Berita Surabaya
Atasi Learning Loss, SMAN 15 Surabaya Bentuk Kelas Kasih Sayang
Banyak siswa yang mengalami penurunan nilai akademik,SMAN 15 Surabaya membuat program khusus yang dinamakan Kelas Kasih Sayang.
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Cak Sur
SURYA.CO.ID, SURABAYA - Menurunnya kompetensi belajar siswa atau learning loss banyak terjadi selama pembelajaran daring. Akibatnya, banyak siswa yang mengalami penurunan nilai akademik.
Tak hanya itu, siswa juga kesulitan dalam memahami pembelajaran yang diberikan. Sebagai antisipasi penanganan hal ini, SMAN 15 Surabaya bahkan membuat program khusus yang dinamakan Kelas Kasih Sayang.
Kelas yang berisi 86 siswa dari kelas 10 dan 11 ini, dibuat untuk memberikan pendampingan pembelajaran bagi siswa yang tertinggal secara akademik.
Selain itu, kelas tersebut juga memberikan pendampingan psikis sosial emosional kepada siswa.
Dikatakan Guru Bimbingan Konseling (BK), Nurmala Hayati berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan pihaknya selama setahun terakhir selama pandemi, banyak kondisi yang tidak selalu mendukung anak selama belajar dari rumah.
Mulai kesulitan akses internet, kondisi sosial emosional tidak mendukung yang menyebabkan tugas terbengkalai, ketinggalan pelajaran, dan banyak nilai tidak tuntas.
"Di semester 1 kemarin kejadian itu (tugas terbengkalai) mereka harus mengejar pembelajaran sendiri. Tapi bukannya selesai tugas-tugasnya malah bertambah keteteran dan numpuk," katanya, Rabu (23/6/2021).
Karena itu, selama liburan sekolah semester dua, BK SMAN 15 Surabaya mengusulkan program Kelas Kasih Sayang.
Dalam kelas ini, siswa difasilitasi pendampingan agar bisa menyelesaikan kendala selama belajar daring.
Serta menyelesaikan tugas secara bersama-sama dengan teman-temannya yang mempunyai persoalan sama.
"Kami beri guru mata pelajaran (mapel) untuk mendampingi siswa menyelesaikan tugas-tugasnya. Termasuk peran BK yang memberikan pendekatan sosial emosional untuk pengelolaan diri mereka," jelasnya.
Dikatakan Nurmala, selama pembelajaran jarak jauh tantangannya siswa harus punya komitmen belajar mandiri, kondisi fasilitas mendukung, dan dirumah nyaman.
"Tapi faktor-faktor tidak selesai. Yang kami temui justru ada yang literasi digitalnya lemah, kemandirian belajar belum terbentuk. Sehingga cara paling banyak diambil siswa banyak absen dalam kelas online," jelasnya.
Ia melanjutkan sebelum kelas kasih sayang dibuka, pihaknya telah melakukan konseling lebih dulu terhadap siswa. Dari hasil tersebut, memang banyak berkaitan dari akademik. Namun, akar persoalan lebih pada sosial emosional.
"Yang kami coba temukan bahwa tidak hanya persoalan akademik. Ada anak cerdas, fasilitas mumpuni tapi motivasi belajar tidak ada. Dia punya pandangan tidak suka belajar online," tuturnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/kelas-kasih-sayang-sman-15-surabaya.jpg)