Berita Gresik
Banjir Bikin Rugi, Pengusaha dan Masyarakat Gresik Barat Minta Bupati Cabut Portal di Cerme
Kuasa hukum Perkumpulan Pengusaha dan Masyarakat Gresik Barat menegaskan, pemortalan jalan di pertigaan Cerme merupakan perbuatan melawan hukum.
Penulis: Willy Abraham | Editor: Cak Sur
SURYA.CO.ID, GRESIK - Banjir luapan Kali Lamong yang merendam wilayah Gresik dalam tiga hari ini dikeluhkan para pengusaha di wilayah Gresik barat. Mereka meminta agar Bupati Gresik, Sambari Halim Radianto mencabut portal di simpang tiga Cerme agar kendaraan bisa melakukan aktivitas dengan lancar.
Sejak Minggu (13/12/2020) lalu, sejumlah jalan di Gresik terputus akibat banjir luapan Kali Lamong. Mulai dari Jalan Raya Morowudi, yang ada di Kecamatan Cerme, kemudian di Metatu, Benjeng hingga Boboh, Menganti. Kendaraan roda dua yang nekat menerjang banjir terpaksa harus didorong karena ketinggian air mencapai 60 sentimeter.
Sedangkan warga setempat memilih memasang kursi kayu, roda bekas bahkan bambu di tengah jalan raya. Agar kendaraan roda empat atau lebih tidak melintas karena gelombang air bisa merusak rumah warga.
Hal ini membuat sejumlah pihak dirugikan, termasuk para pengusaha di wilayah Kecamatan Benjeng, Cerme hingga Balongpanggang.
Ketua Perkumpulan Pengusaha dan Masyarakat Gresik Barat (PMGB), Amat Prayitno mengatakan, banjir membuat para pengusaha merugi. Barang yang seharusnya dikirim ke luar negeri menjadi tertunda karena akses jalan tertutup banjir.
Kontainer juga tidak bisa masuk, karena harus menunggu banjir surut baru boleh melintas. Kendaraan besar hanya bisa menunggu di tepi jalan, sedangkan barang yang akan dikirim sesuai jadwal menjadi molor dan tertunda.
Akibatnya, barang bisa tidak terjual. Produksi yang kembali menggeliat di tengah pandemi covid-19 pun terganggu.
Amat berharap, Bupati Gresik Sambari Halim Radianto beserta jajaran terkait mencabut portal yang ada di simpang tiga Cerme.
"Kami ingin portal dicabut permanen atau dibuka sementara mengingat cuaca tidak bisa diprediksi, karena perusahaan yang berorientasi eksport pakai kontainer pasti terhambat dan mau kirim bahan baku juga terhambat sehingga berdampak kepada aktifitas berhenti dan cashflow terganggu," kata Amat, Rabu (16/12/2020).
Pihaknya juga meminta, Pemkab Gresik segera mengambil tindakan yang bijaksana. Berani mengambil kebijakan sementara dalam keadaan cuaca yang tidak menentu, sehingga kegiatan tetap bisa berjalan dengan baik.
"Misalkan setelah portal dicabut, dibuatkan jam lewat misal pagi di mulai pukul 09.00 atau 10.00 Wib hingga pukul 15.00 Wib. Kemudian malam hari mulai pukul 20.00 hingga pukul 04.00 Wib pagi. Nanti ada penjaganya di situ," terangnya.
Sehingga aktivitas warga di wilayah Cerme, seperti aktivitas pasar atau para pekerja tidak terganggu. Lalu lalang kendaraan warga yang biasanya ramai saat pagi hari dan malam sore tidak terganggu.
Jalan raya Cerme sendiri saat ini sudah dibeton. Tol Krian-Legundi-Bunder-Manyar (KLBM) yang memiliki exit tol di Cerme juga sudah beroperasi. Sehingga, sangat disayangkan jika para pengusaha di Cerme, Benjeng hingga Balongpanggang kesusahan akses masuk perusahaan atau mengirim barang karena jalan diportal.
Dalam waktu dekat, lanjut Amat, pihaknya akan membuat surat melalui dinas terkait untuk duduk bersama membahas masalah ini.
"Kami siap bertemu dengan pak Bupati bersama teman-teman pengusaha yang lain," pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/banjir-di-cerme-gresik.jpg)