Kilas Balik
3 Kali KKB Papua Kocar-kacir Digempur Pasukan Elit TNI, Ada yang Cuma Dihampiri Langsung Kabur
Setidaknya sudah tiga kali KKB Papua pernah berhadapan dengan pasukan elit TNI. Langsung kocar-kacir, begini kisahnya
Penulis: Putra Dewangga Candra Seta | Editor: Putra Dewangga Candra Seta
SURYA.co.id - Setidaknya sudah tiga kali Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua pernah berhadapan dengan pasukan elit TNI.
Yang pertama adalah saat pasukan elit Resimen Para Komando Angkatan Darat atau RPKAD (sekarang Kopassus), dikirim untuk menumpas KKB Papua pada tahun 1967.
Sebanyak 50 prajurit RPKAD berhasil mengusir KKB Papua yang menyerang salah satu pos koramil di Warmare.
Yang kedua terjadi saat para prajurit RPKAD tiba-tiba disergap KKB Papua saat perjalanan menuju Manokwari.
Pasukan RPKAD kemudian membalasnya dengan tembakan tak kalah gencar dan membuat KKB Papua kocar-kacir.
Dan yang ketiga terjadi di tahun 2017, ketika KKB Papua melakukan aksi penyanderaan terhadap warga Tembagapura.
TNI lalu menerjunkan Kopassus dan Kostrad untuk melakukan operasi pembebasan.
Operasi pembebasan ini berjalan lancar karena KKB Papua langsung kabur saat Kopassus dan Kostrad mendekat.
Berikut kisahnya dirangkum SURYA.co.id dari berbagai sumber.
1. 50 pasukan RPKAD diterjunkan
Kisah pertempuran sengit RPKAD menumpas KKB Papua diceritakan oleh Sintong Panjaitan melalui buku berjudul 'Sintong Panjaitan Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando' karya Hendro Subroto.
Sebagai prajurit RPKAD, Sintong Panjaitan memang pernah beberapa kali ikut dalam operasi penumpasan KKB Papua.
Kisahnya berawal saat ia bersama 50 prajurit RPKAD lainnya baru mendarat di Papua, dan langsung ditugaskan untuk menggempur KKB Papua.

50 prajurit RPKAD pimpinan Sintong Panjaitan itu langsung ditugaskan menyerbu KKB Papua tanpa sempat istirahat.
Saat itu situasinya sedang genting, salah satu pos koramil di Warmare diserbu oleh KKB Papua.
Pos koramil itu hanya dipertahankan oleh enam orang anggota TNI, yang kemudian salah satunya gugur saat KKB Papua mengepung.
Pasukan RPKAD pimpinan Sintong Panjaitan tiba di Manokwari pada 6 Januari 1967, dan langsung diperintahkan untuk menggempur KKB Papua yang tengah mengepung pos koramil itu.
50 prajurit RPKAD langsung berangkat dari Manokwari menuju Warmare menggunakan dua truk tanpa sempat istirahat.
Dalam menghadapi KKB Papua di Warmare, pasukan RPKAD bertempur secara frontal dan habis-habisan.
KKB Papua pun berhasil dipukul mundur dari Warmare dan lima orang anggota TNI yang terkepung berhasil dibebaskan.
2. Disergap di perjalanan
Masih dilansir dari sumber yang sama, pada tanggal 7 Januari 1967, tim RPKAD pimpinan Sintong Panjaitan melakukan pembersihan sisa-sisa KKB Papua di dalam kota kecamatan Warmare.
Setelah selesai melakukan pembersihan, Sintong dan timnya kemudian menuju Manokwari dengan menggunakan Truk Reo.
Perjalanan menuju Manokwari memang dikenal rawan penyergapan KKB Papua.
Ketika truk berhenti di suatu ketinggian, ternyata benar KKB Papua melakukan penyergapan secara tiba-tiba.
Saat itu Sintong duduk bersebelahan dengan Mayor Vordeling, Kasi 1/Intelijen Korem 171/Manokwari yang sedang merokok.
Tiba-tiba mereka diberondong dengan tembakan dari jarak dekat yang hanya sekitar enam meter.
Tapi untungnya tembakan gencar itu tak mengenai Sintong karena pada saat yang bersamaan ia sedang menundukkan kepalanya.

Sintong tengah menggaruk kakinya yang digigit semut merah, peluru pun mendesing di dekat kepalanya.
Sintong tak tinggal diam, para KKB Papua itu dibalas dengan semburan senjata otomatik yang tak kalah gencar.
Para KKB Papua berhasil dipukul mundur dan Sintong bersama anak buahnya melanjutkan kembali perjalanannya.
3. Kopassus Tumpas KKB Papua Saat Sandera 347 Warga
Melansir dari Tribunnews dalam artikel 'Kronologi Operasi Pembebasan 347 Sandera di Papua Dalam Waktu 78 Menit', operasi penyelamatan yang digelar Jumat (17/11/2017) itu, tidak dilakukan aparat sembarangan.
Kepala Penerangan Kodam Chendrawasih, Kolonel Muhammad Aidi, menyebut anggota TNI yang berpartisipasi dalam operasi itu, adalah gabungan dari Grup 1,2,3 dan Sat81/Gultor Kopassus TNI AD, serta Yonif-751/Raider dan Tontaipur Kostrad TNI AD.
Saat dihubungi Tribunnews.com, ia menjelaskan dalam operasi tersebut pasukan Kopassus ditugaskan untuk menyerbu penyandera yang menguasai desa Kimberley.
Sementara pasukan lainnya ditugaskan untuk menyerbu desa Binti.
Mereka sejak pagi hari, sudah berhasil mendekati lokasi target masing-masing, tanpa diketahui para pelaku.
"Pada waktu yang dikoordinasikan, pada jam 'J' jam tujuh kosong-kosong (WIT), pasukan mulai bergerak ke posisi kelompok KKB Papua yang sedang berkumpul," ujarnya.
Pada pukul 07.45 WIT, akhirnya sebuah bom diledakan sebagai penanda pasukan untuk bergerak.
Anggota Kopassus TNI AD yang ditugaskan membebaskan sandera di aera Kimbley, langsung menghampiri kandang babi di desa itu, tempat para penyandera berkumpul.
"Mengetahui Pasukan yang tiba-tiba Muncul diluar area pemukiman, Kelompok KKB berhamburan melarikan diri tanpa bisa melakukan Perlawanan," ujarnya.
Pada pukul 08.18 WIB, seluruh wilayah yang dikuasai oleh KKB Papua sudah bisa dikuasai anggota TNI.
Semua anggota KKB Papua yang sejak sepekan terakhir melakukan penyanderaan, kabur ke arah hutan lalu melepaskan tembakan dari kejauhan.
Saat itu pasukan tidak melakukan pengejaran ke hutan, karena kondisi cuaca yang kurang memadai.
Setelahnya tim yang berhasil membebaskan pada sandera itu melaporkan ke Pangdam Chendrawasih, Mayjend George Elnadus Supit dan Kapolda Papua, Irjen Pol Boy Rafli Amar.
Tak lama kemudian Tim Satgas Terpadu TNI - Polri, termasuk Pangdam Chendrawasih dan Kapolda Papua tiba di lokasi melaksanakan evakuasi.
Sekitar pukul 14.00 WIT proses evakuasi berhasil dilaksanakan dengan jumlah korban Sandera 347 orang terdiri dari warga Papua dan Luar Papua.
Saat evakuasi dilakukan, sejumlah anggota KKB Papua sempat melakukan penembakan ke arah rombongan, namun tak satupun menjadi korban.(Nurmulia Rekso/Putra Dewangga/Tribunnews/Surya.co.id)