Breaking News:

Apa Itu Rebo Wekasan atau Rabu Pamungkas? Berikut Penjelasan Dalil Tentang Rebo Wekasan dalam Islam

Nama lain Rebo Wekasana adalah Rabu Wekasan atau Rabu Pamungkas. Berikut penjelasan dalil tentang Rebo Wekasan.

Penulis: Pipit Maulidiya | Editor: Adrianus Adhi
SURYA/AHMAD ZAIMUL HAQ
Ilustrasi - Dalil Tentang Rebo Wekasan. 

Penulis: Pipit | Editor: Adrianus Adhi

SURYA.co.id - Apa itu Rebo Wekasan? Rebo Wekasan adalah ritual tradisi masyarakat Jawa di hari Rabu terakhir Bulan Safar, bulan ke dua penanggalan Hijriyah. Simak  juga penjelasan dalil tentang rebo wekasan di artikel ini.

Diketahui nama lain Rebo Wekasana adalah Rabu Wekasan atau Rabu Pamungkas.

Baca juga: Rebo Wekasan Jatuh 14 Oktober 2020, Ini Amalan Tolak Bala Sesuai Ajaran Islam

Sejumlah masyarakat percaya di waktu itu akan turun bencana dan sumber penyakit, sehingga harus melaksanakan sejumlah ritual tradisi tolak bala.

Selain masyarakat Jawa, tradisi menganggap Bulan Safar adalah bulan sial juga terjadi di bangsa Arab, seperti yang dijelaskan dalam Buku Risalah Ahlusunnah Wal Jama'ah An-Nahdliyah, Subaidi, Unisnu Pers 2019.

Lantas bagaiman dalil tentang Rebo Wekasan dalam Islam?

Melansir laman resmi Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Tebuireng Online, dijelaskan A. Muabrok Yasin, Pengasuh Rubrik Tanya Jawab Fiqh Tebuireng online bahwa memang terdapat hadits dla'if (tidak memenuhi syarat sahih) yang menerangkan tentang Rabu terakhir di Bulan Shafar, yaitu:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: آخِرُ أَرْبِعَاءَ فِي الشَّهْرِ يَوْمُ نَحْسٍ مُسْتَمِرٍّ. رواه وكيع في الغرر، وابن مردويه في التفسير، والخطيب البغدادي..

“Dari Ibn Abbas ra, Nabi Saw bersabda: “Rabu terakhir dalam sebulan adalah hari terjadinya naas yang terus-menerus.” HR. Waki’ dalam al-Ghurar, Ibn Mardawaih dalam at-Tafsir, dan al-Khathib al-Baghdadi. (dikutip dari Al-Hafidz Jalaluddin al-Suyuthi, al-Jami’ al-Shaghir, juz 1, hal. 4, dan al-Hafizh Ahmad bin al-Shiddiq al-Ghumari, al-Mudawi li-‘Ilal al-Jami’ al-Shaghir wa Syarhai al-Munawi, juz 1, hal. 23).

Selain dla’if, hadits ini juga tidak berkaitan dengan hukum (wajib, halal, haram, dll), melainkan hanya bersifat peringatan (at-targhib wat-tarhib).

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved