Kamis, 7 Mei 2026

Pemilu 2024

Gardu Pemilu Buka Diskusi Publik, Agar Rakyat Melek Politik, Waspadai Populisme dan Otoritarianisme

populisme dan otoritarianisme mulai menggejala dengan semakin menyempitnya ruang-ruang demokrasi yang dibangun sejak reformasi.

Tayang:
Penulis: Sugiyono | Editor: Deddy Humana
surya/mochamad sugiyono
Kegiatan Gardu Pemilu dalam diskusi publik di CFD, Jalan Jaksa Agung Suprapto, Gresik, Minggu (4/2/2024). 

SURYA.CO.ID, GRESIK - Gardu Pemilihan Umum (Pemilu) mengadakan diskusi publik di Car Free Day (CFD) di Jalan Jaksa Agung Suprapto, Kabupaten Gresik. Kegiatan tersebut dalam rangka memberi pendidikan politik kepada masyarakat luas, Minggu (4/2/2024).

Koordinator Gardu Pemilu Gresik, Nensi Indriyanti mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat menyaksikan keadaan yang mengkhawatirkan. Yaitu munculnya kembali populisme dan otoritarianisme sebagai suatu bentuk arus balik dari gerakan demokratisasi di berbagai belahan dunia.

Sehingga Gardu Gresik lahir dengan visi mewujudkan gerakan sosial yang masif, menjadi penjaga Pemilu yang jujur, adil, damai, dan bermartabat tersebut.

“Tujuan Gardu Pemilu adalah menggerakkan masyarakat sipil yang responsif dalam mengawal berlangsungnya pemilu jujur, adil, damai dan bermartabat. Juga melakukan pendidikan politik untuk para pemilih, agar menciptakan Pemilu yang bermartabat dan melakukan kampanye pemilu jujur, adil, damai dan bermartabat untuk mewujudkan pemilu yang berkualitas,” kata Nensi.

Lebih lanjut Nensi menambahkan, dalam konteks Indonesia, negara telah mengalami transisi demokratisasi sendiri dan mengalami perkembangan yang signifikan sejak reformasi tahun 1998.

Kebangkitan populisme dan otoritarianisme mulai menggejala dengan semakin menyempitnya ruang-ruang demokrasi yang telah susah payah dibangun sejak era reformasi.

“Dalam satu dekade terakhir, kita menyaksikan beberapa tantangan yang memunculkan ketidakpastian terhadap demokrasi di tanah air. Melemahnya kontrol terhadap kekuasaan eksekutif dapat dianggap sebagai salah satu penyebab mundurnya demokrasi,” jelasnya.

Menurutnya, tantangan terkini yang mengancam demokrasi di Indonesia di antaranya melemahnya KPK, semakin kuatnya oligarki, maraknya politik dinasti, intoleransi, menguatnya politik identitas.

Juga kembali masuknya penegak hukum dalam jabatan sipil, keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang dicurigai cacat hukum dan sempitnya kebebasan beragama.

Gardu Pemilu bertekad memperkuat demokrasi dan memberi penegasan bahwa Pemilu bukan hanya tentang memilih, tetapi membangun masa depan yang lebih baik bersama- sama. Semangat Gardu Pemilu adalah menggerakkan masyarakat sipil yang responsif, cerdas, dan berani.

“Salah satu ancaman bagi demokrasi adalah munculnya gejala otoritarianisme. Di mana pemerintah diduga menggunakan kekuasaan dengan cara yang melanggar aturan demokratis. Hal ini bisa menghambat partisipasi warga negara dan mengurangi akuntabilitas pemerintah," paparnya.

"Selain itu, disinformasi dan hoaks juga menjadi ancaman serius, merusak proses pemilihan dan mengurangi kepercayaan publik terhadap institusi demokratis,” imbuhnya.

Kegiatan diskusi publik diikuti dari KPU Gresik, Bawaslu Gresik, Pattiro Gresik, Formagam Gresik, PPDI Gresik, PKK Kabupaten Gresik, PC Fatayat NU Gresik, Koalisi Perempuan Gresik, DPD Asobsi Gresik, RDEE Gresik, Youth Center Gerelaktif Gresik PC IPNU-IPPNU Gresik dan jejaring Simpul Belajar GIRI.

“Gardu Pemilu sebagai inisiasi dari gerakan masyarakat sipil, ingin mendorong kualitas demokrasi. Demokrasi mensyaratkan kuatnya masyarakat sipil agar mendorong kedaulatan negara di tangan rakyat. Suara rakyat tidak hanya sekedar angka yang diperebutkan dalam Pemilu.Tetapi rakyat memiliki andil besar dalam menentukan demokrasi di masa depan,” tegasnya. *****

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved