viral video lawas Wiranto yang bahas pemecatan Prabowo Subianto dari ABRI. 

SURYA.CO.ID - Inilah biodata Wiranto, mantan Panglima ABRI era Soeharto, yang video lawasnya soal pemecatan Prabowo Subinato viral lagi.

Video lawas Wiranto yang membahas soal pemecatan Prabowo Subianto dari ABRI kembali viral bersamaan dengan pemberian pangkar jenderal Bintang 4 oleh Presiden Joko Widodo.

Seperti diketahui, Joko Widodo memberikan pangkat Jenderal Bintang Empat Kehormatan kepada Prabowo Subianto, Rabu (28/2/2024).

Bersamaan dengan itu, video pernyataan mantan Panglima ABRI Wiranto yang mencopot bintang tiga dari bahu Prabowo Subianto kembali viral di media sosial.

Adapun dalam pernyataannya saat menjadi Panglima ABRI, Wiranto menyebut bahwa memberhentikan Prabowo Subianto.

Baca juga: Profil Setara Institute yang Sebut Pemberian Gelar Jenderal Kehormatan Prabowo Menghina Korban HAM

Namun tidak ada kata pemecatan tidak hormat pada pernyataan Wiranto tersebut.

Wiranto hanya menyebut Letnan Jenderal Prabowo Subianto diakhiri masa dinasnya dalam angkatan bersenjata republik Indonesia (ABRI).

Namun video Wiranto yang menegaskan Prabowo Subianto dipecat di ABRI kembali viral di media sosial.

Viral video lawas Wiranto yang bahas pemecatan Prabowo Subianto dari ABRI.
Viral video lawas Wiranto yang bahas pemecatan Prabowo Subianto dari ABRI. (Kolase Surya.co.id)

Dalam video Wiranto menegaskan bahwa Prabowo Subianto dipecat dari ABRI karena melanggar Satpamarga, etika prajurit, dan undang-undang.

Hal itu kata Wiranto sudah disepakati oleh Dewan Kehormatan Perwira (DKP) yang mengusut tentang keterlibatan militer pada kasus penculikan 1998.

Baca juga: Langkah Jokowi Kebablasan? Diisukan Ikut Susun Kabinet Prabowo-Gibran hingga Tuai Reaksi Pakar

Adapun berdasarkan penulusuran Warta Kota, pernyataan Wiranto tersebut dibuat pada Pilpres 2014.

Di mana saat itu Prabowo Subianto sebagai Capres melawan Joko Widodo (Jokowi) menampik telah dipecat dari ABRI.

Dalam pernyataannya tersebut, Wiranto memberikan klarifikasi karena namanya disebut oleh Prabowo Subianto di debat Capres 2014 lalu.

Video pernyataan Wiranto yang menegaskan pemecatan Prabowo Subianto dari ABRI dimuat Kompas Tv pada 20 Juni 2014.

Lalu, seperti apa sosok Wiranto? Berikut biodata lengkapnya.

Biodata Wiranto

Melansir dari Tribunnewswiki, Wiranto dilahirkan di Yogyakarta pada 4 April 1957 dari pasangan suami istri RS Wirowijoto dan Suwarsih.

Wiranto merupakan anak keenam dari sembilan bersaudara.

Ketika usianya baru satu bulan, Wiranto harus pindah bersama keluarganya ke Surakarta karena agresi militer Belanda yang menyerang Yogyakarta.

Wiranto mempersunting seorang perempuan bernama Rugiya Usman.

Dari pernikahannya dengan Rugiya Usman, Wiranto dikaruniai tiga orang anak yaitu Amalia Santi, Ika Mayasari, dan Zainal Nur Rizky.

Namun putra ketiga Wiranto ini meninggal dunia ketika tengah menuntut ilmu di Afrika Selatan karena sakit pada tahun 2013. (1)

Karena pindah ke Surakarta, Wiranto menyelesaikan pendidikan dasar sampai SMA-nya di kota tersebut juga.

Lulus dari SMA Negeri 4 Surakarta, Wiranto melanjutkan pendidikannya di sekolah militer, yaitu Akademi Militer Nasional (AMN) Magelang sampai tahun 1968.

Lulus dari AMN, Wiranto fokus dengan kariernya di dunia militer.

Baru setelah menjelang penghujung kariernya di militer, pada tahun 1995 Wiranto melanjutkan pendidikannya di Universitas Terbuka mengambil Jurusan Administrasi Negara.

Setahun berikutnya, pada 1996, Wiranto pindah ke Perguruan Tinggi Ilmu Hukum Militer dan berhasil mendapat gelar sarjananya.

Wiranto kembali melanjutkan studinya dengan mengambil program magiste di STIE IPWIJA mengambil jurusan manajemen.

Wiranto pun berhasil meraih gelar magisternya tersebut pada tahun 2006.

Wiranto kembali melanjutkan kuliahnya dengan mengambil program doktoral bidang Manajemen Sumber Daya Manusia di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang selesai pada tahun 2013. (2)

Wiranto juga berkarier di dunia bisnis. Salah satu bisnis yang ia jalani adalah ketika ia menjabat sebagai Presiden Komisaris PT Ujung Genteng Indonesia (UGI) yang bergerak di bidang properti pada tahun 2004.

Wiranto mulai merintis kariernya di bidang militer setelah ia lulus dari AMN pada tahun 1968 di Korps Kecabangan Infanteri.

Kariernya perlahan terus merangkak, mulai naik pada tahun 1983 sebagai Karoteknik Ditbang Pussentif.

Setahun berikutnya Wiranto diangkat menjadi Kadep Milnik Pussentif, lalu menjadi kasbrigif-9 Kostrad, Maasops Kas Kostrad, serta Asops Kasdivif-2 Kostrad pada tahun 1988.

Namanya mulai diperhitungkan ketika Wiranto dipilih menjadi Ajudan Presiden Soeharto pada tahun 1989 sampai 1993.

Kariernya terus naik ketika ia didapuk sebagai Kasdam Jaya pada tahun 1993 sampai 1994 sebelum akhirnya diangkat sebagai Pandam Jaya dari tahun 1994 sampai 1996.

Pada tahun 1996, Wiranto diangkat menjadi Pangkostrad sampai 1997 dan kemudian diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) sejak 1997 sampai 1998.

Puncak kariernya dimiliter adalah ketika Wiranto diangkat menjadi Panglima ABRI oleh Presiden Soeharto pada tahun 1998 dan menjabat sampai tahun 1999. (3)

Pasca gulingnya Presiden Soeharto, Wiranto kemudian diangkat menjadi Menteri Pertahanan dan Keamanan Kabinet Reformasi dan menjabat sejak 1998 sampai 1999.

Di era Presiden Abdurrahman Wahid, namanya kembali mengisi kursi kabinet. Wiranto ditunjuk kembali oleh Presiden Abdurrahman Wahid untuk menjadi Menteri Koordinator Politik dan Keamanan.

Namun di tengah masa jabatannya, Wiranto kemudian dinonaktifkan karena kasus pelanggaran HAM di Timor Timur pada tahun 1999 yang melibatkan dirinya.

Wiranto bersama lima perwira lain didakwa oleh pengadilan PBB terlibat dalam kekerasan yang menyebabkan 1.500 warga Timor Timur itu tewas.

Namun pengadilan HAM Indonesia menolak keputusan tersebut dan melakukan penyelidikan terhadap perwira dan aparat yang diduga terlibat.

Penolakan tersebut dianggap sebuah pelecehan dan membuat Departemen Luar Negeri Amerika Serikat marah, akhirnya Wiranto beserta temannya dilarang masuk ke wilayah Amerika Serikat. (4)

Meski begitu, Wiranto tetap berkarier di dunia politik.

Pada tahun 2004, Wiranto bahkan maju sebagai calon presiden dari Partai Golkar berpasangan dengan Salahudin Wahid setelah memenangkan konvensi capres yang digelar oleh Partai Golkar.

Namun dalam pemilu ini Wiranto kalah dan harus mengakui keunggulan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla yang kemudian menjadi presiden dan wakil presiden Indonesia.

Wiranto tidak putus asa, setelah mendirikan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) pada tahun 2006, ia kembali maju dalam Pemilu 2009 mewakili Jusuf Kalla.

Lagi-lagi harapannya kandas, lagi-lagi Wiranto kembali harus mengakui kemenangan Susilo Bambang Yudhoyono yang dalam Pemilu 2009 berpasangan dengan Boediono.

Wiranto kemudian fokus untuk membesarkan parai politik bentukannya.

Pada tahun 2013, Wiranto kembali mendeklarasikan diri sebagai calon presiden berpasangan dengan pemilik MNC Grup, Harry Tanoe Soedibjo.

Namun keduanya gagal maju dan harus berpisah karena suara yang diraih oleh Partai Hanura tidak memenuhi syarat untuk mencalonkan presiden.

Sedangkan partai lain tidak ada yang memberikan dukungan kepada pasangan tersebut.

Akhirnya Wiranto merapat ke kubu Joko Widodo untuk melawan pasangan Prabowo Subianto – Hatta Rajasa dalam Pilpres 2014.

Joko Widodo kemudian mengangkat Wiranto sebagai Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) dalam reshuffle kabinet yang dilakukan Jokowi.

Wiranto menggantikan posisi Luhut Binsar Panjaitan yang kemudian diangkat oleh Joko Widodo sebagai Menteri Koordinator Kemaritiman.

Sumber: Warta Kota
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved