Breaking News:

Citizen Reporter

Ini yang Harus Dikuasai Pembuat Cergam

Membaca lebih mudah jika yang disajikan berbentuk cerita bergambar (cergam). Membuat cergam harus memperhatikan beberapa kunci penting.

citizen reporter/Iin Tri Kusminarni
Peserta pelatihan pembuatan cerita bergambar bersama Eduliterasi di Sidoarjo. 

Hari libur tak menyurutkan semangat 20 orang peserta workshop menulis cerita bergambar (cergam), Minggu (15/3/2020). Mulai pagi hingga sore mereka memenuhi Gedung BPSDMP Surabaya yang beralamat di Jalan Raya Ketajen 36, Gedangan, Sidoarjo.

Kegiatan itu di selenggarakan oleh Eduliterasi, sebuah komunitas menulis di Sidoarjo bersama narasumber Khoirun Nisak dan Uzlifatul Rusydiana. Keduanya adalah penulis cerita anak, editor media guru, dan guru berprestasi. Kegiatan itu diadakan untuk menggiatkan Gerakan Literasi Nasional sebagai bagian dari implementasi dari Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.

Melalui cergam, orang bisa mengangkat kearifan lokal serta menanamkan pendidikan karakter dan budi pekerti tanpa harus menggurui anak. Sayang, saat ini cergam masih sangat minim ditemukan, terutama di perpustakaan sekolah. Karena itu, peserta workshop yang terdiri atas pengajar dan pelajar ditantang untuk menghasilkan cergam.

“Saat ini pemerintah menggalakkan literasi sekolah, salah satunya dengan membaca, tetapi bahan bacaan anak terutama yang bergambar masih sangat kurang. Itu sebabnya, semua peserta harus menghasilkan karya cergam di pelatihan ini,” tantang Uzlifatul.

Cerita anak dengan beberapa gambar, apalagi berwarna-warni akan lebih menarik daripada hanya full teks. Itu seperti yang dituturkan Malila, siswa SMP yang menjadi salah satu peserta workshop.

“Aku lebih suka membaca cerita dengan banyak gambarnya daripada hanya tulisan,” katanya.

Banyak sekali ilmu tentang penulisan cergam yang disampaikan oleh kedua narasumber. Itu mulai dari mengenal cerita anak, praktik penulisan, sampai penerbitan karya cergam.

Pada pembuatan cergam ada penjenjangan pembaca, karena umumnya di konsumsi anak usia 0 – 12 tahun. Pembaca usia bayi (usia 0-2 tahun) biasanya diberi buku untuk stimulasi sensori-motorik bayi. Setiap halaman hanya terdiri atas 0-1 kata, tanpa alur cerita, tanpa tanda baca, tetapi lebih mengedepankan gambar ilustrasi. Ilustrasi minimal 90 persen dari isi buku.

Penjenjangan lain adalah untuk usia di atas satu tahun. Pramembaca untuk anak usia 2-4 tahun, pembaca dini usia 5-7 tahun, pembaca awal usia 7-9 tahun, dan pembaca lancar untuk anak usia 9-12 tahun.

Jadi, untuk penulisan cergam ada kriteria tersendiri yang harus dipenuhi sesuai dengan penjenjangan pembacanya. Ada yang harus dihindari dalam penulisan cergam, yaitu konten dewasa, kekerasan, kekejaman, kecurangan, kebencian, dan SARA.

Di akhir sesi, beberapa cergam peserta ditampilkan untuk koreksi bersama. Dari situ peserta yang lain bisa ikut belajar menyempurnakan cergamnya.

Iin Tri Kusminarni
Guru SMA Muhammadiyah 3 Surabaya
iin3k81gmail.com

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved