Sambang Kampung

RW 12 Medayu Utara Kota Surabaya Jadi Pusat Pembelajaran Mahasiswa Asing

Warga kampung tersebut terlihat masih merawat lahan yang mereka ubah menjadi kebun tersebut hingga menjadi lahan produktif.

Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Titis Jati Permata
surya.co.id/sulvi sofiana
Warga menyirami tanaman di kebun RW 12 Medokan Ayu Kota Surabaya 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Memasuki wilayah RW 12 Kelurahan Medokan Ayu, Kecamatan Rungkut suasana khas perkotaan yang penuh pemukiman lahan terbatas terlihat di sepanjang gang kampung.

Namun, hampir di setiap gang masih terlihat lahan kosong yang berubah bentuk menjadi lahan hidroponik dan juga kebun sayur sehingga kampung ini juga dikenal sebagai kampung sayur hidroponik.

Meskipun didominasi pekerja, warga kampung tersebut terlihat masih merawat lahan yang mereka ubah menjadi kebun tersebut hingga menjadi lahan produktif.

Pegiat lingkungan RW 12 Medayu Utara, Renni Susilawati mengungkapkan dua tahun ini kampungnya telah menjadi tujuan pembelajaran mahasiswa perguruan tinggi asal Australia, Federation University yang mengikuti program Fed Air di Universitas Airlangga.

"Para mahasiswa asing ini datang untuk melihat bagaimana kami menggerakkan sosial masyarakat disini hingga menciptakan lingkungan yang sesungguhnya. Apalagi kami tidak punya fasum (fasilitas umum) tapi kami mampu bergerak dalam hal lingkungan,” Renni menambahkan.

Ditegaskan Renni kunjungan mahasiswa Australia ingin melihat dari dekat mengelola lingkungan kampung masyarakat urban di Surabaya.

Ia menyebut kampung di tempat tinggalnya mendukung gotong royong antarwarga, sosial, budaya, irigasi, penerangan, keamanan, menghindari efek rumah kaca, urban farming, kesehatan, kesejahteraan, kebersihan lingkungan hingga demografi.

Selain itu, banyak mahasiswa universitas di Surabaya yang datang ke kampungnya untuk membantu berinovasi dalam pengelolaan lingkungan.

Mualimah, warga kampung mengungkapkan hasil dari hidroponik dan kebun di kampungnya ini telah dirasakan warga. Sehingga bukan hanya pengurus lahan yang merasakan hasil panen, warga juga rutin memesan sayur di lahan RW 12.

Diakui Mualimah, warga di kampungnya banyak di usia produktif sehingga banyak dari mereka tidak ada di rumah saat jam kerja. Tetapi saat sore dan akhir pekan mereka bisa menghabiskan waktu di rumah.

"Kami bangun hidroponik ini murni untuk mengisi waktu dan membangun kampung. Bukan ikut lomba, karena kalau lomba biasanya penjurian saat jam kerja pastinya kami nggak bisa,"ungkapnya.

Semangat gotong royong yang menjadi daya tarik mahasiswa asing itu dikatakan Mualimah menjadi dasar tetap adanya kebun sayur di kampungnya. Bahkan hingga lima tahun dikelola, jumlah kebun ini terus bertambah hingga kini ada tujuh kebun yang rutin dipanen.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved