Breaking News:

Citizen Reporter

Menunggu Detektif Panji di Indonesia

Cerita Panji menjadi isu sastra klasik yang perlu dicermati guna mengangkat kembali kearifan lokal sastra Indonesia, khususnya sastra Panji.

Editor: Cak Sur
Istimewa
Gunawan Maryanto, penulis tentang budaya Panji. 

SURYA.CO.ID, LAMONGAN - Budaya Panji banyak dikenal melalui berbagai dongeng. Dari kisah Panji yang paling terkenal, Ande-Ande Lumut, sebenarnya ada kisah lain yang semakin berkembang dan bervariasi.

Bukan hanya menjadi dongeng lisan, kisah panji juga sudah diangkat menjadi komik dan film.

Kisah pengembaraan sosok Inu Kertapati dan Chandrakirana menjadi sosok sentral yang mengembara.

Pencarian tentang kebenaran dan jati diri menjadi energi yang tidak ada habisnya. Itu dibahas dalam Webinar Budaya Panji yang berlangsung Kamis (17/12/2020), melalui aplikasi Zoom dan YouTube Harian Surya serta YouTube Tribun Jatim.

Tiga pemateri tentang sastra secara khusus berbincang tentang budaya Panji, yaitu Gunawan Maryanto, Junaedi Setiyono, dan Mashuri. Ketiganya menulis tentang budaya Panji ke dalam sastra dan bahkan film.

Saat ini kisah Panji berkembang. Spirit pengembaraan, cinta kasih, cinta yang tertolak dan berakhir bahagia, kepahlawanan, dan spirit positif lain. Menurut Mashuri, Mpu Darmaja dari zaman Kediri. Persebaran Panji dari Pusat masa Majapahit ke Melayu dan daerah lain.

“Di mana-mana mengalami resepsi sesuai dengan wilayahnya. Di Melayu ada Ken Tambuhan. Teori dalam folklore penting. Awalnya satu kemudian menyebar dan membacanya sesuai dengan zamannya,” tutur Mashuri.

Tradisi tutur mengalami transformasi, berkembang ke ketoprak, pewayangan, hingga novel. Cerita Panji semacam interteks dari cerita-cerita modern yang dimodifikasi menjadi cerita populer.

Namun, tentu yang masih menjadi isu dalam cerita Panji adalah jembatan kisah klasik dan modern yang masih belum tuntas untuk dibicarakan, dalam arti perkembangan cerita populer lebih dominan daripada cerita klasik.

“Bisa jadi, cerita Panji membutuhkan nilai improvisasi cerita yang lebih modern agar tetap terjaga nilai budaya sastra lama di era yang serba milenial,” kata Gunawan.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved