Breaking News:

Opini

Semua Bermula dari “Politik Balas Jasa”

Politik balas jasa begitu kental dalam pengangkatan Abdee Slank sebagai komisaris PT Telkom

Editor: Eben Haezer Panca
Instagram @abdeenegara
Abdee Slank Komisaris PT Telkom Indonesia Tbk 

Oleh : Yayan Sakti Suryandaru, Dosen Departemen Komunikasi FISIP UNAIR Surabaya

Menarik jika menelaah kasus Abdee Slank diangkat menjadi komisaris utama PT. Telkom.

Semua menyatakan ketidaksetujuannya karena menganggap Abdee Slank tidak layak.

Artinya, karena menjadi anggota team sukses Jokowi ketika mencalonkan diri sebagai team sukses capres akhirnya diberi jabatan komisaris di PT. Telkom.

Politik balas jasa begitu kental dalam kasus ini oleh karena dia aktif sebagai team sukses, maka dirinya diangkat sebagai komisaris sebuah BUMN di Indonesia.

Kondisi ini hampir merata di semua pemerintahan dari mulai desa sampai pemerintahan pusat siapa yang aktif menjadi team sukses, pasti akan dianugrahi jabatan prestisius sebagai komisaris. Entah dia mampu atau tidak, cocok atau tidak, ahli di bidang itu atau tidak, pokoknya jabatan itu pasti jatuh ke tangannya.

Kondisi ini telah berlangsung bertahun-tahun. Sama dengan budaya korupsi di negara ini. Susah diberarantas, tapi tetap berlangsung sampai saat ini ada yang berjamaah, ada yang sendiri-sendiri.

Bermula dari balas jasa

Ketika seseorang ingin menduduki jabatan penting di negara ini dia pasti membentuk team sukses. Beragam tawaran disodorkannya kepada anggota team sukses itu. Dari uang, jabatan, kemudahan mengurus akses, hingga mendampinginya di pemerintahan. Tentu saja hal ini akan membuat seseorang tertarik. Dia tidak akan menolaknya. Beragam cara dia kemas untuk memoles sang calon. Jika berhasil atau tidak sang calon menang, dia tetap disebut sebagai team sukses.

Jika dia menang, sang calon harus memikirkan calon team suksesnya. Sudah jamak di negara ini, beragam tawaran yang dia janjikan harus dipenuhi. Dari mulai uang ratusan juta, menjadi kepala dinas, atau menduduki jabatan komisaris BUMD atau BUMN. Untuk posisi yang terakhir ini dia harus menggandeng orang penting di lembaga yang bersangkutan. Berdalih hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) orang tersebut diangkat komisaris utama BUMD atau BUMN.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved