Berita Lumajang
Kisah Nelayan di Pasirian Lumajang, Melawan Ganasnya Ombak Berburu Kerang Simping
Kerang simping ini hidupnya menempel di bebatuan. Saat mencari kerang simping, nelayan membekali dirinya dengan sebilah sabit.
Penulis: Tony Hermawan | Editor: Titis Jati Permata
SURYA.CO.ID, LUMAJANG - Suasana pantai selatan di wilayah Watu Pecak, Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang, Selasa (12/10/2021) sore terlihat ramai.
Ratusan nelayan yang biasa melaut mencari ikan, kini mencari kerang simping di tepi pantai.
Kerang simping ini hidupnya menempel di bebatuan.
Saat mencari kerang simping, nelayan membekali dirinya dengan sebilah sabit.
Di punggungnya ada karung yang dimodifikasi menjadi tas.
Para nelayan mencari kerang di sela-sela bebatuan, melawan ganasnya ombak pantai selatan.
Setelah menemukan batu-batu yang ditempeli kerang, nelayan kemudian menggotongnya ke bibir pantai.
Baca juga: Persebaya Surabaya Hadapi Tantangan Berat di BRI Liga 1 2021 Seri Kedua
Nelayan melepas kerang dari batu menggunakan sabit, lalu mengumpulkannya ke dalam karung.
Bahrul seorang nelayan mengatakan, kerang simping memiliki rasa cukup nikmat. Tekstur dagingnya lembut dan padat.
Biasanya, hasil buruan kerang simping dibawa ke rumah untuk dikonsumsi oleh keluarganya.
Jika mendapat lebih, baru kerang simping itu dijual ke pasar.
"Kalau ada lebih baru kami jual. Kadang selain buat lauk pauk bisa juga dibuat petis," katanya.
Di pasaran Lumajang ternyata kerang simping memiliki harga yang cukup ekonomis.
Kerang simping dihargai Rp 5-10 ribu/kilogram.
Sayangnya, kerang yang mempunyai bentuk lonjong berwarna merah kecoklatan ini tidak selalu ada
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/anak-anak-nelayan-memburu-kerang-simping-di-sekitaran-pantai-watu-pecak.jpg)