Berita Tulungagung

Tolak Presiden 3 Periode dan Kritisi IKN, Mahasiswa Tulungagung Terobos Kawat Berduri dan Bakar Ban

diwarnai adu dorong dengan polisi, menerobos barikade kawat berduri dan pembakaran ban bekas di depan kantor DPRD setempat

Penulis: David Yohanes | Editor: Deddy Humana
surya.co.id/david yohannes
Massa Aliansi BEM Se-Tulungagung membakar ban bekas di tengah aksi unjuk rasa mereka di depan gedung DPRD setempat, Rabu (13/4/2022). 

SURYA.CO.ID, TULUNGAGUNG - Setelah aksi demo besar-besaran mahasiswa di Jakarta, Senin (11/4/2022) lalu, gelombang aksi serupa masih terjadi di daerah-daerah, termasuk Tulungagung.

Bahkan demo mahasiswa di Tulungagung memanas karena diwarnai adu dorong dengan polisi, menerobos barikade kawat berduri dan pembakaran ban bekas di depan kantor DPRD setempat, Rabu (13/4/2022).

Tidak berbeda dengan tuntutan rekan-rekannya saat demo di Jakarta, mahasiswa Tulungagung juga menolak kenaikan bahan bakar minyak, isu kenaikan bahan pokok yang menyengsarakan rakyat, penolakan 3 periode jabatan presiden hingga mengkritisi pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Awalnya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Tulungagung yang beraksi, terlibat saling dorong dengan polisi. Sebelumnya massa sempat menerobos pagar kawat berduri di depan kantor DPRD Tulungagung.

Mereka menggunakan poster untuk merobohkan bagian kawat berduri, lalu melewatinya menuju gerbang DPRD Tulungagung. Massa pun nekat berharapan dengan polisi yang menjaga gerbang dan menghalangi mereka masuk.

Aksi saling dorong pun terjadi hingga membuat para mahasiswa terjengkang. Beberapa di antaranya jatuh tepat di atas kawat berduri di belakangnya. Sejumlah polisi dan rekan-rekannya berusaha menolong dengan sangat hati-hati.Sebab kawat berduri tersebut banyak yang terkait dengan pakaian mereka.

Aksi mereda setelah ada dialog dengan Ketua DPRD Tulungagung, Marsono. Dialog dilakukan dengan lesehan di aspal jalan depan Kantor DPRD Tulungagung.

Setelah aksi HMI ini mereda, muncul gelombang massa kedua dari Aliansi BEM Se-Tulungagung. Massa aksi kedua ini lebih besar, karena melibatkan kampus-kampus di Tulungagung. Selain itu ada sejumlah organisasi mahasiswa ekstra kampus yang ikut di dalamnya.

Mereka membuat lingkaran lalu membakar dua ban bekas di tengahnya. Api membesar, asap hitam pekat membumbung tinggi memanaskan suasana.

Aksi ini berakhir setelah perwakilan mahasiswa menyampaikan aspirasi ke pimpinan DPRD Tulungagung. Seperti kawan-kawan mereka di tingkat nasional, para mahasiswa ini menyuarakan sejumlah aspirasi.

Selain itu ada isu lokal yang diangkat, seperti bantuan untuk siswa miskin, pembangunan tol dan Jalur Lintas Selatan. "Jangan sampai ada konflik agraria seperti di Wadas," ujar Ahmad Muzaki, koordinator aksi Aliansi BEM Se-Tulungagung.

Muzaki melanjutkan, Aliansi BEM Tulungagung siap mengawal isu-isu yang sedang berkembang. Jika semua aspirasi ini nantinya tidak diindahkan pemerintah, maka para mahasiswa akan kembali menggelar unjuk rasa.

Sebab BEM Tulungagung juga berjejaring dengan BEM Nusantara maupun BEM SI. "Kami akan menggelar aksi serentak di seluruh Indonesia jika tidak ada perubahan," tegasnya. ****

Sumber: Surya
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved