Minggu, 26 April 2026

Sambang Kampung Kelurahan Keputih Surabaya, Warga RT 8 RW 2 Manfaatkan Panel Surya untuk Hidroponik

Sejak setahun belakang, warga kampung aktif berkebun, dengan cara hidroponik.

Penulis: Christine Ayu Nurchayanti | Editor: Pipit Maulidiya
SURYA/ SUGIHARTO
Warga RT 8 RW 2 Kelurahan Keputih Surabaya sedang merawat tanaman hidroponik yang memanfaatkan panel surya. 

Sementara Yani Suharti, koordinator lingkungan wilayah Surabaya Timur menyampaikan, solar cell menambah keistimewaan RT 8 RW 2 Keputih Surabaya.

"Solar cell memang harganya lumayan mahal. Namun, bisa menghemat pemakaian listrik dengan cara memanfaatkan cahaya matahari," Yani mengatakan.

Jika pemakaian listrik dihemat, maka, lanjutnya, pengeluaran biaya juga dapat dikurangi.

"Saya rasa hal ini bisa menjadi percontohan tempat-tempat yang lain agar bisa ikut memanfaatkan solar cell di area warga," tandasnya.

Mengolah Bersama

Kegemaran warga RT 8 RW 2 Kelurahan Keputih dalam bercocok tanam disampaikan oleh ketua RT 8 RW 2, Arie Sunarno.

"Kebanyakan warga, setiap harinya sibuk bekerja. Untuk mengurangi kepenatan, setiap hari Minggu kami mengadakan kegiatan seperti senam," ungkap Arie menguraikan cerita, Rabu (8/1).

Kemudian, lanjutnya, tercetuslah ide untuk mengembangkan kegiatan bercocok tanam. Akhirnya sejak awal 2019, warga mulai aktif menanam beragam sayur dan buah.

"Kegiatan bercocok tanam tersebut terus kami kembangkan. Sampai akhirnya, sekarang ini kami sudah punya berbagai tanaman. Ketika panen, kami biasanya mengolahnya bersama-sama. Ada juga yang membelinya," Arie mengungkapkan.

Berbagai tanaman yang dirawat oleh warga di antaranya yakni tanaman hidroponik seperti kangkung dan sawi. Ada juga yang dirawat dengan cara aquaponik seperti kangkung dan tomat.

 Warga RT 8 RW 2 Kelurahan Keputih Surabaya sedang merawat tanaman aquaponik
 Warga RT 8 RW 2 Kelurahan Keputih Surabaya sedang merawat tanaman aquaponik (SURYA/ SUGIHARTO)

Tak ketinggalan beraneka toga yang kaya manfaat mulai dari serai, lengkuas, jahe, dan lain sebagainya. Tak hanya itu, aneka sayur mayur organik bebas pestisida kimia berbahaya seperti terong, okra, dan lain-lain juga bisa ditemukan sini.

"Ada juga ada buah-buahan, paling banyak yakni mangga, jambu, dan kelengkeng. Ada buah naga, juga," kata Arie.

Bahkan, sampai saat ini, Arie menyampaikan, 60 persen warga telah memiliki tanaman buah yang ditanam di rumah mereka masing-masing.

"Selama ini kami memanfaatkannya sendiri, dalam artian belum ada penjualan skala besar setelah panen. Paling ya misalnya, kalau panen sawi, sayurnya dibungkus kemudian disebarkan lewat media sosial kemudian ada yang mau beli," katanya.

Uang pembelian tersebut, kata Arie, digunakan untuk perawatan tanaman buah dan sayur warga sendiri.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved