Minggu, 26 April 2026

Said Abdullah: Perpecahan PBNU Merugikan Bangsa

Saya begitu masgul mendengar kabar para masayih dan kiai yang duduk di jajaran PBNU berkonflik.

Editor: irwan sy
Tribun Jatim/Yusron Naufal
Said Abdullah, warga NU dan anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Dapil Madura Jatim. 

Oleh Said Abdullah,
Warga NU
Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Dapil Madura Jatim

SURYA.co.id - Saya begitu masgul mendengar kabar para masayih dan kiai yang duduk di jajaran PBNU berkonflik.

Apalagi konflik itu menjadi berita terbuka di mana-mana, yang disertai dengan saling pecat-memecat satu sama lain.

Lebih sedih lagi, perkara konflik bermula dari pengelolaan pertambangan batubara yang diberikan oleh pemerintah kepada organisasi kemasyarakatan, salah satunya Nahdlatul Ulama (NU).

Suatu perkara duniawi yang sesungguhnya kecil sekali derajatnya untuk dijadikan sumber perpecahan.

Sebagai pribadi yang sejak kecil, dididik, dan beribadah, bermuamalah dengan tradisi nahdliyah, saya memegang teguh ajaran-ajaran tawadu’ dan tabayun, serta akhlaqul karimah dalam kitab ta’lim muta’alim.

Apakah tradisi ini sudah tidak bisa lagi berjalan di PBNU, sehingga harus pecah menjadi konflik terbuka?

Sebagai bagian dari jam’iyah ini, saya sekali lagi sedih dan merasa malu.

Kami meneladani dan senantiasa menjadikan ulama pesantren sebagai contoh akhlakul karimah, namun kenapa kami, jam’iyah ini mendapatkan tontonan seperti ini.

Sungguh, sebagai bagian jam’iyah ini, saya memohon para masayih, dan kiai di PBNU untuk kembali islah.

Islah sebagai jalan yang perlu diutamakan.

Para musytasar PBNU, para kiai sepuh, para ahlul halli wal aqdi mohon berkenan untuk menjadi jembatan terwujudnya jalan islah ini.

Dengan terpecahnya jajaran di PBNU, yang diruginkan adalah bangsa ini.

Dunia mengakui bahwa NU adalah jangkar utama kekuatan Islam Indonesia, bersama dengan Muhammadiyah untuk membangun umat, memberikan pendidikan karakter, sekaligus memberikan berbagai pelayanan ekonomi dan sosial kepada umat.

Bila konflik ini berkepanjangan, maka energi PBNU akan tersedot untuk mengurusi konflik, padahal fokusnya harus ke pelayanan kepada para jamiyah di bawah.

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved