Selasa, 7 April 2026

Berita Ponorogo

Selain Diterjang Wabah PMK, Kini Hewan Ternak di Ponorogo Juga Terancam LSD

PMK gelombang dua di Ponorogo belum reda. Kini, ternak di bumi reog terancam terjangkit Lumpy Skin Disease (LSD)

Penulis: Pramita Kusumaningrum | Editor: Cak Sur
SURYA.CO.ID/Pramita Kusumaningrum
Kepala Dipertahankan Ponorogo, Masun. 

SURYA.CO.ID, PONOROGO - Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) gelombang dua di Ponorogo belum reda. Kini, ternak di bumi reog terancam terjangkit Lumpy Skin Disease (LSD) atau penyakit kulit pada sapi.

Lantaran saat ini LSD telah merebak di kabupaten tetangga, yaitu Kabupaten Ngawi, ada 50 sapi terkena LSD.

“Di Jawa Timur, ada 4 kabupaten/kota yang ada sapi terjangkit LSD,” ujar Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dipertahankan) Ponorogo, Masun, Kamis (2/2/2023).

Dia menjelskan, bahwa LSD dilaporkan masuk ke Indonesia akhir Desember. Hingga kini, Ponorogo masih zona hijau.

Baca juga: PMK Kembali Menyerang Ratusan Ternak di Ponorogo, Ditemukan Satu Hewan Mati

Baca juga: Cegah PMK Meluas, Pemkab Ponorogo Mulai Lakukan Sterilisasi Pasar Hewan

Baca juga: Tanggulangi PMK Gelombang Dua di Ponorogo, BPBD Ajukan Anggaran Hingga Rp 1 Miliar

Petugas dari Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan melakukan pemeriksaan kesehatan hewan ternak.
Petugas dari Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan melakukan pemeriksaan kesehatan hewan ternak. (SURYA.CO.ID/Pramita Kusumaningrum)

“Dalam artian memang masih zero kasus LSD. Tapi yang perlu diwaspadai kasus ditemukan di tetangga terdekat,” kata Masun ketika ditemui di kantor Dipertahankan Ponorogo.

Masun menyatakan, bahwa LSD bukanlah penyakit baru di dunia peternakan. Penyakit tersebut disebabkan LSD virus dengan materi genetik DNA dari genus capripoxvirus dan famili poxviridae.

“Kasus LSD pertama kali ditemukan di Zambia, Afrika, 1929 silam. Kemudian menyebar ke Eropa dan masuk ke Asia 2019 lalu. Serupa dengan PMK,” jelasnya.

Masun menyebut, jika morbiditas atau angka kesakitan LSD lebih rendah dibanding PMK. Jika PMK mencapai 90 persen, untuk LSD hanya 45 persen. Masa inkubasi penyakit ini berkisar 4-5 minggu.

“Adapun gejala klinis biasanya ditemukan nodul atau benjolan (cekung) di sekitar kepala, leher, kaki dan tubuh ternak,” terang Masun

Gejala lainnya, ternak terlihat lemas, terdapat leleran cairan di hidung dan mata, pembengkakan limfonodi subscapula dan prefemoralis (depan lutut).

Pada kasus sapi perah, LSD dapat menurunkan produksi susu.

Untuk pencegahan, Masun mengaku, telah meminta peternak di Ponorogo untuk menjaga kebersihan kandang, kendaraan (pengangkut ternak) juga perihal pemberian pakan

“Lalu sterilisasi sebelum masuk kandang. Peternak maupun sapi setelah bepergian dari pasar hewan maupun kandang lain. Serta vaksinasi anti-LSD,” urainya.

Karena diketahui, penularan LSD melalui peralatan, kandang serta kendaraan. Juga orangnya yang terkontaminasi atau bersinggungan dengan ternak terinfeksi LSD.

“Jadi sama kurang lebih dengan PMK. Penanganan sama dengan PMK, diisolasi, disinfeksi dan pengobatan,” pungkasnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved