Breaking News:

Kapal Selam Nanggala Hilang

Hotman Paris Cari Anak Lettu Imam Adi yang Videonya Halangi Ayahnya Dinas di KRI Nanggala 402 Viral

Pengacara kondang Hotman Paris Hutapea mencari anak Lettu Imam Adi yang videonya menghalangi ayahnya viral di media sosial beberapa waktu lalu.

Editor: Iksan Fauzi
Kolase Instagram
Pengacara kondang, Hotman Paris mencari anak Lettu Imam Adi yang videonya viral menghalangi ayahnya berangkat ke KRI Nanggala 402. Hotman Paris ingin membiayai sekolah anak itu. 

Aksi bocah itu membuat rasa gemas dari sang ayah yang tak berhenti tertawa cekikikan sejak detik awal hingga akhir video tersebut.

"Papa mau pipis," ucap sang ayah seraya merangkul sang anak.

2. Percakapan sang anak dengan ibunya 

Di penghujung video tersebut, sang anak terlihat percakapan dengan orang lain yang merekam momen tersebut.

Di duga orang tersebut adalah ibunda dari sang anak.

"Kenapa enggak boleh kerja. Disuruh di rumah aja. Papa mau pipis. A pakai pampers," tanya ibunda.

Sang anak dengan polosnya, seraya berdiri dengan menempelkan punggungnya ke dinding, menjawab bahwa dirinya sengaja ingin mengunci ayahnya itu di dalam kamar.

"Enggak. Dikancing (dikunci). Enggak mau," ujar A begitu polosnya.

3. Momen terakhir sebelum KRI Nanggala 402 hilang

Video berdurasi 44 detik itu diunggah oleh sebuah akun Instagram (IG) bernama @airmenzone. Di unggah sekitar pukul 22.00 WIB, Jumat (23/4/2021).

Dan telah dilihat sejumlah 4.639 kali, dan telah menuai 25 komentar.

Akun tersebut membubuhi narasi, bahwa video tersebut merupakan rekaman momen terakhir seorang kru Kapal Selam KRI Nanggala 402, dengan anaknya.

4. Seperti pertanda akan ada musibah

Pria berpakaian lengan panjang warna hitam itu, merupakan Lettu Laut (P) Imam Adi, dan anaknya berjenis kelamin laki-laki berinisial A.

Informasinya, Lettu Laut (P) Imam Adi bertugas sebagai Kadiv PIT dalam pelayaran kapal selam yang dijuluki 'Monster Laut' buatan industri Howaldtswerke, Kiel, Jerman Barat, yang dikabarkan hilang kontak di perairan Bali, Rabu (21/4/2021) sekitar pukul 03.00 WIB, kemarin.

"A seakan punya firasat bahwa akan ada musibah yang akan menimpa ayahnya.

Saat ayahnya akan bertugas di KRI Nanggala 402, beberapa hari lalu.

A memaksa dan menahan sang ayah untuk tidak bekerja. A mengunci sang ayah di dalam kamar.

Ayah A bernama Lettu Laut (P) Imam Adi, termasuk dalam 53 awak kapal selam Nanggala 402 yang hilang di perairan Bali," tulis akun tersebut.

Berdasarkan postingan akun kedua IG tersebut.

Video tersebut diperoleh dari akun IG bernama @larasputrim, yang diduga merupakan istri dari Letkol Laut (P) Iman Adi.

5. Doa istri untuk Lettu Imam Adi

Ia mengaku meminta maaf kepada anaknya A yang tidak bisa menghalangi Lettu Laut (P) Imam Adi untuk pergi dalam tugas pelayaran kapal selam, dengan mengunci di dalam kamar tersebut.

"A tetap bergandengan tangan sama mama ya nak. Maafin mama ga bantu A ikut ngunci papa di kamar," tulis akun IG @larasputrim.

Apalagi, ia juga mengaku bahwa suaminya itu seperti merasakan petanda aneh berupa rasa khawatir yang tak biasa, sebelum berangkat bertugas.

"Baru kali ini papa berangkat layar penuh dengan kekhawatiran.

Mama hanya bilang; Papa mau kemana toh Paa, kan cuma layar kok kayak mau pergi kemana," jelasnya.

Kini, ia hanya bisa berdoa semaksimal mungkin. Dan berharap bahwa suaminya itu tetap kuat dalam situasi sulit itu hingga tim penyelamat bisa menemukan kapal selam tersebut.

"Maafin mama. Maafin mama ya Pa, mama sekarang bantu doa yang kenceng.

Semoga Papa dan kru bisa kembali lagi ke pelukan keluarga dengan sehat dan selamat," harapnya.

"Papa jangan menyerah, jangan pernah. Mama yakin papa kuat, papa bisa kembali lagi sama mama dan A," pungkasnya.

6. Perwira Akmil lulus 2015

Sementara itu, Lettu Laut (P) Imam Adi merupakan perwira Akademi Militer (Akmil) angkatan tahun 2011, dan lulus tahun 2015.

Debut karir anak sulung dari tiga bersaudara itu sebagai perwira Angkatan Laut (TNI-AL), dimulai saat bertugas di KRI Kapitan Pattimura, selama dua tahun.

Sebelum akhirnya berdinas di KRI Nanggala 402 pada tahun 2017. Bapak satu anak itu, sempat menempuh pendidikan di Korea dan Los Angeles, Amerika Serikat.

Sejak kecil ia telah bercita-cita sebagai perwira TNI-AL. Demi menggapai keinginannya itu, Imam bahkan rela tak melanjutkan pendidikan tingginya di Universitas Brawijaya, Malang.

Ayahanda Lettu Laut (P) Imam Adi, Edy mengaku, anak pertamanya itu sempat mengirimkan kabar mengenai keberangkatannya berlayar dengan KRI Nanggala 402, pada Senin (19/4/2021) sore.

Tepat, dua hari sebelum sebelum kapal selam berjuluk 'Monster Laut' yang dinaiki anaknya beserta 52 orang lainnya itu, dikabarkan hilang komunikasi (lost contact) di perairan laut sis utara Pulau Bali.

Melalui pesan singkat, ungkap Abah Edy sapaannya, bahwa anaknya itu berpamitan untuk pergi bertugas, sekaligus minta didoakan agar lancar dan selamat selama menjalankan misi di dalam kapal.

"Setiap kali akan pergi tugas, dia (Lettu Imam Adi) selalu memberi kabar, baik itu melalui pesan singkat atau telepon. Isinya ya minta doa agar selamat dan lancar," katanya saat ditemui TribunJatim.com, di kediamannya, Semare, Kraton, Pasuruan, Jumat (23/4/2021).

Sekadar diketahui, hingga Jumat (24/4/2021) malam, belum ada kepastian hasil proses pencarian dari tim penyelamat, terkait Kapal Selam KRI Nanggala 402 yang dikabarkan hilang kontak di perairan sisi utara Pulau Bali, Rabu (21/4/2021) sekitar pukul 03.00 WIB, kemarin.

KRI Nanggala 402 semula ikut dalam skenario latihan penembakan yang rencananya dihadiri Panglima TNI dan Kepala Staf TNI AL (KSAL) Laksamana Yudho Margono.

Namun akhirnya rencana keberangkatan tersebut batal seiring perisitiwa hilangnya KRI Nanggala.

Kapal selam buatan Jerman tahun 1978 itu diperkirakan hilang di perairan sekitar 60 mil atau sekitar 95 kilometer dari utara Pulau Bali.

Diduga, KRI Nanggala berada di palung di kedalaman 700 meter perairan laut Bali. Dalam upaya pencarian kapal selam tersebut, Indonesia kini telah meminta bantuan dua negara sahabat, yakni Singapura dan Australia.

Mantan KSAL : kapal tak akan pecah

Sementara itu, mantan Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KASAL) Laksamana TNI (Purn) Soeparno meyakini bahwa kondisi Kapal Selam KRI Nanggala 402 yang hilang kontak sejak Rabu (21/4/2021) kemarin, masih dalam keadaan utuh.

Kapal selam pabrikan industri Howaldtswerke, Kiel, Jerman Barat itu, terbilang kuat, karena mampu menyelam hingga kedalaman 500 meter.

Sehingga, Soeparno meragukan jika kondisi kapal selam berdimensi panjang 59,5 meter, lebar 6,3 meter, dan tinggi 5,5 meter itu dalam kondisi terkoyak.

Hanya saja, ia mengaku tidak yakin dengan kondisi para kru di dalam kapal selam yang terkenal dengan julukan Monster Laut itu.

"Kalau kapalnya tidak akan pecah. Karena kedalaman 500 meter masih kuat. Kalau awak kapalnya, enggak tahu saya, mudah-mudahan masih sehat," katanya saat dihubungi TribunJatim.com, Jumat (23/4/2021).

Soeparno berharap para tim penyelemat segera menemukan lokasi kapal selam tersebut, dan melakukan penyelamatan terhadap semua orang yang berada di dalam kapal selam yang memiliki empat mesin diesel elektrik itu, secepatnya.

Insiden kedaruratan dalam sebuah operasi seperti hilang komunikasi (lost contact) seperti kondisi yang dialami kapal seberat 1.395 Ton tersebut, bisa disebabkan oleh banyak faktor.

"Namanya kecelakaan gak bisa diprediksi. Terkadang kesalahan personel, kesalahan material, banyak sekali kemungkinan," tuturnya.

Soeparno mengaku pernah menjadi pimpinan kapal selam tersebut sekitar 12 tahun lamanya, sejak 1984 hingga 1994.

Banyak misi operasi latihan, pengintaian bahkan penyerangan telah dijalankannya bersama para kru kapal selam yang di desain oleh Ingenieurkontor di Kota Lübeck, Jerman, Maret 1978, silam itu.

"Saya di sana 12 tahun, pokoknya saya pergi dari situ tahun 1994 (sejak 1984).
Khusus tempur," jelasnya.

Menurutnya, insiden hilangnya Kapal Selam KRI Nanggala 402 yang diduga karena kehilangan daya listrik (black out) bisa terjadi karena adanya kerusakan lapisan pelindung luar kapal selam sehingga menimbulkan kebocoran.

Tak pelak, membuat air laut masuk ke dalam ruang kapal selam dan diperkirakan menimbulkan korsleting pada komponen kelistrikan kapal selam tersebut.

"Kalau (black out) kerusakan listrik ya karena air. Air laut masuk ke kapal, iya karena kebocoran," ungkapnya.

Kini, ia berharap petugas gabungan tim penyelamat segera bergerak cepat dalam melakukan proses pencarian. Mengingat logistik; oksigen di dalam kapal selam terbatas.

"Kalau dalam keadaan normal running well itu bisa 1 minggu, tapi kalau listriknya rusak, saat itu ya enggak bisa jalan kapal itu," pungkasnya.

Sekadar diketahui, hingga Kamis (22/4/2021) malam, belum ada kepastian hasil proses pencarian dari tim penyelamat, terkait Kapal Selam KRI Nanggala 402 yang dikabarkan hilang kontak di perairan Bali, Rabu (21/4/2021) sekitar pukul 03.00 WIB, kemarin.

KRI Nanggala 402 semula ikut dalam skenario latihan penembakan yang rencananya dihadiri Panglima TNI dan Kepala Staf TNI AL (KSAL) Laksamana Yudho Margono.

Namun akhirnya rencana keberangkatan tersebut batal seiring perisitiwa hilangnya KRI Nanggala.

Kapal selam buatan Jerman tahun 1978 itu diperkirakan hilang di perairan sekitar 60 mil atau sekitar 95 kilometer dari utara Pulau Bali.

Diduga, KRI Nanggala berada di palung di kedalaman 700 meter laut Bali. Dalam upaya pencarian kapal selam tersebut, Indonesia kini telah meminta bantuan dua negara sahabat, yakni Singapura dan Australia.

Mensos Risma kunjungi keluarga Lettu Imam Adi

Menteri Tri Rismaharini mengunjungi kediaman Kapten Yohannes kru KRI Nanggala-402 di Driyorejo, Gresik, Minggu (25/4/2021).
Menteri Tri Rismaharini mengunjungi kediaman Kapten Yohannes kru KRI Nanggala-402 di Driyorejo, Gresik, Minggu (25/4/2021). (surya.co.id/willy abraham)

Menteri Sosial, Tri Rismaharini menyambangi rumah salah seorang awak kapal KRI Nanggala, Lettu Laut (p) Imam Adi di Perumahan Surabaya, Minggu (25/4/2021).

Risma datang dengan membawa sejumlah mainan untuk anak dari Lettu Imam Adi yang masih berusia balita.

Selain itu, Risma juga datang untuk memberikan dukungan moral kepada pihak keluarga.

Risma berharap keluarga bisa sabar, karena musibah yang menimpa KRI Nanggala 402 adalah cobaan dari Tuhan.

Ia juga meminta semua pihak untuk tetap yakin dan berdoa, agar tidak terjadi sesuatu apapun.

"Saya berharap kita sabar. Ini adalah cobaan Tuhan, karena itu harus bersabar karena pemenangnya adalah orang yang sabar."

"Kita harus tetap yakin dan berdoa agar tidak terjadi sesuatu apa pun," kata Risma dikutip dari tayangan video di kanal YouTube Kompas TV (grup SURYA.co.id), Minggu (25/4/2021).

Setelah diunggah oleh istri Lettu Imam, video tersebut pun menjadi viral dan mendapat banyak simpati dari warganet.

Bahkan, Mensos Risma juga mengaku telah menonton video tersebut.

Risma pun menuturkan, sang anak pasti akan merasakan saat akan terjadi sesuatu dengan ayahnya.

"Iya, anak pasti kerasa lah," tutur Risma. (Tribun Jakarta)

Baca berita lainnya terkait Kapal Selam Nanggala 402 hilang

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved