Senin, 4 Mei 2026

Rabu Wekasan 2021 Jatuh Tanggal Berapa? Ini Hitungannya Menurut Kalender

Rabu wekasan 2021 jatuh tanggal berapa? Diketahu rebo wekasan adalah rabu terakhir di bulan safar.

Tayang:
Penulis: Pipit Maulidiya | Editor: Musahadah
SURYA.CO.ID
Ilustrasi - Waktu Rebo Wekasan 2021 

SURYA.CO.IDRabu Wekasan 2021 jatuh tanggal berapa? Diketahui Rabu Wekasan atau Rebo Wekasan adalah hari rabu terakhir di Bulan Safar.

Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, Rebo Wekasan dipercaya sebagai waktu turunnya balak atau musibah penyakit, sehingga sering diperingati dengan acara tolak balak.

Lantas kapan Rabu terakhir di bulan Safar 1443 H?

Diketahui Bulan Safar 1443 Hijriyah jatuh pada Rabu, 8 September 2021 dan berakhir Kamis, 7 Oktober 2021.

Menurut kalender, Rabu terakhir di Bulan Safar jatuh pada tanggal 6 Oktober 2021.

Lantas bagaimana hukum Rebo Wekasan dalam Islam?

Baca juga: Apa Itu Rebo Wekasan? Ini Dalil dan Penjelasan dalam Pandangan Islam

Nama lain dari Rebo Wekasan adalah Rabu Pamungkas, Arba Mustakmir, atau Arba Musta'mir.

Dikutip dari Tebuireng Online, A. Muabrok Yasin, Pengasuh Rubrik Tanya Jawab Fiqh Tebuireng online menjelaskan, memang terdapat hadits dla'if (tidak memenuhi syarat sahih) yang menerangkan tentang Rabu terakhir di Bulan Shafar, yaitu:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: آخِرُ أَرْبِعَاءَ فِي الشَّهْرِ يَوْمُ نَحْسٍ مُسْتَمِرٍّ. رواه وكيع في الغرر، وابن مردويه في التفسير، والخطيب البغدادي..

"Dari Ibn Abbas ra, Nabi Saw bersabda: 'Rabu terakhir dalam sebulan adalah hari terjadinya naas yang terus-menerus." HR. Waki' dalam al-Ghurar, Ibn Mardawaih dalam at-Tafsir, dan al-Khathib al-Baghdadi. (dikutip dari Al-Hafidz Jalaluddin al-Suyuthi, al-Jami' al-Shaghir, juz 1, hal. 4, dan al-Hafizh Ahmad bin al-Shiddiq al-Ghumari, al-Mudawi li-'Ilal al-Jami' al-Shaghir wa Syarhai al-Munawi, juz 1, hal. 23).

Selain dla'if, hadits ini juga tidak berkaitan dengan hukum (wajib, halal, haram, dll), melainkan hanya bersifat peringatan (at-targhib wat-tarhib).

Sementara hukum meyakini datangnya malapetaka di akhir Bulan Shafar, sudah dijelaskan dalam hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم: قَالَ لَا عَدْوَى وَلَا صَفَرَ وَلَا هَامَةَ. رواه البخاري ومسلم.

"Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Saw bersabda: "Tidak ada penyakit menular. Tidak ada kepercayaan datangnya malapetaka di bulan Shafar. Tidak ada kepercayaan bahwa orang mati itu rohnya menjadi burung yang terbang." (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Menurut al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbali, hadits ini merupakan respon Nabi SAW terhadap tradisi yang berkembang di masa Jahiliyah.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved