SOSOK Gus Baha, Kiai Muda NU yang Bikin Eks Napi Teroris Kagum, Ceramahnya Beda Dengan Dai Lain

Sosok Gus Baha, pemilik nama lengkap KH Ahmad Bahauddin Nursalim yang telah membuat kagum para mantan narapidana teroris (napiter) dengan ceramahnya.

Editor: Iksan Fauzi
KOMPAS.COM/ARIA RUSTA YULI PRADANA
Koordinator lapangan (Korlap) Persatuan Alumni Napiter NKRI Seluruh Indonesia (PANNSI), Sofwan Tsauri di Pondok Pesantren Al-Qur'an, Narukan Kragan, Rembang, Rabu (16/3/2022). 

Selain Shahih Muslim, Gus Baha juga mengkhatamkan hafalan kitab Fathul Muin dan kitab-kitab gramatika Arab seperti Imrithi dan Alfiah Ibnu Malik.

Menurut sebuah riwayat, dari sekian banyak hafalan, Gus Baha lah santri pertama Al Anwar yang memegang rekor hafalan terbanyak di eranya.

Bahkan tiap-tiap musyawarah yang akan ia ikuti akan serta merta ditolak oleh kawan-kawannya, sebab dianggap tidak berada pada level santri pada umumnya karena kedalaman ilmu, keluasan wawasan dan banyaknya hafalan.

Selain menonjol dengan keilmuannya, Gus Baha juga sosok santri yang dekat dengan kiainya.

Dalam berbagai kesempatan, ia sering mendampingi gurunya Syaikhina Maimoen Zubair untuk berbagai keperluan.

Mulai dari sekadar berbincang santai, hingga urusan mencari tabir, menerima tamu-tamu ulama-ulama besar yang berkunjung ke Al Anwar, dan dijuluki sebagai santri kesayangan Syaikhina Maimoen Zubair.

Pada suatu ketika Gus Baha dipanggil untuk mencarikan tabir tentang suatu persoalan oleh Syaikhina, karena saking cepatnya tabir itu ditemukan tanpa membuka dahulu referensi kitab yang dimaksud, hingga Syaikhina pun terharu, “Iyo Ha’, koe pancen cerdas tenan.” (Iya Ha, kamu memang benar-benar cerdas).

Selain itu Gus Baha juga kerap dijadikan contoh teladan oleh Syaikhina saat memberikan mawaidzah di berbagai kesempatan tentang profil santri ideal.

“Santri tenan iku yo koyo Baha iku,” (Santri yang sebenarnya itu ya seperti Baha itu) kurang lebih seperti itulah ucapan Syaikhina yang riwayatnya sampai ke penulis Ma'had Aly Jakarta.

Dalam riwayat pendidikan, semenjak kecil hingga mengasuh pesantren warisan ayahnya sekarang, Gus Baha hanya mengenyam pendidikan dari 2 pesantren, yakni pesantren ayahnya sendiri di Desa Narukan dan PP Al Anwar Karangmangu.

Ketika sang ayah menawarkan kepadanya untuk mondok di Rushaifah atau Yaman, Gus Baha lebih memilih untuk tetap di Indonesia.

Ia berkhidmat kepada almamater, Madrasah Ghozaliyah Syafiiyyah PP Al Anwar dan pesantrennya sendiri LP3IA.

Kepribadian

Setelah menyelesaikan pengembaraan ilmiahnya di Sarang, Gus Baha menikah dengan seorang Neng pilihan pamannya dari keluarga Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur.

Ada cerita menarik sehubungan dengan pernikahan Gus Baha.

Diceritakan, setelah acara lamaran selesai, ia menemui calon mertuanya dan mengutarakan sesuatu yang menjadi kenangannya hingga kini.

Gus Baha mengutarakan bahwa kehidupannya bukanlah model kehidupan yang mewah, melainkan sangat sederhana.

Ia berusaha meyakinkan calon mertuanya untuk berpikir ulang atas rencana pernikahan tersebut dengan maksud, agar ia tidak kecewa di kemudian hari.

Calon mertuanya hanya tersenyum dan menyatakan “klop” alias "sami mawon kalih kulo".

Saat berangkat ke Sidogiri untuk melangsungkan upacara akad nikah yang telah ditentukan waktunya, Gus Baha berangkat sendiri ke Pasuruan dengan menumpang bus regular, bus biasa kelas ekonomi.

Berangkat dari Pandangan menuju Surabaya, selanjutnya disambung bus kedua menuju Pasuruan.

Hingga kini, bahkan setelah terkenal, Gus Baha masih sering naik bus saat bepergian.

Setelah menikah, Gus Baha mencoba hidup mandiri dengan keluarga barunya dan menetap di Yogyakarta sejak 2003.

Selama di Yogya, Ia menyewa rumah untuk ditempati keluarga kecilnya, berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain.

Semenjak hijrah ke Yogyakarta, banyak santri-santrinya di Karangmangu, Rembang yang merasa kehilangan induknya.

Hingga pada akhirnya mereka menyusul ke Yogya, patungan menyewa rumah di dekat rumah Gus Baha.

Tiada tujuan lain selain untuk tetap bisa mengaji kepadanya.

Ada sekitar 5 atau 7 santri alumni Al Anwar maupun MGS yang ikut ke Yogya saat itu.

Ada dua santri Gus Baha yang sangat terkenal yakni Masrukhin dan Musthofa, yang sering disebut-sebut dalam ceramahnya di Youtube.

Di Yogya inilah kemudian banyak masyarakat sekitar yang akhirnya minta ikut mengaji kepada Gus Baha.

Pada tahun 2005 KH Nursalim jatuh sakit.

Gus Baha pulang sementara waktu untuk ikut merawat sang ayah bersama keempat saudaranya.

Namun siapa sangka, beberapa bulan kemudian Kiai Nursalim wafat.

Gus Baha tidak dapat lagi meneruskan perjuangannya di Yogya sebab diamanati oleh ayahnya untuk melanjutkan tongkat estafet kepengasuhan di LP3IA Narukan.

Banyak yang merasa kehilangan atas kepulangan Gus Baha ke Narukan.

Para santri sowan dan meminta kembali ke Yogya.

Gus Baha pun bersedia namun hanya satu bulan sekali, dan itu berjalan hingga kini.

Selain mengasuh pengajian, Gus Baha juga aktif di Lembaga Tafsir Al-Quran Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

Gus Baha juga diminta untuk mengasuh pengajian tafsir al-Quran di Bojonegoro, Jawa Timur.

Di Yogya mendapat giliran minggu terakhir, sedangkan di Bojonegoro minggu kedua setiap bulannya.

Hal tersebut dijalani secara rutin sejak 2006 hingga kini.

Gus Baha adalah Ketua Tim Lajnah Mushaf UII.

Timnya terdiri dari para profesor, doktor, dan ahli-ahli al-Quran seantero Indonesia seperti Prof Dr Quraisy Syihab, Prof Zaini Dahlan, Prof Shohib dan para anggota Dewan Tafsir Nasional lain.

Ketika ditawari gelar Doctor Honoris Causa dari UII, Gus Baha tidak berkenan.

Dalam jagat Tafsir al-Quran di Indonesia, Gus Baha termasuk pendatang baru dan satu-satunya dari jajaran Dewan Tafsir Nasional yang berlatar belakang pendidikan nonformal dan nongelar.

Meski demikian, kealiman dan penguasaan keilmuan Gus Baha sangat diakui oleh para ahli tafsir nasional.

Pada suatu kesempatan pernah diungkapkan oleh Prof Quraisy bahwa kedudukan Gus Baha di Dewan Tafsir Nasional selain sebagai Mufassir, juga sebagai mufassir fakih karena penguasaan pada ayat-ayat ahkam yang terkandung dalam al-Quran.

Setiap kali lajnah menggarap tafsir dan Mushaf al-Quran, posisi Gus Baha selalu di dua keahlian, yakni sebagai mufassir seperti anggota lajnah yang lain, juga sebagai fakihul Quran yang mempunyai tugas khusus mengurai kandungan fikih dalam ayat-ayat ahkam al-Quran.

Sumber : Ma'had Aly Jakarta dan Kompas.com

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Diajak Ngaji Bareng oleh Densus 88, Eks Napiter Kagum dengan Ceramah Gus Baha"

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved