Bukti Jejak Virus Corona Masih Ada di Pasien yang Sembuh, Pakar Penyakit Pernafasan Ingatkan Hal ini
Beberapa kasus di China menemukan pasien sembuh dari virus corona masih menunjukkan jejak virusnya melalui tes asam nukleat.
SURYA.CO.ID - Temuan bahwa jejak virus corona masih ada di pasien yang sembuh ternyata terbukti.
Beberapa kasus di China menemukan pasien sembuh dari virus corona masih menunjukkan jejak virusnya melalui tes asam nukleat.
Hasil yang sama juga terjadi di Kanada, ketika virus corona ditemukan pada hidung dan tenggorokkan dua orang yang telah dinyatakan sembuh.
Hal ini diungkapkan Pakar penyakit pernapasan China, Zhao Jianping dikutip dari laman South China Morning Post.
"Kasus seperti itu juga kami alami. Itu sangat berbahaya. Di mana Anda kirim pasien-pasien itu? Anda tidak bisa memulangkan mereka karena mereka bisa saja menginfeksi lainnya, juga tidak di rumah sakit karena tenaga kerja (yang menangani) mulai renggang." Ungkap Zhao.
Menurut Zhao, terdapat 27 pasien yang ketika timnya pergi pertama kali ke RS Wuhan untuk merawat orang terinfeksi pada 30 Desember. Namun, angka infeksinya meningkat pada 10 Januari di kalangan pekerja medis.
"Angka pasien terinfeksi meningkat dari 27 orang menjadi 70 ribu. Ini sangat menular."
Kini terdapat lebih dari 75 ribu angka kasus infeksi virus corona di seluruh dunia dengan angka kematian sebesar 2.247.
Sebanyak 75.465 kasus infeksi berada di daratan utama China, dan angka kematian mencapai 2.236.
Sementara itu, Jepang menduduki peringkat kedua angka infeksi tertinggi setelah China yakni sebanyak 723 kasus.
Meski sebanyak 18.438 orang dinyatakan sembuh, penemuan terbaru adanya jejak virus corona pada pasien sembuh masih perlu ditindak lanjuti.
Perawat Hamil 9 Bulan Masih Kerja di RS
Aksi heroik dilakukan Zhao Yu, seorang perawat yang hamil 9 bulan dan masih bekerja keras menangani pasien Virus Corona di Kota Wuhan, China.
Perawat ini mendapat julukan "seorang ibu dan malaikat yang hebat dalam gaun putih" karena dia terus bekerja di ruang gawat darurat rumah sakit militer di Wuhan, yang merupakan pusat penyebaran virus corona di China.
Lalu, kenapa para pengguna media sosial dan kalangan akademisi justru membully dan menganggap hal itu sebagai propaganda dan memalukan?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/fakta-mengerikan-kota-wuhan-asal-virus-corona-foto-satelit-merah-menyala-dan-gagak-berdatangan.jpg)