Berita Trenggalek

Biji Kakao dari Petani di Trenggalek Mampu Menembus Pasar Luar Negeri

Eskpor biji kakao asal Kabupaten Trenggalek ini sudah berlangsung sejak 2019. Daerah tujuan ekspor itu salah satunya Jepang.

Penulis: Aflahul Abidin | Editor: Cak Sur
SURYA.CO.ID/Aflahul Abidin
Biji kakao fermentasi kualitas ekspor yang disimpan di Rumah Coklat di Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek, Selasa (8/2/2022). 

SURYA.CO.ID, TRENGGALEK - Biji kakao dari para petani di Kabupatenn Trenggalek, mampu menembus pasar luar negeri.

Kakao kualitas terbaik dari para petani di Kabupaten Trenggalek dihimpun Rumah Coklat, sebuah pusat pengembangan dan pengolahan kakao milik Pemkab Trenggalek.

Pihak Rumah Coklat kemudian menyortir biji kakao kualitas berdasarkan kualitas. Biji dengan kualitas terbaiklah yang dikirim ke luar negeri lewat sebuah perusahaan di Jakarta.

Helen Kurniawan, Operator Pengelola Kakao Rumah Coklat, mengatakan, biji kakao yang disiapkan untuk diekspor harus memenuhi kriteria tertentu.

Antara lain, biji kakao harus dalam bentuk fermentasi dengan kadar air sekitar 7 persen.

Selain itu, biji tersebut juga harus masuk dalam kategori grade A yang bisa dilihat dari ukurannya.

"Kalau grade A itu ukurannya besar. Tiap 1 ons, jumlah bijinya sekitar 90-100 biji. Sementara grade B biasanya jumlah bijinya sekitar 120 biji per 1 ons," kata Wawan, sapaan akrabnnya, Selasa (8/2/2022).

Biji kakao grande B biasanya diolah oleh Rumah Coklat menjadi berbagai macam produk. Seperti permen, bubuk, hingga minuman cokelat.

Wawan menjelaskan, permintaan biji kakao untuk dikirim ke luar negeri cukup besar. Bahkan, ketersediaan stok biji kakao di Kabupaten Trenggalek tak cukup untuk memenuhi permintaan itu.

Dalam setahun, menurut dia, biji kakao asal Kabupaten Trenggalek yang disetor ke perusahaan untuk dikirim ke luar negeri berkisar 1,5 ton.

"Karena ketersediaan biji kakao masih sedikit, kami belum berani membuat MoU (nota kesepahaman). Karena kalau MoU, kami harus mengirim sekitar 5 ton biji kakao setiap tahunnya," sambung Wawan.

Sementara hingga saat ini, jumlah biji kakao yang bisa dihasilkan oleh para petani binaan Rumah Coklat berkisar 2,5 ton per tahun.

"Itu sekitar 1 ton termasuk grade B, yang tidak bisa dikirim ke luar negeri," sambungnya.

Eskpor biji kakao asal Kabupaten Trenggalek ini sudah berlangsung sejak 2019. Daerah tujuan ekspor itu salah satunya Jepang.

Di luar itu, harga biji kakao juga meningkat dalam beberapa bulan terakhir.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved