Breaking News:

Hikmah Ramadan 2021

Sekretaris Komisi Infokom MUI Jatim Afif Amrullah: Pencuri yang Tersembunyi

Oleh; A. Afif Amrullah, Sekretaris Komisi Infokom MUI Jawa Timur dan Ketua KPID Jawa Timur

Editor: Adrianus Adhi
MUI Jatim
A. Afif Amrullah, Sekretaris Komisi Infokom MUI Jawa Timur dan Ketua KPID Jawa Timur 

Oleh; A. Afif Amrullah, Sekretaris Komisi Infokom MUI Jawa Timur dan Ketua KPID Jawa Timur

Kapan terakhir kali Anda menghabiskan waktu 24 jam tanpa media apapun? Di zaman sekarang rasanya tidak mudah menjawab pertanyaan tersebut. Mulai dari bangun tidur di pagi hari hingga tidur lagi di malam hari, media dengan ragam platform-nya seakan telah menyihir manusia untuk selalu “bermesraan” dengannya. Bahkan, bisa jadi sebagian orang menghabiskan lebih dari setengah waktu mereka dengan media saat terbangun.

Di antara media yang populer di masyarakat adalah media sosial, media online, radio, televisi dan koran. Dalam banyak kasus, sajian dari media-media itu terbukti mampu mengubah persepsi, kejiwaan, gaya hidup, dan tingkah laku penikmantnya. Positif maupun negatif.

Perubahan positif tersebut setidaknya menghadirkan lima manfaat; sumber informasi, membantu proses belajar, memperkaya pengalaman, relaksasi dan hiburan. Sedangkan energi negatifnya—terutama untuk anak-anak—antara lain mengajarkan prilaku kekerasan, pornoaksi atau kriminal, mempengaruhi pola pikir instantly, kurang menghargai proses, meniru gaya hidup yang bertentangan dengan norma dan nilai budaya bangsa, kesulitan membedakan antara khayalan dan kenyataan, mengurangi minat pada aktivitas produktif dan meningkatkan kegandrungan terhadap keduniaan yang berlebihan.

Dalam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, media juga selalu hadir menemani para penikmatnya. Ragam konten disajikan untuk terus mempengaruhi masyarakat agar menikmatinya sepanjang waktu. Sesugguhnya, perilaku seperti ini tidak masalah sepanjang menghadirkan manfaat-manfaat positif sebagaimana di atas. Namun ekses negatifnya adalah besarnya potensi kehilangan pahala puasa gara-gara terlalu asyik berinteraksi dengan media, terutama media yang ada dalam genggaman kita.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Betapa banyak orang-orang yang berpuasa tidak mendapatkan balasan kecuali lapar dan haus” (H.R. Ath-Thabrani). Kemudian dalam riwayat lain dari Anas bin Malik, Nabi Muhammad SAW mwanti-wanti ada lima perbuatan yang menghapus pahala puasa.

Pertama, berdusta atau berbohong, menyampaikan informasi yang tidak berdasarkan fakta sesungguhnya. Dahulu kala, untuk berbohong kita membutuhkan lawan bicara secara langsung. Tidak mungkin orang akan berbohong atau berdusta ketika hanya berada di satu tempat sendirian. Namun perkembangan teknologi mengubah segalanya. Media sosial menjadi wasilah yang sempurna untuk menghapus pahala puasa dengan berbohong, menciptakan kabar palsu atau membagikan kabar bohong (hoax).

Kedua, gibah, menggunjing atau rasan-rasan. Ini bagian dari kebiasaan akut yang jamak terjadi di tengah masyarakat kita untuk membicarakan keburukan orang lain. Padahal Nabi SAW sudah mengingatkan bahwa ghibah merupakan perbuatan keji sampai-sampai Rasulullah mengumpamakannya seperti memakan bangkai saudara sendiri.

Pada zaman sekarang, ghibah menjadi semakin terbuka da bebas dengan adanya media sosial. Di intstagram, misalnya, banyak sekali akun khusus gibah yang memiliki jutaan pengikut (followers). Komentar-komentar di media sosial atau aplikasi percakapan begitu mudahnya meluncur dengan nada khas rasan-rasan atau bahkan berujung pada cacian, hujatan dan hinaan. Tak sedikit di antaranya harus berusuan dengan aparat penegak hukum karena mengandung unsur pidana.

Ketiga, adu domba atau menciptakan perselisihan. Mengadu domba ini bisa jadi merupakan kelanjutan dari gibah dan fitnah. Sudah banyak bukti bagaimana media massa dan media sosial punya kontribusi menciptakan polarisasi di tengah masyarakat. Lebih-lebih jika berkaitan dengan momen politik tertentu.

Keempat, memandang dengan syahwat. Sekali lagi, pada zaman sekarang tidak ada jaminan bhawa orang yang tinggal di satu tempat sendirian kemudian tidak melakukan perbuatan maksiat. Fasilitas teknologi informasi membuka ruang selebar-lebarnya untuk mengakses konten-konten yang bisa mengundang hasrat biologis. Sehingga tantangan orang berpuasa di zaman sekarang tentu semakin berat karena segala godaan benar-benar berada di depan mata, kapanpun dan dimanapun.

Kelima, sumpah palsu. Ini meliputi ucapan atau keterangan saksi yang isinya tidak benar atau tidak sesuai fakta. Sumpah palsu ini tentu berbahaya karena bisa menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain secara zalim.

Inilah para pencuri pahala puasa yang tersembunyi dan kadang tidak terasa kita lakukan. Boleh jadi puasa kita sah secara hukum syariat, namun pahalanya hangus bagaikan kayu bakar yang terpanggang api karena “para pencuri” tersebut. Adanya telepon genggam dengan kuota internet dan ragam media lainnya yang selalu menemani keseharian kita, memiliki kontribusi besar untuk menentukan baik dan buruknya kuaitas puasa kita. Maka, hanya kepada Allah-lah, kita meminta pertolongan dan perlindungan agar hati dan pikiran kita mampu menghindari semua itu. Lebih-lebih di hari-hari akhir Ramadhan ini.

Ramadhan bulan yang baik, maka perlu kita isi dengan yang baik-baik, termasuk dalam berkomunikasi, berinteraksi, mengakses informasi serta memiih hiburan yang sehat. Semoga Allah SWT mengampuni kelalaian kita karena terlalu mesra dengan media. Wallahul musta’an ilaa sabilir rahman.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved