Berita Nganjuk
Jelang Idul Adha, Pemkab Nganjuk Gencar Sosialisasi Pencegahan Penyakit Mulut dan Kuku
Pemkab Nganjuk terus melakukan langkah pencegahan menyebarnya penyakit mulut dan kuku (PMK) menjelang Hari Raya Idul Adha.
Penulis: Ahmad Amru Muiz | Editor: irwan sy
Berita Nganjuk
SURYA.co.id | NGANJUK - Pemkab Nganjuk terus melakukan langkah pencegahan menyebarnya penyakit mulut dan kuku (PMK) menjelang Hari Raya Idul Adha.
Kali ini, upaya pencegahan PMK di lakukan di Kecamatan Pace Nganjuk bekerja sama dengan Dinas Pertanian dan Komunitas Eco Enzyme (EE) dengan menggelar sosialisasi edukasi penanggulangan PMK di Desa Plosoharjo.
Kepala Cabang Dinas Pertanian Kecamatan Pace, Taman menjelaskan, PMK pada hewan ternak seringkali dijumpai dalam beberapa hari terakhir di wilayah Kecamatan Pace.
Penyakit tersebut disebabkan oleh adanya virus.
"PMK itu sendiri sudah ada sejak lama. Namun baru akhir-akhir ini berkembang pesat sehingga dapat merugikan para peternak. Adapun gejala awal yaitu air liur (saliva) yang berlebihan, demam, nafsu makan menurun," kata Taman, Kamis (30/6/2022).
PMK tersebut, dikatakan Taman, tidak menular pada manusia.
PMK juga tidak menyerang semua hewan ternak, namun hanya pada hewan ternak yang memiliki kuku berbelah dua seperti kambing, kuda, sapi, dan banyak lagi jenisnya.
"Namun dalam kasus belakangan ini para peternak sapi yang merasa was-was karena sudah lumayan banyak ternak yang terinfeksi," ucap Taman.
Menurut Taman, tanda pertama yang dijumpai pada hewan yang terkena virus PMK yakni menurunnya nafsu makan bahkan tidak mau makan.
Untuk itu perlu waspada, bila menjumpai ada ternak mengalami hal tersebut bisa jadi hewan ternak khususnya sapi terinfeksi PMK.
Oleh karena itu, ungkap Taman, Komunitas EE juga telah memberikan cara alternatif jika ternak sapi terinfeksi PMK dengan memberikan obat atau ramuan herbal yang telah dibuat Tim EE yang biasa disebut eco enzyme.
Tim EE, tambah Taman, telah menjelaskan kalau pembuatan ramuan herbal untuk menyembuhkan atau pencegahan PMK cukup mudah dan dapat ditemukan di lingkungan sekitar.
"Yakni berasal dari cairan fermantasi tiga bahan yang terdiri dari air gula merah, molase atau tetes tebu, serta bahan organik dari sisa sayuran dan kulit buah," ujarnya.
Dengan adanya ramuan herbal tersebut, imbuh Tamab, diharapkan para peternak yang ada di Wilayah Kecamatan Pace tidak perlu takut dan khawatir karena PMK bisa disembuhkan dan dicegah.