Virus Corona di Surabaya
Viral Penanganan COVID-19 di Surabaya Dikritik, Sebelumnya Risma Tanggapi Pasien Corona Melonjak
Jumlah pasien COVID-19 ( virus corona) di Kota Surabaya melonjak dari hari ke hari meski PSBB telah digelar hingga jilid II dan kinimemasuki jilid III
Penulis: Yusron Naufal Putra | Editor: Iksan Fauzi
SURYA.co.id | SURABAYA - Jumlah pasien COVID-19 ( virus corona) di Kota Surabaya melonjak dari hari ke hari meski PSBB telah digelar hingga jilid II dan kinimemasuki jilid III.
Lonjakan pasien COVID-19 yang dirawat di Kota Surabaya pun sebelumnya ditanggapi Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini yang akrab dipanggil Risma.
Risma pun menyatakan, Pemkot Surabaya melakukan rapid test besar-besaran kepada warga yang berada di kampung zona merah COVID-19.
Namun, segala upaya Pemkot Surabaya pun ada yang mengkritiknya melalui media sosial.
Di antaranya akun atas nama Aditya C Janottama atau @cakasana memberikan kritikan pedas atas penanganan Covid-19 di Surabaya.

Dari cuitannya, akun tersebut terkesan mengkritisi penanganan wabah virus corona di Kota pahlawan.
Utas dengan bahasan dari berbagai sudut pandang itu disampaikan oleh akun bernama @cakasana. Dikabarkan dia juga merupakan seorang tenaga medis di salah satu rumah sakit di Surabaya.
"Oke kalau gitu kita mulai saja... SEBUAH UTAS tentang bobroknya penanganan COVID-19 di Surabaya," tulisnya di twitter.
Saat dimintai tanggapan, Wakil Koordinator Hubungan Masyarakat Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya, M Fikser mengatakan pihaknya sudah mengetahui perihal kabar viralnya cuitan itu. Dia menyebut, Pemkot Surabaya menyayangkan pernyataan tersebut.
"Kami menyayangkan kalau hal itu disampaikan di media sosial, akhirnya akan menimbulkan persepsi dan pemahaman yang keliru," kata Fikser di Balai Kota Surabaya, Rabu (27/5/2020).
Menurut Fikser apa yang disampaikan akun tersebut tidaklah benar. Misalnya saja dari segi bantuan APD, selama ini Pemkot telah support APD ke seluruh rumah sakit rujukan di Surabaya untuk digunakan tenaga medis saat bertugas.
Bahkan disebutnya, begitu Pemkot menerima bantuan APD, hari itu juga langsung disalurkan kepada rumah sakit oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.
Menurut Fikser, Pemkot sebenarnya tidak anti kritik dalam penanganan wabah ini. Hanya saja, perlu disampaikan dengan baik misalkan dengan diskusi bersama tidak dengan lewat media sosial.
"Kalau memang beliaunya merasa kurang puas atau punya ide bisa datang kepada kami di gugus tugas diskusi bersama kami," ujar Fikser.
Atau bisa dengan lewat organisasi profesional. Sebab menurut Fikser, selama ini Pemkot terbuka berdiskusi dengan berbagai pihak seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan sebagainya.