Breaking News:

Berita Blitar

Wabup Blitar Ragukan Kualitas Alat PCR Rp 2,3 Miliar, Direktur RSUD Srengat : Apa Masalahnya?

Bahkan Direktur RSUD Srengat, Pantjarara Budi Resmi, menampik klaim dari DPRD setempat bahwa alat PCR tersebut dinilai mahal.

Penulis: Imam Taufiq | Editor: Deddy Humana
Foto:diskominfo jatim untuk surya.co.id
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meresmikan RSUD Srengat - Blitar pada 2020 lalu. 

SURYA. CO.ID, BLITAR - Tudingan bahwa kualitas alat polymerase chain reaction (PCR) untuk swab test Covid-19 senilai Rp 2,3 miliar tidak terpakai maksimal karena kurang bagus, terbantahkan. Alat PCR yang kini disimpan di RSUD Srengat, Kabupaten Blitar tersebut diklaim tidak bermasalah dan sudah digunakan sejak Oktober 2020 lalu.

Bahkan Direktur RSUD Srengat, Pantjarara Budi Resmi, menampik klaim dari DPRD setempat bahwa alat PCR tersebut dinilai mahal.

"Di mana masalahnya, selama ini yang dipakai untuk mendiagnosa Covid-19 ya alat itu. Dan sejak dipakai selama ini juga tidak ada masalah," tegas Pantjarara, Selasa (8/6/2021).

Pernyataan Pantjarara seperti membantah Wakil Bupati Blitar, Rahmad Santoso yang sebelumnya menganggap kualitas alat PCR itu kurang bagus. Bahkan terkait tudingan kalau pengadaan alat PCR itu terlalu mahal, menurut Pantjarara tidak benar.

Ia mengaku, kalau pengadaan PCR dengan merek 'R' itu lebih hemat. Sebab dari pagu yang dianggarkan senilai Rp 2,7 miliar akhirnya bisa didapatkan alat PCR senilai Rp 2,3 miliar. Dan alat itu disebutnya sudah engkap karena bisa digunakan untuk mendiagnosa penyakit lain.

"Jadi alat PCR itu tidak hanya dipakai melakukan swab test apakah orang terkena Covid-19 atau tidak. Tetapi juga bisa digunakan untuk mendiagnosa gejala penyakit lainnya. Seperti orang itu terkena HIV dan hepatitis atau tidak," paparnya.

Menurutnya, pengadaan itu sudah sesuai prosedur, tidak hanya melalui e-catalog namun juga sudah dibahas sebelumnya di internal pemkab. Pembahasan untuk pembelian alat PCR itu dilakukan antara Dinas Kesehatan Dinkes) dan Inspektorat setempat. Termasuk, atas persetujuan bupati saat itu, M Rijanto.

"Sudah sesuai prosedur karena atas persetujuan pak bupati, bahkan sampai ke pemprov jatim. Kalau ada pertanyaan kenapa pakai alat itu, jawabannya karena harganya lebih murah dibandingkan alat PCR lainnya," tegasnya.

Karena itu Pantjarara mengaku heran kalau baru sekarang alat PCR itu dipersoalkan karena sudah beberapa bulan dimanfaatkan untuk melayani masyarakat selama pandemi. "Dan tak ada maslalah, termasuk akurasinya juga aman," ujarnya.

Sementara Agus Cunanto selalu Plt Kepala Inspektorat mengatakan, pihak RSUD Srengat sudah bersikap pro aktif. Sebab sebelum dilakukan pemanggikan, pihak RSUD sudah datang ke inspektorat dan melakukan klarifikasi. "Nanti kami periksa, di mana persoalan yang menjadi polemik di media itu," ujar Agus di tempat terpisah.

Penjelasan dari RSUD itu muncul karena sebelumnya ada pernyataan kurang sedap atas pengadaan alat PCR itu. Wabup Santoso menuturkan bahwa pengadaan alat PCR dari dana APBD itu tidak sesuai, karena kurang berfungsi.

Alasan Santoso, karena alat PCR berinisial huruf depan R itu seringkali kurang akurat jika dipakai mendiagnosa.
Bahkan instansi pemerintah sudah meninggalkan atau tidak mau memakainya. Karena selain akurasinya diragukan, juga harganya mahal jika dibandingkan alat PCR merek lain.

"Kami sebenarnya tidak tahu pengadaan alat itu, bahkan alat PCR itu sudah dipergunakan atau tidak, kami juga tak tahu," tegas Santoso, Rabu (2/6/2021) lalu.

Namun Santoso membenarkan bahw ia baru tahu soal pembelian alat PCR itu setelah ditegur oleh Menteri Kesehatan dalam pertemuan sebelumnya. Waktu itu Menkes bertanya kepada Santoso mengapa memakai alat PCR itu karena instansi di Kemenkes saja sudah tidak memakainya.

"Saya jawab tidak tahu. karena asya baru tiga bulan menjabat. Tetapi menurut Menkes, sayang uang (APBD) dipakai untuk membeli alat PCR itu," papar pria asal Surabaya ini. ****

Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved