Breaking News:

Citizen Reporter

Bermain Air Itu Belajar Mencari Volume

Guru harus kreatif merancang belajar siswa di rumah selama pembelajaran daring. Di SDIT Ghilmani Surabaya, orang tua juga ikut belajar.

citizen reporter/dokumen pribadi
Muhammad Daffa Al Ghifari, siswa kelas 3-A SDIT Ghilmani Surabaya, belajar tentang volume dalam pembelajaran daring. 

Pembelajaran daring menuntut guru kreatif agar siswa bersemangat. Bukan hanya guru yang kreatif, melainkan juga orang tua siswa. Itu seperti yang dilakukan siswa dan orang tua di SDIT Ghilmani Surabaya. Mereka membahas volume dengan ukuran yang tidak baku.

Bermain air dalam wadah-wadah biasanya menjadi permainan yang disukai anak sejak ia balita. Menakar air dalam gelas plastik dan dimasukkan ke dalam wadah yang lebih besar menjadi aktivitas menyenangkan. Secara tidak sadar, sebenarnya itu adalah dasar bagi anak untuk belajar tentang volume. Guru kreatif akan menggunakan itu sebagai peraga.

Ketika mereka kelas 3 SD dan mendapat materi volume, kadang-kadang anak kebingungan. Bagaimana cara mengukur volume? Bukankah itu materi yang sangat berat untuk anak SD? Bermacam volume dengan ukuran tidak baku akan mereka pelajari di kelas 3 SD.

Saat belajar daring, ada beberapa tugas yang harus diselesaikan anak. Salah satunya tentang pemahaman pengukuran volume. Ada tabel yang harus diisi sebagai data dan untuk mengukur pemahaman siswa atas materi yang dia kerjakan. Tabel volume diisi menggunakan peraga.

Saat direkam dalam bentuk video, itu sebagai bahan penilaian. Hasil pengisian tabel juga masuk nilai.

Meski di awal menurut orang tua merepotkan, ternyata lama-lama orang tua juga menikmati pelajaran yang diselesaikan anaknya. Ketika mendapat tugas mengukur volume dengan ukuran yang tidak baku, kreativitaslah yang muncul.

Memang tidak mudah untuk mempersiapkan semua peralatan seperti yang dituntut buku, tetapi untuk menanamkan konsep tentang mengukur volume benda dengan satuan tidak baku relatif cukup mudah. Muhammad Daffa Al Ghifari, siswa kelas 3-A SDIT Ghilmani Surabaya, dengan senang hati menyiapkan tiga gelas, air, dan tempat air.

Ibunya merekam saat Daffa bereksperimen. Uniknya, ketika Daffa praktik dan mempresentasikan, ibunya juga ikut belajar. Jika biasanya hanya kognitif yang diasah, kali ini tidak.

Dengan mempraktikkan apa yang ditulis di buku, Daffa justru lebih mudah memahami mengapa gelas yang satu disebut setengah gelas sedangkan yang lain penuh. Sesekali Daffa seperti biasa “ngeyel” dan itu berhenti ketika ia menemukan jawaban melalui praktik.

Ketika diajak belajar tentang volume, reaksi Daffa biasa saja. Akan tetapi, ketika ibunya mengajak Daffa bermain air, dia langsung bereaksi.

“Main air? Mau banget, Bunda. Main airnya di mana?” tanya Daffa saat mempraktikkan materi volume, Rabu (1/4/2020).

Meski sudah memahami konsep volume dari praktik, saat mempresentasikannya, Daffa masih perlu dilatih. Ibunya menuturkan, bahasa Daffa saat bertutur terkesan kaku dan miskin kosakata. Kemampuannya menyelesaikan praktik harus diimbangi dengan presentasi dengan baik agar hasil praktikum itu dapat dipahami orang lain.

Mendampingi Daffa belajar, berarti membuat orang tua juga belajar. Orang tua akan melihat kemampuan anak, kelebihan yang dapat dikembangkan, dan kekurangan yang bisa dilatih agar menjadi lebih baik. Pembelajaran daring memberi efek positif bagi orang tua dan anak.

Listiya Uda Sasyuni
Guru Kelas 3-A SDIT Ghilmani Surabaya
listijahudah@gmail.com

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved