Breaking News:

Smartwealth

Industri Reksa Dana Akan Tumbuh di Semester II 2020

Semester kedua 2020 diharapkan menjadi titik balik pemulihan ekonomi setelah mengalami penurunan semester pertama, khususnya pada kuartal kedua 2020

Surabaya.Tribunnews.com/Bobby Contantine Koloway
Kegiatan memantau pergerakan pasar modal Indonesia. Head of Wealth Management & Premier Banking Bank Commonwealth Ivan Jaya memperkirakan reksa dana masih menjadi favorit investor karena faktor kemudahan, jumlah minimal investasi yang terjangkau, serta pengelolaan investasi yang dilakukan oleh Manajer Investasi (MI). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Semester kedua 2020 diharapkan menjadi titik balik pemulihan ekonomi setelah mengalami penurunan pada semester pertama, khususnya pada kuartal kedua 2020.

Hal itu diungkapkan Ivan Jaya, Head of Wealth Management & Premier Banking Bank Commonwealth.

“Selama vaksin Covid-19 belum ditemukan, risiko penyebaran virus ini masih dapat terjadi, namun ekonomi tidak bisa dihentikan hingga vaksin ditemukan. Ekonomi harus kembali berjalan meskipun belum dapat pulih sepenuhnya seperti sebelum pandemi terjadi,” katanya.

Ia memaparkan, penurunan tingkat penyebaran Covid-19 masih akan memengaruhi pasar keuangan ke depan. Penemuan vaksin Covid-19 juga akan memberikan sentimen di market. Stimulus tambahan baik dari pemerintah maupun Bank Indonesia (BI) juga diperhatikan investor.

“Kebijakan pelonggaran moneter bank sentral besar dunia seperti The Fed (Amerika Serikat), ECB (Eropa), maupu BOJ (Jepang) juga ikut memengaruhi likuiditas global termasuk aliran dana ke negara emerging market,” paparnya.

Sedangkan Jemmy Paul Wawointana, Presiden Direktur Sucor Asset Management menilai bahwa ekonomi secara global akan pulih secara bertahap atau membentuk U-shape pada kuartal ketiga ini. Itu terlihat dari mulai meningkatnya aktivitas manufaktur beberapa negara Asia serta mulai pulihnya harga minyak meskipun masih disokong oleh permintaan yang terbatas.

“Kami masih optimistis bahwa fundamental ekonomi Indonesia cukup baik dan dari sisi pasar saham Indonesia menawarkan potensi imbal hasil cukup menarik bagi investor asing dimana PE (Price to Earning) ratio rata-rata saat ini cukup murah di level 12,4, ditambah komitmen BI untuk menjaga kestabilan moneter dan mata uang rupiah,” tandasnya.

Terlepas dari itu, Jemmy mengungkapkan bahwa pihaknya justru mendapatkan kenaikan jumlah investor cukup signifikan pada periode Covid-19 ini.

“Dimana jumlah investor kami per bulan Mei 2020 bertumbuh kurang lebih 31,8 ribu investor menjadi total sebesar 156,2 ribu investor dibandingkan periode Februari sejumlah 124,4 ribuan investor,” katanya.

Ia pun optimistis industri reksa dana masih akan terus berkembang melihat tren pertumbuhan jumlah investor baru yang semakin meningkat dan bertambah meleknya masyarakat terhadap produk-produk reksa dana, terutama pada kalangan milenial. Namun, dengan adanya berbagai tekanan sentimen negatif yang masih melanda pasar baik dari domestik maupun eksternal, ia memerkirakan pertumbuhan industri reksa dana mencapai single digit di tahun ini. Sementara, pertumbuhan NAB (Nilai Aktiva Bersih) reksa dana seperti pasar uang dan pendapatan tetap masih tinggi.

Halaman
12
Penulis: Bobby Constantine Koloway
Editor: Fatkhul Alami
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved