Berita Surabaya

Viral Meninggalnya Remaja 15 Tahun di Sidoarjo, Ayah Kandung Beberkan Fakta Lain

Agung Wahyudi Rahardi dan istrinya, Linda Halim nampak terpukul mendengar banyaknya kabar simpang siur mengenai meninggalnya putri mereka.

Penulis: Firman Rachmanudin | Editor: Cak Sur
SURYA.CO.ID/Firman Rachmanudin
Agung Wahyudi Rahardi dan Linda Halim didampingi kuasa hukumnya Rolland Ellyas Pottu (tengah) saat melakukan klarifikasi berita terkait meninggalnya putri mereka. 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Agung Wahyudi Rahardi dan istrinya, Linda Halim nampak terpukul mendengar banyaknya kabar simpang siur mengenai meninggalnya putri mereka, AP (15).

Kabar itu menjadi viral usai diunggah oleh Erlita Dewi yang merupakan mantan istri Agung Wahyudi Rahardi, yang juga merupakan ibu kandung dari AP.

Kepada wartawan, Agung Wahyudi Rahardi dan Linda Halim, ibu sambung AP menegaskan, jika meninggalnya AP bermula saat diagnosa dokter mengenai kebocoran pada ginjalnya.

"Saya membawa anak saya ke rumah sakit Delta Surya Sidoarjo sendiri bersama suami. Sekitar tanggal 17 Maret, itu pun bolak balik mulai dari dokter spesialis penyakit dalam, kemudian diarahkan ke dokter spesialis jantung, lalu diminta lagi ke dokter spesialis penyakit dalam lagi. Semua itu upaya ikhtiar kami mengobati anak kami," kata Linda, Sabtu (3/4/2021).

Menurut petunjuk dokter, saat diperiksa kondisi AP tampak baik. Dokter hanya memberikan resep obat agar AP tetap bisa dilakukan rawat jalan.

Selepas pengobatan rawat jalan, kondisi AP tampak mulai membaik. Pembengkakan di kaki dan wajah juga sudah mulai menghilang.

Namun pada tanggal 27 Maret 2021, Linda yang semula sempat bercengkrama dengan AP dan tiga anak sambungnya itu seperti biasa hendak melakukan tugas sebagai ibu rumah tangga umumnya.

"Saat saya mau masakin anak-anak, anak saya (AP) ini teriak-teriak panggil mama... mama, begitu. Saya langsung ke kamarnya, dia minta gendong. Saya langsung teriak ke asisten rumah tangga saya buat bikinkan air gula. Saya juga panggil papanya anak-anak. Saat itu saya tanya, mana yang sakit nak, anak saya (AP) cuma bilang gendong mama," cerita Linda.

Karena panik, AP kemudian dibawa ke rumah sakit dan di sana putri mereka sudah dinyatakan meninggal dunia.

"Kami satu mobil sempat tidak percaya. Anak saya itu ngobrol sama saya meskipun kesakitan itu saya peluk. Minta air minum katanya haus. Itu di dalam mobil saya bilang, sabar ya nak," tambahnya.

Setelah dinyatakan meninggal, Agung kemudian meminta dokter untuk melakukan upaya medis dengan memberikan kejut jantung.

"Kami memang meminta, karena tidak percaya secepat itu anak saya pergi. Dokter memang sarankan, kalau dikejut itu organnya bisa rusak. Tapi tetap kami minta karena saya yakin anak saya masih ada," ujarnya.

Setelah hampir tiga jam menunggu tindakan medis, upaya Agung dan Linda tak bisa melampaui takdir.

Agung yang kemudian pasrah, mencoba menghubungi Erlita, mantan istri dan ibu kandung AP mengabarkan kematian anaknya itu.

"Karena atas permintaan ibu kandungnya, AP agar disemayamkan esok harinya dan diminta formalin. Namun saya menolak awalnya. Namun untuk menghindari kesalahpahaman akhirnya saya ikuti, tapi tetap menolak kalau diformalin. Kemudian alternatifnya ya jenazah disimpan dalam lemari pendingin di kamar jenazah," sambung Agung.

Agung menjelaskan, saat memandikan jenazah AP, tidak ada sedikitpun darah yang keluar dari bagian tubuh anaknya itu.

"Saya sendiri ikut memandikan. Termasuk ada petugas rumah sakit yang ikut memandikan. Ada saksinya. Itu tidak ada keluar darah," imbuhnya.

Baru kemudian tanggal 28 Maret 2020, kondisi jenazah yang ditutup plastik yang disebut sebagai protokol Covid itu ditemui oleh Erlita.

"Kami juga tidak tahu. Darah itu baru keluar pada saat ibu kandungnya mencium jenazah AP atau memegangnya," ujarnya.

Agung dan Linda merasa pemberitaan di luar tersebut begitu menyudutkan dan hanyalah sebuah penggalan dari konstruksi cerita yang sebenarnya.

"Kami juga merasa perlu memanggapi dan meluruskan kabar di luaran sana yang hanya sepenggal-sepenggal. Tidak benar kami tidak memperlakukan anak kami dengan tidak baik. Ayah mana yang tega melihat anak kandungnya menderita," lanjutnya

Baca juga: 3 Anak Kandung Agung Dibawa Paksa Orang Bertubuh Kekar, Buntut Viral Meninggalnya Remaja di Sidoarjo

Saat diminta untuk autopsi, pihak Agung dan Linda awalnya sempat ragu karena tidak tega melihat jenazah anaknya kembali dibongkar, namun karena adanya kepentingan penyidikan, akhirnya Agung bersikap kooperatif dan menandatangani pembongkaran makam buah hatinya itu.

"Kami akan kooperatif. Apapun yang dibutuhkan kepolisian untuk mengetahui penyebab kematian anak saya, saya akan kooperatif. Awalnya saya menolak karena tidak tega. Ayah mana yang tega melihat jenazah anaknya dibongkar. Tapi untuk kepentingan penyidikan sekali lagi kami akan kooperatif," tandasnya.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved